10 Muharram Ada Peristiwa Apa Saja? Simak dari Zaman Nabi Adam hingga Cucu Rasulullah

Dalam tradisi Islam, Hari Asyura begitu istimewa. Pertanyaan yang kerap muncul, 10 Muharram ada peristiwa apa saja?

Diterbitkan 18 Juni 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam khazanah Islam, hari Asyura disambut sebagai hari istimewa, di mana umat Islam dianjurkan berpuasa dan melaksanakan berbagai amalan sunnah. Hal ini terkait dengan sejarah 10 Muharram itu sendiri. Pertanyaan yang kerap muncul, 10 muharram ada peristiwa apa?

Pertanyaan ini relevan mengingat hari ini begitu agung. Hari ini juga merupakan salah satu hari yang disebut sebagai hari kemenangan tauhid. Hal itu terkait dengan kelolosan sekaligus kemenangan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran balatentara Firaun.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha'if al-Ma'arif menguraikan bahwa Asyura diistimewakan secara khusus karena menjadi saksi utama keselamatan para utusan Allah dari berbagai krisis di zaman tersebut. Mengenang lembaran sejarah pada hari mulia ini diharapkan memperkuat ketakwaan untuk memperbanyak amal shalih.

Merangkum berbagai sumber klasik dan kontempoer, artikel ini akan mengulas berbagai peristiwa besar pada 10 Muharram di zaman nabi terdahulu hingga masa Nabi Muhammad SAW.

Para ulama klasik menghimpun riwayat mengenai peristiwa-peristiwa ini. Berikut ini di antaranya:

1. Diterimanya Taubat Nabi Adam AS

Peristiwa turunnya Nabi Adam dan Hawa ke bumi akibat memakan buah khuldi diiringi dengan fase penyesalan yang teramat panjang. Pada hari Asyura, Allah Subhanahu wa Ta'ala akhirnya menerima taubat manusia pertama tersebut.

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 37).

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Latha'if al-Ma'arif secara spesifik menyebutkan bahwa momentum penerimaan taubat Nabi Adam ini terjadi bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Hal ini menjadi simbol bahwa Asyura adalah hari yang sangat mustajab untuk melakukan taubat nasuha dan memohon ampunan dari segala dosa.

2. Berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh di Gunung Judi

Setelah bumi ditenggelamkan oleh banjir bah sebagai azab bagi kaum yang ingkar, bahtera penyelamat yang membawa Nabi Nuh beserta umatnya yang beriman akhirnya mendarat dengan selamat.

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ

"Dan difirmankan: 'Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,' dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi..." (QS. Hud: 44).

Dalam riwayat Imam Ahmad dari sahabat Abu Hurairah, disebutkan bahwa Nabi Nuh berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim dan Al-Bidayah wa an-Nihayah menguraikan bahwa keselamatan ini merupakan tonggak peradaban kedua umat manusia.

Para ulama berpendapat, keselamatan tersebut terjadi pada tanggal 10 Muharram, dan puasa syukur yang dilakukan Nabi Nuh menjadi akar sejarah dari ibadah puasa Asyura sebelum akhirnya disyariatkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad SAW.

3. Keselamatan Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dari Api Raja Namrud

Keberanian Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala Kesombongan Namrud dibalas dengan hukuman pembakaran hidup-hidup. Namun, hukum alam (api yang panas) tunduk pada perintah Penciptanya.

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

"Kami berfirman: 'Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim'." (QS. Al-Anbiya: 69).

Dalam literatur sejarah seperti Qashash al-Anbiya, para ulama menyebutkan bahwa intervensi langsung dari langit yang mengubah sifat api menjadi dingin dan menyelamatkan Sang Khalilullah (Kekasih Allah) ini bertepatan dengan kemuliaan hari Asyura. Peristiwa ini menegaskan Asyura sebagai hari kemenangan tauhid atas kemusyrikan.

4. Pembebasan Nabi Yusuf dari Penjara Mesir

Fitnah keji dari Zulaikha mengantarkan Nabi Yusuf ke balik jeruji besi selama bertahun-tahun. Kebebasannya bermula dari kemampuannya menakwilkan mimpi sang Raja Mesir, yang membuktikan integritas dan ketidakbersalahannya.

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ

"Dan raja berkata: 'Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku'..." (QS. Yusuf: 54).

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawi merangkum berbagai riwayat penderitaan para Nabi yang berujung pada kebahagiaan di hari Asyura, salah satunya adalah terbebasnya Nabi Yusuf dari penjara. Hari tersebut menjadi titik balik naiknya Nabi Yusuf menjadi bendaharawan negara yang adil.

5. Keselamatan Nabi Yunus 'Alaihissalam dari Perut Ikan

Nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya Ninawa ditelan oleh ikan Paus raksasa. Dalam tiga kegelapan (kegelapan malam, kegelapan dasar laut, dan kegelapan perut ikan), beliau merapal doa taubat yang menggetarkan 'Arsy.

فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Maka ia berseru dalam keadaan yang sangat gelap: 'Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim'." (QS. Al-Anbiya: 87).

Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa doa Dzun Nun (Nabi Yunus) ini diijabah oleh Allah SWT bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Ikan tersebut memuntahkan Nabi Yunus ke daratan dalam keadaan selamat, menjadikannya bukti bahwa Asyura adalah hari di mana doa-doa di saat krisis paling mendesak dikabulkan oleh Allah.

