Sukses

Dampak Kabut Asap pada Industri Pariwisata Thailand

Liputan6.com, Jakarta - Thailand dikenal memiliki beragam destinasi wisata terkenal seperti Bangkok, Phuket dan Chiang Mai. Namun sayang, pariwisata Negeri Gajah Putih ini tengah mengalami penurunan jumlah wisatawan akhir-akhir ini karena polusi yang menyelimuti Thailand.

Dilansir dari Asiaone.com, Minggu (26/1/2020), Association of Thai Travel Agents (ATTA) menjelaskan polusi udara dan mata uang Baht yang sedang naik menjadi penyebab berkurangnya jumlah wisatawan asing tahun ini.

Tetapi menurut Presiden ATTA Vichit Prakobgosol, hal ini merupakan masalah yang sama dan berulang pada setiap awal tahun. Ia juga mengungkapkan dirinya optimis bahwa masalah ini dapat diselesaikan dan mengembalikan pariwisata Thailand.

"Faktor negatif utama adalah apresiasi Baht Thailand. Mungkin menurunkan jumlah wisatawan tahun ini menjadi di bawah target 41 juta sampai 42 juta. Kami mengharapkan 29 Bath Thailand per dolar AS, turun dari 30 Bath saat ini," katanya.

"Selain itu, polusi debu yang tebal juga mengganggu wisatawan. Mereka pasti tidak akan merasa aman jika penduduk setempat mengenakan masker muka," ungkap Vichit.

Dikabarkan pula bahwa pemerintah Malaysia telah membebaskan visa bagi wisatawan Tiongkok dan India. Jika itu benar, Thailand akan kehilangan sejumlah besar pendapatan karena Tiongkok adalah pelanggan utamanya.

2 dari 3 halaman

Perubahan Seputar Wisata di Thailand

Pariwisata Thailand yang menurun berdampak pula pada bisnis-binis yang biasanya dibutuhkan seperti misalnya penginapan. Hal tersebut disampaikan oleh presiden Thai Hotels Association, Supawan Tanomkieatipume.

Ia menambahkan tingkat hunian rata-rata di hotel turun menjadi 70 sampai 75 persen tahun lalu. Hal ini dirasa cukup banyak jika dibandingkan perolehan sebelumnya yang hanya turun sampai dengan 80 persen.

Selain apresiasi baht, Supawan juga menambahkan hal lain yang berdampak pada bisnis penginapan, yaitu pemesanan dengan cara online.

"Sekarang ada banyak orang yang bepergian sendiri dan bahkan lebih banyak orang yang memesan secara online karena lebih nyaman dan lebih murah daripada memesan melalui agen. Jadi operator hotel Thailand perlu mengikuti gangguan digital yang memengaruhi perilaku pelanggan mereka," ujarnya.

Supawan juga mengatakan hotel harus lebih menerima pemesanan online dan bahkan mungkin menolak pemesanan yang dilakukan melalui agen. "Mereka mungkin perlu mengatur promosi atau mengurangi tarif kamar," tambahnya. (Adhita Diansyavira)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Imbas Virus Corona, Jumlah Wisatawan di Bintan Turun 50 Persen
Artikel Selanjutnya
Dampak Virus Corona, Indonesia Bakal Kehilangan Pendapatan Rp 185 Triliun