Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur’an tentang kewajiban menuntut ilmu menjadi bukti bahwa Islam menempatkan ilmu pengetahuan pada posisi yang sangat terhormat dan fundamental. menjadi dasar bahwa dalam perspektif Islam, tiap muslim wajib berilmu.
Merujuk Jurnal Analisis Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam Perpspektif Al-Qur’an dan Hadis oleh Lingga Fahrurrosi, dkk, sebagai agama yang sempurna, Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk beribadah secara ritual, tetapi juga menekankan pentingnya intelektualitas.
Kewajiban menuntut ilmu dalam Islam ditegaskan dalam Al-Qur'an dan Hadis, di mana ilmu dianggap sebagai kunci untuk memahami alam semesta, meningkatkan kualitas hidup, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Advertisement
Berikut ini adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang menjadi landasan kewajiban menuntut ilmu beserta penafsiran para ulama.
1. QS. Al-Alaq [96]: 1-5 (Perintah Membaca sebagai Pintu Ilmu)
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ini adalah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Kata perintah "Iqra" (Bacalah) diulang dua kali, menegaskan bahwa aktivitas membaca, menelaah, dan meneliti adalah kunci utama pembuka ilmu pengetahuan.
Allah juga menyebut "Pena" (Al-Qalam), yang menyimbolkan kewajiban mencatat dan mendokumentasikan ilmu.
Dalam Kitab Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (Tafsir Ath-Thabari), Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa perintah membaca ini tidak terbatas pada ayat suci saja, tetapi mencakup membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Beliau menekankan bahwa Allah memuliakan manusia dengan ilmu yang diajarkan melalui sarana tulis-menulis (pena), yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Advertisement
2. QS. At-Taubah [9]: 122 (Kewajiban Tafaqquh Fiddin)
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: "Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."
Ayat ini adalah dalil terkuat mengenai kewajiban pembagian tugas dalam umat Islam. Menuntut ilmu disetarakan dengan jihad di medan perang. Jika jihad fisik hukumnya Fardhu Kifayah, maka menuntut ilmu (mendalami agama) juga merupakan Fardhu Kifayah yang sangat krusial untuk menjaga kelangsungan syariat.
Dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah landasan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban kolektif. Beliau menafsirkan bahwa harus ada sekelompok orang yang khusus mendedikasikan diri untuk belajar (Tafaqquh), sehingga ketika para pejuang atau pekerja pulang, para penuntut ilmu ini dapat membimbing dan mengajarkan hukum-hukum Allah kepada masyarakat.
3. QS. Al-Mujadilah [58]: 11 (Derajat Orang Berilmu)
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: "...Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini adalah motivasi ilahiah. Allah menjanjikan dua sayap kemuliaan: Iman dan Ilmu. Orang beriman yang berilmu memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan orang beriman yang tidak berilmu. Kenaikan derajat ini berlaku di dunia (kepemimpinan, penghormatan) dan di akhirat (posisi di surga).
Dalam Kitab Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Imam Al-Qurtubi mengutip perkataan Ibn Mas'ud bahwa ayat ini adalah ayat yang paling memotivasi untuk menuntut ilmu. Beliau menjelaskan makna "darajat" (derajat-derajat) bukan hanya satu tingkat, tetapi tingkatan yang jauh dan banyak, yang menunjukkan betapa agungnya kemuliaan yang Allah siapkan bagi para penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Advertisement
4. QS. Taha [20]: 114 (Doa Meminta Tambahan Ilmu)
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Artinya: "Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”"
Meskipun Nabi Muhammad SAW sudah diberikan wahyu, Allah tetap memerintahkan beliau untuk berdoa meminta tambahan ilmu. Ini mengisyaratkan bahwa proses menuntut ilmu tidak memiliki garis finis. Selama hayat masih dikandung badan, kewajiban belajar (menambah ilmu) terus berlaku.
Dalam Kitab Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari), Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani memberikan komentar yang sangat masyhur terkait ayat ini: "Firman Allah ini (Rabbi Zidni 'Ilma) adalah dalil yang sangat jelas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan ('ziyadah') terhadap sesuatu apa pun, kecuali tambahan dalam hal ilmu."
5. QS. Az-Zumar [39]: 9 (Perbedaan Orang Berilmu dan Jahil)
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: "Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
Ayat ini menggunakan metode Istifham Inkari (pertanyaan retoris untuk menyangkal). Jawabannya pasti: "Tidak sama". Ketidaksamaan ini mencakup segala aspek: cara berpikir, cara mengambil keputusan, kualitas ibadah, hingga ketakwaan kepada Allah.
Menuntut ilmu adalah proses mengubah diri dari golongan "yang tidak mengetahui" menjadi golongan "yang mengetahui".
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Kitab Taysir Karimir Rahman menjelaskan bahwa ketidaksamaan ini adalah mutlak. Orang yang berilmu mengetahui hakikat kebenaran, membedakan yang haq dan batil, serta memahami tujuan penciptaan.
Sementara orang jahil (bodoh) hidup dalam kegelapan. Beliau menegaskan bahwa hanya Ulul Albab (orang yang memiliki akal sehat/berilmu) yang mampu menyadari perbedaan vital ini, sehingga mereka akan terus berusaha menuntut ilmu.
Advertisement
Menuntut Ilmu sebagai Kewajiban Kolektif
Salah satu dalil utama yang sering diklaim oleh mayoritas ulama sebagai landasan dasar kewajiban mencari ilmu adalah Surah At-Taubah ayat 122, yang artinya: "Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (QS. At-Taubah [9]: 122) .
Dalam menafsirkan ayat ini, terdapat pandangan para ulama mengenai status hukum menuntut ilmu.
Dalam penjelasannya, Wahbah Az-Zuhaili mengutip pandangan Al-Qurtubi bahwa secara implisit ayat ini merupakan ajakan (al-hats) untuk menuntut ilmu. Namun, perintah (amar) dalam ayat ini tidak secara langsung membebankan kewajiban individu (fardhu ain) kepada setiap orang secara mutlak, melainkan lebih mengarah pada kesunnahan atau anjuran.
Ayat ini juga dimaknai sebagai perintah untuk keluar (khuruj) menuntut ilmu. Konteks "wajib" yang dimaksud dalam ayat ini adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Artinya, harus ada sebagian umat Islam yang mendedikasikan diri untuk mendalami agama sementara sebagian lainnya menjalankan tugas lain (seperti berjihad atau bekerja), sehingga tidak semua orang harus pergi menuntut ilmu di tempat yang jauh secara bersamaan.
Jika sebagian orang sudah menguasainya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Contoh ilmu ini meliputi ilmu kedokteran, pertanian, teknik, mitigasi bencana, dan ilmu pengetahuan umum lainnya yang berfungsi meningkatkan kelayakan hidup manusia.
Landasan Kewajiban Mengenal Tuhan (Ma'rifatullah)
Sebelum mempelajari ilmu-ilmu cabang, para ulama sepakat bahwa ilmu pertama yang wajib dipahami adalah pengetahuan dan pengakuan tentang keberadaan Tuhan. Landasan dari pandangan ini antara lain merujuk pada isyarat dalam QS. Muhammad ayat 19 dan QS. Ibrahim ayat 52.
Penjelasan ulama Al-Ramli Al-Kabir, beliau menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Tuhan adalah hal paling awal yang harus dipahami oleh manusia yang sudah baligh dan berakal (mukallaf). Alasannya adalah pengetahuan tentang keberadaan Allah merupakan pondasi dari segala bentuk peribadatan.
Tanpa ilmu ini (Tauhid), segala peribadatan yang dilakukan manusia tidak dianggap sah secara total. Yang dimaksud pengetahuan di sini adalah mengetahui secara global bukti-bukti keberadaan Tuhan dan meyakininya di dalam hati sanubari.