6. Kesembuhan Nabi Ayyub 'Alaihissalam dari Penyakit

Diuji dengan habisnya harta, meninggalnya keturunan, dan penyakit kulit menahun yang menggerogoti tubuhnya, Nabi Ayyub memegang rekor kesabaran tingkat tinggi tanpa pernah berprasangka buruk kepada Allah.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ

"Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang'. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya..." (QS. Al-Anbiya: 83-84).

Para ahli Tarikh (sejarah Islam) dan mufassir mencatat bahwa hari di mana Allah memerintahkan Nabi Ayyub menghentakkan kakinya ke tanah untuk memunculkan mata air penyembuh adalah hari Asyura. Ini menjadikan 10 Muharram identik dengan hari pengangkatan wabah dan kesembuhan.

7. Penyelamatan Nabi Musa dan Bani Israil

Di antara seluruh peristiwa di atas, kisah penyelamatan Nabi Musa dari kejaran bala tentara Fir'aun adalah peristiwa yang memiliki dalil paling shahih dan mutawatir dalam literatur hadits, serta menjadi landasan utama ditetapkannya sunnah puasa Asyura bagi umat Islam.

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara: 63).

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Nabi tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya, "Hari apa ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa berpuasa pada hari itu." Nabi bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa. (HR. Bukhari no. 2004).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Buku Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram serta Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa puasa Asyura pada mulanya adalah syariat kemutlakan bersyukur atas hancurnya Fir'aun.

Syariat ini kemudian disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW dengan anjuran menambah puasa Tasu'a (9 Muharram) untuk menegaskan kemandirian syariat Islam agar tidak menyerupai tata cara ibadah Yahudi. Keselamatan Nabi Musa inilah yang paling kuat mendasari "Hari Raya Spiritual" (tanpa pesta pora) umat Islam di tanggal 10 Muharram.

Peristiwa di Zaman Nabi SAW dan Setelahnya

Selain peristiwa para nabi terdahulu, tanggal 10 Muharram juga terkait erat dengan sejarah Nabi Muhammad ﷺ dan umat Islam.

1. Pensyariatan Puasa Asyura

Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau bertanya alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir'aun, dan Musa berpuasa sebagai rasa syukur.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."

Beliau pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Aisyah RA meriwayatkan bahwa orang-orang Quraisy pun telah terbiasa berpuasa pada hari Asyura sejak masa Jahiliyah.

2. Anjuran Menyelisihi Yahudi (Puasa Tasu'a)

Untuk membedakan umat Islam dari kebiasaan Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10, Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk berpuasa juga pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a). Beliau bersabda:

"Jika aku masih hidup hingga tahun depan, pasti aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda: "Puasalah pada hari Asyura dan bedakanlah diri kalian dengan kaum Yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau setelahnya." (HR. Ahmad)

3. Tragedi Karbala, Syahidnya Husain bin Ali

Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah (680 Masehi), terjadi peristiwa pilu yang mengguncang dunia Islam: gugurnya Husain bin Ali, cucu Rasulullah ﷺ, di Karbala. Penolakannya untuk membaiat Yazid bin Muawiyah—yang dinilai tidak layak secara moral dan spiritual untuk memimpin umat—berujung pada pengepungan dan pertempuran di Karbala.

Husain bersama keluarga dan pengikutnya yang setia diserbu oleh pasukan yang diperintah Ubaidullah bin Ziyad. Ia gugur sebagai syahid dalam keadaan terzalimi.

Peristiwa ini kemudian menjadi titik pemisah yang fundamental antara paham Sunni dan Syiah. Kaum Syiah menjadikan Asyura sebagai hari berkabung dan meratap dengan ritual-ritual tertentu, sementara kaum Sunni memandangnya sebagai tragedi kemanusiaan yang menyedihkan, namun tidak memerintahkan ritual berkabung tahunan karena tidak ada tuntunan dari Rasulullah.

Pertanyaan Seputar Peristiwa pada 10 Muharram

10 Muharram ada peristiwa apa saja?

Tanggal 10 Muharram (Hari Asyura) dikenal sebagai hari yang bersejarah dan penuh berkah dalam Islam. Banyak peristiwa besar terjadi pada hari ini, utamanya terkait keselamatan para Nabi dari ujian berat.

Peristiwa penting apa yang terjadi pada hari Asyura menurut sejarah Islam?

Pada hari Asyura juga Allah memberi taubat kepada Adam dan diampunkan dosa Nabi Daud, juga kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Asyura dan kiamat akan terjadi pada hari Asyura.”

Apa salah satu tragedi besar yang terjadi pada hari Asyura?

Dibunuhnya Sayyidina Husain di Karbala

Kisah kematian Husein cucu Nabi Muhammad SAW yang dipenggal dalam Tragedi Karbala 10 Muharram 61 Hijriah di Hari Asyura merupakan sejarah memilukan. Pembunuhan ini dilakukan oleh kelompok pro-khalifah pada masa itu. Yaitu pendukung Yazid bin Mu'awiyah.

Apa penyebab peristiwa Karbala?

Peristiwa Karbala (680 M) terjadi akibat penolakan tegas Imam Husain bin Ali (cucu Nabi Muhammad SAW) untuk berbaiat (sumpah setia) kepada Yazid bin Muawiyah sebagai Khalifah baru.