Tahukah Puasa 6 Hari pada Bulan Syawal Hukumnya Apa? Ini Penjelasannya

Ingin tahu puasa 6 hari pada bulan Syawal hukumnya apa dan keutamaannya? Simak panduan lengkapnya di bawah ini.

Diterbitkan 23 Maret 2026, 11:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Puasa 6 Hari pada Bulan Syawal Hukumnya sering menjadi pertanyaan umat Muslim setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri. Banyak yang ingin mengetahui apakah amalan ini wajib, sunnah, atau hanya sekadar anjuran biasa, mengingat puasa Syawal kerap dikaitkan dengan keutamaan pahala yang besar.

Puasa 6 Hari pada Bulan Syawal Hukumnya dalam Islam adalah sunnah yang sangat dianjurkan, terutama karena memiliki keutamaan seperti berpuasa sepanjang tahun. Oleh karena itu, memahami hukum dan tata cara pelaksanaannya menjadi penting agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan ajaran yang benar.

Simak penjelasannya di bawah ini, sebagaimana dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber pada Rabu (18/3/2026).

Hukum Puasa 6 Hari pada Bulan Syawal, Dalil, dan Keutamaannya

Puasa 6 hari pada bulan Syawal hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Anjuran ini didasari oleh berbagai keutamaan yang istimewa. Meskipun tidak wajib seperti puasa Ramadan, keutamaan dan pahala yang dijanjikan sangatlah besar, sehingga sangat disayangkan jika dilewatkan tanpa alasan yang syar'i. 

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.

 Artinya: "Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim).

Sesuai hadits tersebut, salah satu keutamaan terbesar Puasa Syawal adalah pahalanya yang setara dengan berpuasa selama setahun penuh. Selain itu, Puasa Syawal juga berfungsi sebagai penyempurna kekurangan yang mungkin ada dalam amalan puasa Ramadan.

Puasa Syawal juga melatih istiqamah dalam beribadah, menunjukkan kekonsistenan seorang muslim untuk melanjutkan kebaikan setelah Ramadan. Melaksanakan puasa Syawal juga menjadi bentuk rasa syukur atas anugerah dan ampunan yang telah diberikan Allah selama Ramadan, sekaligus memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.

Berikutnya puasa syawal memberikan manfaat kesehatan seperti membantu detoksifikasi tubuh, menjaga berat badan ideal, mengontrol nafsu makan, meningkatkan sistem imun, serta meningkatkan fokus dan kesehatan mental. Sungguh, teramat merugi bagi siapa saja yang melewatkan puasa Syawal dengan segala keberkahannya.

Kapan Pelaksanaan Puasa Syawal?

Puasa 6 hari pada bulan Syawal dapat dilaksanakan kapan saja selama bulan Syawal, kecuali pada tanggal 1 Syawal (Hari Raya Idulfitri) yang diharamkan untuk berpuasa. Hari pertama Syawal adalah hari kemenangan dan bersuka cita, sehingga berpuasa pada hari tersebut dilarang. Waktu pelaksanaan puasa Syawal dimulai setelah Hari Raya Idulfitri, yaitu mulai tanggal 2 Syawal hingga akhir bulan Syawal.

Meskipun fleksibel, ada beberapa pandangan mengenai waktu terbaik pelaksanaannya. Waktu yang paling utama adalah melaksanakannya secara berturut-turut, dimulai dari tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal.

Namun, puasa Syawal juga boleh dilakukan secara terpisah-pisah atau tidak berurutan selama masih dalam bulan Syawal. Keutamaan pahala setahun penuh tetap akan didapatkan meskipun tidak berurutan, asalkan jumlah hari puasa mencapai enam hari. 

Niat Puasa Syawal

Niat puasa Syawal dapat dilafalkan pada malam hari sebelum berpuasa atau pada siang hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Penting untuk memastikan niat ini terucap dalam hati sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.

Niat Puasa Syawal di Malam Hari

 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالى

Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala.

Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT."

Niat Puasa Syawal 6 Hari Berturut-Turut

Jika puasa Syawal bisa dilakukan berturut-turut, ini bacaan niatnya sebagaimana mengutip buku Kedahsyatan Puasa oleh M. Syukron Maksum:

نَوَيْتُ صَوْمَ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنَ الشَّوَّالِ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitu sauma sittati ayyamin minasy syawwali lillahi ta’ala.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku niat puasa enam hari di bulan Syawal karena Allah Ta’ala."

