Latih Persiraja Banda Aceh, Jaya Hartono Rasakan Ramadan Berbeda di Aceh

Pelatih Persiraja Banda Aceh, Jaya Hartono, terkesan dengan suasana religius Aceh selama Ramadan yang membuatnya lebih fokus beribadah dan menjalankan tugas.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelatih Persiraja Banda Aceh Jaya Hartono membagikan pengalaman pribadi yang sangat berkesan mengenai suasana bulan suci Ramadan saat berada di Serambi Mekkah.

Menurut pelatih senior ini, menjalankan ibadah puasa di Aceh memberikan nuansa yang sangat berbeda dan jauh lebih tenang dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang pernah ia singgahi sebelumnya.

Ia mengamati secara langsung bagaimana seluruh lapisan masyarakat di Aceh memiliki kesadaran yang sangat tinggi untuk menghormati bulan suci dengan cara tidak melakukan aktivitas jual beli makanan atau minuman pada siang hari secara terbuka.

Jaya Hartono merasa sangat terbantu dengan kondisi lingkungan yang tertib dan religius tersebut, sehingga ia dapat tetap fokus menjalankan tugas-tugas profesionalnya sebagai pelatih sepak bola sambil tetap menunaikan kewajiban ibadahnya dengan penuh kekhusyukan tanpa hambatan yang berarti.

Kondisi Minim Godaan di Siang Hari

Salah satu poin utama yang ditekankan oleh Jaya Hartono adalah minimnya godaan fisik selama ia berada di Aceh pada siang hari.

Ia menjelaskan bahwa hampir tidak ada pedagang yang menjajakan makanan atau minuman di pinggir jalan sebelum waktu berbuka tiba.

“Suasana Ramadannya di sini tidak ada godaan. Kalau saya jalan, tidak ada orang jualan. Jadi tidak ada godaan kecuali orang jual takjil, itu pun sudah sore,” ujar Jaya.

Kondisi ini menurutnya sangat unik dan jarang ditemukan di tempat lain, di mana biasanya masih banyak aktivitas kuliner yang terlihat.

Tradisi Berburu Takjil di Sore Hari

Meskipun suasana di siang hari sangat sepi dari aktivitas kuliner, Jaya Hartono mencatat bahwa dinamika masyarakat baru mulai berubah ketika waktu mendekati berbuka puasa.

Keramaian pedagang hanya terlihat saat mereka mulai menggelar dagangan takjil atau makanan berbuka di sore hari.

Ia melihat fenomena ini sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat yang tetap meriah namun tetap dalam koridor aturan yang berlaku, di mana perdagangan makanan baru diperbolehkan saat waktu ibadah puasa hampir berakhir untuk hari itu.

Kesan Terhadap Suasana Religius Aceh

Secara keseluruhan, Jaya Hartono merasa kagum dengan atmosfer religius yang sangat kental di Aceh selama bulan Ramadan.

Ia menilai bahwa kedisiplinan warga dalam mengikuti aturan daerah dan norma agama menciptakan lingkungan yang sangat nyaman bagi umat Muslim.

Pengalaman melatih Persiraja di tengah budaya Aceh yang menjunjung tinggi kesucian bulan Ramadan memberikan kesan mendalam baginya, karena ia bisa merasakan secara langsung bagaimana nilai-nilai religi diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.