Sukses

Dari Aceh sampai Lampung, Ini Dia Perjuangan Finalis Puteri Indonesia dari Pulau Sumatera

Liputan6.com, Jakarta Pulau Sumatera merupakan pulau terbesar paling barat di Nusantara. Ya, Sumatera juga tercatat sebagai pulau ke-6 terbesar di seluruh dunia. Pulau dengan luas sekitar 472.481 km2 diisi oleh berbagai macam ragam budaya, suku, dan bahasa.  

Pengaruh iklim yang berbeda walaupun satu pulau menciptakan karakter atau sifat berbeda-beda. Pulau yang serumpun dengan negara tetangga yaitu Malaysia ini memang memiliki sedikit kesamaan, meskipun begitu orang  Sumatera tetap memiliki ciri khasnya masing-masing terutama dalam hal karakter. Contohnya, orang Medan terkenal lantang dalam berbicara dan pekerja keras dan orang Minang yang terkenal gigih dalam bekerja.

Para wanita dari suku-suku di Sumatera pun tak jauh berbeda dengan para pria, sifat itu juga yang membawa mereka sukses dalam menekuni pendidikan  maupun pekerjaan. Hal itu terlihat dari latar belakang  10 peserta Putri Indonesia 2019 asal pulau Sumatera yang inspiratif dan membawa mereka menjadi finalis.

Aceh juga memiliki karakter wanita yang gigih, banyak pahlawan wanita berasal dari tanah rencong ini, sebut saja Cut Nyak Dien. Kegigihan tersebut kelihatannya diwariskan kepada Kenny Suwanda, salah satu finalis Puteri Indonesia. Terlahir di wilayah pesisir pantai, Kenny Suwanda menginspirasi masyarakat sekitar untuk menjaga kebersihan pantai.

Tak hanya itu, ia juga memberi pembinaan kepada pedagang untuk mengolah sampah menjadi barang yang memiliki nilai jual, pembinaan kepada nelayan untuk lebih bijak dalam menangkap ikan. Hal itu ia lakukan melalui komunitas bernama Thallasophiles Petro Dollar community yang didirikannya.

Lain halnya dengan Anoushka Bhuller, finalis Puteri Indonesia dari Sumatera Utara yang berprofesi sebagai dokter ini ingin mengedukasi tentang kebersihan dan pembagian pembalut kepada narapidana perempuan di Sumatera Utara, berangkat dari keprihatinan para napi wanita yang tak mampu membeli pembalut.

Wanita minang memang terkenal mandiri, itu juga tercermin dari Annissa Fitriana yang merupakan seorang Strategic Communication Consultant di sebuah perusahaan konsultan komunikasi. Ia ingin mneginspirasi lebih banyak lagi perempuan Indonesia untuk berani bermimpi besar melalui banyak hal seperti pelaku ekonomi kreatif.

Dua finalis dari Riau, yaitu Sabrina Woro Anggraini (Riau) dan Lycie Joanne (Riau) sama-sama cantik dan punya pengalaman unik. Sabrina yang sering diremehkan sebagai wanita yang menimba ilmu di sekolah sekarang malah mampu menaikkan taraf hidup masyarakt sekeliling dengn urban farming lewat komunitas yang ia bentuk bernama Kultara atau Kultur Nusantara. Sedangkan Lycie memiliki cita-cita luhurm yaitu berfokus pada pengajaran bahasa isyarat, ia berharap untuk dapat mengajarkan bahasa isyarat ke masyarakat luas agar tidak ada lagi keterbatasan komunikasi antara masyarakat dan teman teman tuna rungu.

Bila kelima finalis fokus pada peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar, Offie Dwi Natalia finalis asal Jambi fokus pada isu agama, ia ingin meminimalisir isu agama di masyarakat yang berpotensi menimbulkan konflik. Kalau finalis satu ini lahir dari kelurga petani, alh-alih merasa minder Helvana, finalis asal Sumatera Selatan justru berusaha meningkatkan para petani lewat program yang ia bentuk hasil pendidikannya di Institut Pertanian Bogor.

Darah seni yang mengalir di tubuh Nabila Permata Putri finalis asal Bengkulu membawanya ke aktivitas mulia, di mana karya seni yang ia buat dipergunakan untuk program charity. Ia pun giat mengampanyekan gerakan #SpeakUpLipUp, yaitu sebuah advokasi yang ditujukan kepada wanita supaya lebih percaya diri dengan apa yang mereka punya, bentuk tubuh, suku, ras manapun mereka berada, serta latar belakang dan pekerjaan mereka.  

Usia belia tak membatasi Ritasya Wellgreat membantu mengajar orang tua buta aksara. Di usia yang baru menginjak 18 tahun aksi peduli sesama ini ia fokuskan kepada para lansia yang masih bekerja keras namun memiliki keterbatasan dalam membaca. Luar biasa, bukan?

Finalis terakhir dari pulau Sumatera ialah Erika Dwi Alviana asal Lampung. Ia amat perhatian terhadap pemberdayaan wanita tani di desa. Ia mengadakan pelatihan-pelatihan pada Kelompok Wanita Tani (KWT), seperti penyuluhan tentang Rumah Pangan Lesatari (RPL) dan Urban Farming. Agroindustri pun berjalan dan meningkatkan taraf hidup wanita di sekitarnya. Bila berhasil menyabet gelar Puteri Indonesia saat ini ia berharap dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat yang lebih luas.

Luar biasa bukan cita-cita para wanita  finalis dari pulau Sumatera ini? Ya, kita nantikan saja siapa Puteri-puteri Sumatera yang akan bersinar di antara 39 finalis di malam Pemilihan Puteri Indonesia. Saksikan Malam Puncak Pemilihan Puteri Indonesia 2019 Live di @SCTV dan Live Streaming di @Vidio.com2019 tanggal 8 Maret 2019 nanti.

 

(Adv)