 

 

Puasa Qadha Ramadan dan Puasa Syawal: Mana yang Didahulukan?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan umat Muslim adalah mengenai prioritas antara puasa qadha Ramadan (puasa wajib) dan puasa 6 hari pada bulan Syawal (puasa sunnah), terutama bagi mereka yang masih memiliki utang puasa Ramadan. Perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai masalah ini perlu dipahami dengan baik.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa qadha Ramadan harus didahulukan karena hukumnya wajib. Untuk mendapatkan pahala puasa Syawal secara sempurna (seperti puasa setahun penuh), seseorang harus terlebih dahulu menyelesaikan puasa Ramadan secara penuh. Jika seseorang melaksanakan puasa Syawal sebelum mengqadha Ramadan, ia tidak akan mendapatkan pahala puasa setahun penuh karena puasa Ramadannya belum sempurna.

Oleh karena itu, disarankan untuk mendahulukan penyelesaian puasa qadha Ramadan, baru kemudian melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Namun, beberapa ulama, khususnya dari mazhab Syafi'iyah seperti Ibnu Hajar al-Haitami dan Syekh Ar-Ramli, membolehkan menggabungkan niat puasa qadha Ramadan dengan puasa Syawal. Dengan demikian, seseorang bisa mendapatkan pahala qadha dan pahala puasa Syawal, meskipun mungkin tidak mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh secara sempurna. Ini memberikan kelonggaran bagi mereka yang ingin memanfaatkan momentum Syawal namun masih memiliki kewajiban qadha.

Ada juga pandangan yang membolehkan mendahulukan puasa Syawal jika jumlah qadha sangat banyak dan dikhawatirkan tidak sempat melaksanakan puasa Syawal karena waktunya terbatas.

Imam Al-Kasani dalam kitabnya Al-Badai' wa As-Shanai' menjelaskan bahwa kewajiban membayar utang puasa Ramadan memiliki waktu yang panjang dan longgar (al-wajib ala at-tarakhi), tidak harus di bulan Syawal. Bahkan, Aisyah RA, istri Nabi SAW, terbiasa mengakhirkan qadha puasanya hingga bulan Sya'ban, menunjukkan bahwa beliau tetap menjalankan puasa-puasa sunnah sebelum melunasi utang puasa Ramadan.

Meskipun ada perbedaan pendapat, disarankan untuk mendahulukan qadha puasa Ramadan demi memastikan kewajiban terpenuhi dan meraih pahala puasa Syawal secara sempurna. Namun, jika ada kekhawatiran tidak sempat melaksanakan puasa Syawal, maka mendahulukan puasa Syawal atau menggabungkan niat bisa menjadi pilihan.

Dengan memahami hukum dan keutamaannya, serta berbagai pandangan ulama terkait prioritas, umat Muslim diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan emas ini untuk terus meningkatkan ketakwaan dan meraih ridha Allah SWT, baik melalui puasa wajib maupun sunnah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa hukum puasa 6 hari pada bulan Syawal?

Hukumnya adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam.QBerapa lama puasa Syawal dilaksanakan?APuasa Syawal dilaksanakan selama enam hari.

2. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan puasa Syawal?

Waktu terbaik adalah segera setelah Idulfitri, yaitu mulai tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal secara berturut-turut, namun boleh juga dilakukan secara terpisah-pisah selama bulan Syawal.

3. Apa keutamaan utama puasa Syawal?

Keutamaan utamanya adalah mendapatkan pahala seperti berpuasa setahun penuh, menjadi penyempurna puasa Ramadan, dan melatih konsistensi ibadah.

4. Mana yang harus didahulukan antara puasa qadha Ramadan dan puasa Syawal?

Mayoritas ulama menganjurkan untuk mendahulukan puasa qadha Ramadan karena hukumnya wajib, agar mendapatkan pahala puasa Syawal secara sempurna. Namun, ada pendapat yang membolehkan menggabungkan niat atau mendahulukan Syawal dalam kondisi tertentu.

5. Apakah puasa syawal harus dilaksanakan berturut-turut?

Tidak harus, boleh dilakukan terpisah.