Advertisement
Klasifikasi Ilmu dan Kewajiban Mukallaf
Menurut Para UlamaSelain analisis per ayat, para ulama juga mengklasifikasikan kewajiban menuntut ilmu berdasarkan kebutuhan manusia (mukallaf) agar sesuai dengan tuntutan Al-Qur'an dan Hadis.
1. Pandangan Al-Zarnuji (Kitab Ta’lim al-Muta’allim)
Menurut Al-Zarnuji, ilmu pertama yang wajib dipelajari seorang Muslim adalah Ilmu al-Hal, yaitu ilmu yang berhubungan dengan keadaan dirinya saat itu. Ini meliputi pondasi agama (ushul al-din), fiqh, dan keimanan. Hal ini karena seorang Muslim tidak mungkin dapat melaksanakan kewajiban pribadinya (seperti shalat atau puasa) tanpa mengetahui ilmunya terlebih dahulu.
2. Pandangan Imam Al-Ghazali (Kitab Ihya' Ulum al-Din)
Imam Al-Ghazali memberikan pemetaan yang sangat komprehensif mengenai kewajiban menuntut ilmu, membaginya menjadi: Fardhu Ain (Kewajiban Individu), yakni ilmu yang wajib dipahami oleh setiap individu Muslim secara personal. Al-Ghazali membaginya lagi berdasarkan tuntutan kondisi:
- Ilmu Syahadat: Kewajiban memahami dan meyakini dua kalimat syahadat.
- Ilmu Fi'lu (Perbuatan): Ilmu tentang perintah Tuhan yang wajib dilakukan, seperti tata cara shalat, zakat, dan puasa.
- Ilmu Tarku (Meninggalkan): Ilmu tentang larangan Tuhan yang harus ditinggalkan, seperti mengetahui keharaman zina, makanan haram, atau pakaian sutra bagi laki-laki.
- Ilmu I'tiqad (Keyakinan): Ilmu untuk menghilangkan keraguan di hati terhadap keberadaan Tuhan hingga mencapai keyakinan penuh.
People also Ask:
Quran surat apa yang menjelaskan tentang kewajiban menuntut ilmu?
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya: Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.
(QS. Ali Imran ayat 7).
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ apakah makna dari hadits di atas?
"خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وعَلَّمَهُ" (Khairukum man ta'allamal Qur'ana wa 'allamah) artinya adalah "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya", yang diriwayatkan oleh (Imam Bukhari).
Maknanya menegaskan keutamaan luar biasa bagi mereka yang tidak hanya belajar Al-Qur'an (membaca, memahami, menghafal, mengamalkan), tetapi juga menyebarkannya kepada orang lain, menunjukkan kedudukan mulia di sisi Allah SWT.
Apa keutamaan menuntut ilmu dari QS Al Mujiadalah ayat 11?
Pada Q.S Al-Mujadalah ayat 11 tersebut menegaskan bahwa orang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah Subhanallahuwata' ala serta di kehidupan bermasyarakat.
Apa yang dijanjikan Allah dalam QS At Taubah ayat 122 bagi orang yang menuntut ilmu?
Adapun motivasi belajar dalam Al-Qur'an Surat. At-Taubah Ayat 122 Kajian Ilmu Pendidikan Islam bahwa Allah SWT memotivasi manusia untuk memperdalam Ilmu agama atau belajar, bahkan Allah SWT memberikan pahala yang sama antara orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang menuntut Ilmu.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295706/original/066644800_1783939615-cek_fakta_-_prasetyo_hadi_umumkan_dana_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386547/original/066727900_1761015548-Membaca_Al-Qur_an.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3274937/original/075776800_1603351599-photo-1561399452-bdcd36b25b38__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3403868/original/053333500_1615977525-quran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532112/original/098919800_1773642523-Halal_Bihalal_Keluarga__Gemini_AI_.jpg)