Apa Nama Puasa sebelum Idul Adha? Simak Penjelasan, Niat dan Tata Caranya

Dzulhijah adalah Asyhurul Hurum, di mana salah satu amalan utamanya adalah puasa sunnah di 10 hari pertama. Lantas, apa nama puasa sebelum Idul Adha itu?

Diterbitkan 25 Mei 2026, 04:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aidilqurban jatuh pada 10 Dzulhijah. Di antara amalan yang dianjurkan pada awal Dzulhijah adalah puasa sunnah. Lantas, apa nama puasa sebelum Idul Adha tersebut?

Bulan Dzulhijjah sendiri tergolong ke dalam Asyhurul Hurum atau bulan-bulan haram, di mana umat manusia dilarang untuk berperang kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak. Pada sepuluh hari pertama bulan ini, amal ibadah sunnah, termasuk berpuasa, memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:"Tidak ada hari di mana suatu amal saleh lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).

Merujuk Buku Bekal-Bekal Idul Adha karya Abu Salma al-Atsari dan Buku Saku Fikih Qurban (2022), Inisiatif Zakat Indonesia, artikel ini akan mengulas nama-nama puasa sebelum Idul Adha, termasuk tata caranya. Simak selengkapnya.

3 Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha

Puasa sunnah sebelum Idul Adha secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori utama yang pelaksanaannya tersebar di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

1. Puasa Dzulhijjah (Tanggal 1-7)

Puasa ini dilaksanakan pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, namun secara spesifik, banyak ulama yang menyebutkan pelaksanaan puasa ini hingga tanggal 7 Dzulhijjah. Anjuran untuk berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini sangat kuat, didasarkan pada sabda Rasulullah SAW:

"Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi amal saleh pada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijjah)." (HR. Bukhari)

Niat Puasa Dzulhijjah (Tanggal 1-7)

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala."

Tata cara pelaksanaan puasa sebelum Idul Adha sama dengan puasa sunnah lainnya, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar (waktu Subuh) hingga terbenam matahari (waktu Maghrib).

2. Puasa Tarwiyah (Tanggal 8 Dzulhijjah)

Nama "Tarwiyah" secara etimologi berasal dari kata tarawwa (تروى) yang berarti membawa bekal air. Ini merujuk pada tradisi para jamaah haji di masa lalu yang mempersiapkan persediaan air sebelum menuju Padang Arafah.

Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abus Syekh Al-Ishfahani, disebutkan bahwa:

"Puasa pada hari Tarwiyah akan menghapuskan (dosa) selama setahun dan puasa pada hari Arafah pula akan menghapuskan (dosa) selama dua tahun." (HR: Al-Dailami)

Niat Puasa Tarwiyah (Tanggal 8 Dzulhijjah)

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta'ala."

Tata cara pelaksanaan puasa sebelum Idul Adha sama dengan puasa sunnah lainnya, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar (waktu Subuh) hingga terbenam matahari (waktu Maghrib).

 

3. Puasa Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah)

Ini adalah puasa yang paling istimewa di antara ketiganya. Pada tanggal ini, para jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan haji, puasa Arafah menjadi amalan yang sangat dianjurkan karena keutamaannya yang luar biasa.

Rasulullah secara spesifik menjelaskan bahwa puasa pada hari Arafah memiliki keutamaan dapat menghapuskan dosa tahun lalu dan dosa pada tahun yang akan datang.

Niat Puasa Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah)

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma 'arafata sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala."

Tata cara pelaksanaan puasa sebelum Idul Adha sama dengan puasa sunnah lainnya, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar (waktu Subuh) hingga terbenam matahari (waktu Maghrib).

Hukum Puasa Arafah (9 Dzulhijah) Bagi yang Berhaji dan Tidak Berhaji

Terdapat perbedaan hukum pelaksanaan puasa pada 10 hari pertama Dzulhijjah, khususnya pada puasa Arafah, antara umat Islam yang tidak berhaji dengan jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji.

  • Bagi yang Tidak Berhaji: Hukum berpuasa sangat disunnahkan (sunnah muakkadah), terutama pada hari Arafah, untuk meraih keutamaan pengampunan dosa.
  • Bagi yang Sedang Berhaji (Wuquf di Arafah): Berpuasa pada hari Arafah bagi jamaah haji yang sedang wuquf pada dasarnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Hukum kemakruhan berpuasa bagi yang sedang wuquf memiliki rincian berdasarkan pandangan empat mazhab:

  • Malikiyah: Sangat dimakruhkan berpuasa Arafah bagi jamaah haji, dan disunnahkan untuk berbuka.
  • Hanafiyah: Makruh berpuasa jika hal tersebut dapat melemahkan fisik jamaah haji; jika tidak melemahkan, maka tidak makruh.
  • Syafi'iyah: Jika jamaah haji adalah musafir, secara mutlak disunnahkan untuk berbuka. Namun jika mereka mukim di Makkah dan berangkat ke Arafah pada malam hari, maka diperbolehkan berpuasa.
  • Hanabilah: Dimakruhkan berpuasa jika pelaksanaan wuquf dilakukan pada siang hari; disunnahkan berpuasa hanya jika wuqufnya di malam hari.

5 Keutamaan Amal dan Puasa di 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Pelaksanaan ibadah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah mendatangkan limpahan keutamaan, antara lain:

  • Amal Paling Dicintai Allah: Setiap amal ibadah sunnah, termasuk berpuasa, sedekah, dan membaca Al-Qur'an, dilipatgandakan pahalanya dan menjadi amal yang paling dicintai Allah melampaui amal di hari-hari lainnya.
  • Berada di Bulan Haram yang Mulia: Bulan Dzulhijjah memiliki kemuliaan khusus sebagai salah satu bulan haram, sehingga ibadah di dalamnya menempati kedudukan syiar yang sangat dihormati.
  • Pengguguran Dosa: Pelaksanaan ibadah puasa, khususnya Puasa Arafah, menjadi jalan khusus bagi terhapusnya catatan dosa setahun berlalu dan setahun ke depan.
  • Hari yang Dijadikan Sumpah oleh Allah: Keagungan sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini dibuktikan secara langsung di dalam Al-Qur'an, di mana Allah bersumpah “Demi fajar, dan malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr: 1-2) yang dimaknai oleh para mufassir sebagai sepuluh hari awal Dzulhijjah.
  • Peluang Penyempurnaan Ibadah Lain: Puasa di hari-hari ini menjadi penyempurna bagi ragam ibadah lain yang sangat dianjurkan, seperti memperbanyak zikir dengan tahlil, takbir muthlaq, takbir muqayyad, dan tahmid di berbagai kesempatan.

Pertanyaan Seputar Puasa Sebelum Idul Adha

Apa niat puasa 2 hari sebelum Idul Adha?

Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta'âlâ. Artinya, “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta'âlâ.”

Kapan puasa Tarwiyah dan Arafah?

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah, sedangkan puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Berdasarkan kalender Islam 2026/1447 H, jadwalnya adalah sebagai berikut:

  • Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Senin, 25 Mei 2026
  • Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Selasa, 26 Mei 2026

Berapa hari dianjurkan puasa Dzulhijjah?

Puasa Dzulhijjah dianjurkan untuk dikerjakan selama 9 hari, yaitu dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Umat Islam tidak diwajibkan berpuasa penuh selama 9 hari, namun melaksanakannya secara penuh merupakan amalan yang paling utama.

Apa niat puasa Arafah?

Niat puasa Arafah adalah "Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta'ala", yang artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala."