Sukses

Protes Gadis Inggris Gara-Gara Ditanyai Petugas Usai Bolak-balik ke Kamar Mandi Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta - Seorang gadis berusia 13 tahun ditanyai oleh staf kafe apakah dirinya menggunakan narkoba. Pertugas bertanya karena gadis itu terlihat bolak-balik ke kamar mandi disabilitas, padahal tidak terlihat cacat sedikit pun.

Melansir dari Metro UK pada Kamis, 24 Oktober 2019, Amber Davies, gadis pengguna kantong ostomi karena menderita kolitis ulserativa (radang usus besar) mengirim surat protes terbuka kepada pihak The Dragon Inn JD Wetherspoon di Birmingham.

Ia tidak terima karena dirinya dituduh sebagai pengguna narkoba atau berhubungan seks di kamar mandi oleh petugas kafe. Petugas menuduhnya karena ia tidak terlihat seperti orang cacat sama sekali, padahal ia terlihat bolak-balik ke kamar mandi disabilitas.

Suratnya menjadi viral lantaran ia menyinggung soal kondisinya. Ia sangat sedih dengan tuduhan tak berdasar orang lain hanya karena ia tak terlihat seperti orang cacat. Keberadaan kamar mandi disabilitas membantunya beradaptasi dengan kantung ostominya ketika di luar rumah.

Setelah surat terbuka tersebar, pihak Wetherspoon segera meminta maaf. Mereka bahkan langsung memasang tanda peringatan disabilitas di setiap fasilitas publiknya dengan tulisan 'Tidak Semua Cacat Terlihat'.

"Saya senang sekali ketika surat saya direspon dan melihat di setiap sudut Wetherspoon terdapat peringatan yang saya protes," kata Amber.

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 3 halaman

Jargon Baru

Setelah kasus tersebut terkuak, banyak komunitas kesehatan IBD, Stoma dan lainnya ikut merespon bahkan memintanya berbagi pengalamannya secara detail. Namun, ia menolak permintaan itu lantaran wawancara dilakukan secara umum di tempat terbuka.

Amber mengaku protes yang dilakukannya bukan untuk diumbar. Ia masih menjaga jarak karena menganggap penyakit yang dideritanya sebagai aib. Bukan hanya sendiri, hampir 49 persen pemilik disabilitas merasa takut untuk datang ke restoran, karena takut didiskriminasi.

Meski begitu, Amber sangat setuju dengan kampanye 'Tidak Semua Cacat Terlihat' di Inggris yang diselenggarakan oleh lembaga kesehatan Crohn's and Colitis. Ia berharap kampanye tersebut bisa memberi perubahan seperti yang diusulkan, terutama pemahaman dan perilaku orang-orang.

"Melalui platform media sosial, saya akan terus transparan pada cacat tersembunyi yang saya alami, sampai masyarakat bisa memahami secara inlusif apa yang dimaksud dengan cacat tak terlihat," kata Amber. (Ossid Duha Jussas Salma)

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Anggar Kursi Roda, Pilihan Olahraga untuk Difabel
Artikel Selanjutnya
Dilema Juru Bahasa Isyarat, Antara Profesi dan Sukarela