Doa Bilal di Antara Dua Khutbah Arab Latin Arti, Simak Tugas dan Sejarah Muraqqi

Peran sentral bilal dimulai sebelum khutbah, di antara dua khutbah, dan setelah khutbah kedua. Simak ulasannya

Diterbitkan 07 Desember 2025, 04:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doa bilal di antara dua khutbah dalam sholat Jumat ahlussunah wal-jamaah menjadi tugas penting tarqiyyah (muraqqi) yang merujuk tradisi syafi'iyah. Aktivitas tarqiyyah (muraqqi) berfungsi sebagai panduan dan penghubung antara jemaah dengan khatib dan imam.

Peran sentral Bilal dimulai sebelum khutbah, di antara dua khutbah, dan setelah khutbah kedua. Di antara dalil yang menejadi dasar peran bilal adalah hadis riwayat Bilal RA, yang artinya:

“Dari Bilal bin Rabbah Ra., bahwa Rasulullah Saw. berkata kepadanya saat pagi hari di Mina: “Wahai Bilal, suruh orang-orang untuk diam” (HR Ibnu Majah, sanadnya sahih).

Imam As-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Ibnu Majah menjelaskan, hadis ini menjadi dalil bolehnya menunjuk seseorang untuk menertibkan jamaah (bilal/muraqqi), baik dalam ibadah maupun kegiatan keagamaan lainnya. Tujuannya adalah menciptakan suasana tenang sehingga kaum muslimin dapat menerima tuntunan Nabi SAW tanpa gangguan.

Berikut ini adalah doa bilal di antara dua khutbah, lengkap dengan penjelasan mengenai tugas bilal dan hukumnya, serta bacaan lengkap bilal dalam khutbah Jumat.

Doa Bilal di Antara Dua Khutbah

Doa bilal di antara dua khutbah Jumat memiliki teks khusus yang dibacakan saat khatib duduk sejenak antara khutbah pertama dan kedua. Bacaan ini mengandung shalawat Nabi SAW dan doa untuk umat Islam secara keseluruhan.

Melansir laman NU Banyumas, berikut adalah bacaan lengkap doa bilal diantara dua khutbah Jumat:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ، وَزِدْوَاَنْعِمْ وَتَفَضَلْ وَبَارِكْ ، بِجَلَالِكَ وَكَمَالِكَ عَلٰى زَيْنِ عِبَادِكْ ، وَاَشْرَفِ عِبَادِكَ ، سَيِّدِاْلعَرَبِ وَاْلعَجَمِ ، وَاِمَامِ طَيْبَةَوَاْلحَرَمِ ، سَيِّدِنَاوَمَوْلَانَا مَحَمَّدٍ وَّعَلىٰ آلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىٰ عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ

Latin: Allahumma sholli wa sallim, wa zid waan'im wa tafaddzol wa baarik, bijalaalika wa kamaalika 'alaa zaini 'ibaadik, wa asyrofi 'ibaadik, sayyidil 'arabi wal 'ajami, wa imaami thoibati wal haromi, sayyidinaa wa maulaanaa muhammadiw wa'alaa aalihii wa sohbihii wa sallim wa rodhiyallaahu tabaaroka wa ta'aalaa 'an kulli shohaabati rosuulillaahi ajma'iin.

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam, tambahkanlah nikmat, anugerahkanlah karunia dan berkahilah dengan keagungan dan kesempurnaan-Mu kepada perhiasan hamba-hamba-Mu dan yang paling mulia di antara hamba-hamba-Mu, pemimpin bangsa Arab dan non-Arab, imam Madinah dan tanah haram, yaitu pemimpin kami dan pelindung kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. Dan semoga Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi meridhai semua sahabat Rasulullah."

Pada praktiknya, bilal juga dapat membaca sholawat nabi pendek mempertimbangkan berbagai kondisi saat sholat Jumat berlangsung.

Tugas Bilal Sholat Jumat

Tugas utama Bilal (atau muraqqi) dalam pelaksanaan Sholat Jumat, khususnya dalam tradisi NU, adalah memimpin rangkaian acara pra-khutbah, khutbah, hingga persiapan shalat dimulai.

Berikut adalah tugas-tugas bilal dalam sholat Jumat:

  • Mengumandangkan Azan Pertama: Dilakukan saat waktu shalat Jumat tiba. Azan ini berfungsi sebagai pemberitahuan kepada jemaah bahwa waktu shalat telah masuk dan mengajak mereka untuk segera bersiap.
  • Mengantarkan Khatib Naik Mimbar: Setelah jemaah selesai melaksanakan shalat sunah qobliyah Jumat, Bilal berdiri di depan mimbar sambil menghadap jemaah dan membaca seruan berupa kalimat ajakan untuk diam, mendengarkan, dan mentaati khutbah yang akan disampaikan (seperti: Ma'a syirol muslimin...). Tujuannya adalah untuk menertibkan jemaah dan mengantar khatib untuk naik ke mimbar.
  • Membaca Salawat Saat Khatib Naik Mimbar: Saat khatib mulai melangkah dan naik ke mimbar, Bilal membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ini dilakukan untuk menghormati Rasulullah dan memohon keberkahan.
  • Membaca Doa Setelah Khatib di Mimbar: Setelah khatib duduk di atas mimbar, Bilal kemudian menghadap kiblat dan membaca doa untuk kekuatan Islam dan iman, serta memohon kebaikan dan pertolongan.
  • Mengumandangkan Azan Kedua: Azan kedua dikumandangkan setelah khatib memberi salam dan duduk sejenak di atas mimbar. Azan ini menjadi penanda bahwa khutbah akan segera dimulai dan jemaah harus memfokuskan perhatian.
  • Membaca Salawat di Antara Dua Khutbah: Ketika khatib duduk sebentar di antara khutbah pertama dan khutbah kedua, Bilal membaca salawat kembali. Hal ini bertujuan mengisi jeda tersebut dengan pujian kepada Nabi SAW.
  • Melaksanakan Iqomah: Setelah khatib selesai menyampaikan khutbahnya dan turun dari mimbar, Bilal bertugas mengumandangkan iqomah. Ini adalah penanda terakhir bahwa shalat Jumat berjemaah akan segera dimulai di belakang imam.

Bacaan Bilal Sholat Jumat

Melansir laman NU Banyumas, berikut ini adalah rincian bacaan bilal sholat Jumat:

1. Adzan Pertama

Sebelum khutbah Jumat dimulai, terlebih dulu bilal/muraqqi menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan pertama.

Adzan pertama disarankan dengan suara yang lebih panjang untuk menandakan bahwa waktu shalat Jum’at sudah tiba.

2. Ajakan Sholat Qabliyah: Setelah adzan pertama selesai, jamaah dianjurkan melaksanakan shalat sunnah qobliyah Jum’at.

3. Menyerahkan tombak (tongkat): Setelah shalat sunnah selesai, bilal berdiri di depan mimbar menghadap jama’ah sambil membawa tongkat, kemudian mengantarkan khatib naik mimbar dengan membaca kalimat dibawah ini :

مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَو (أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

(Ma’a syirol muslimin, wa zumrotal mu’minina rohimakumulloh, ruwiya ‘an abi hurairota rodliyallohu’anhu annahu qoola, qoola rosulullohi shollallohu ‘alaihi wa sallam idza qulta lishohibika yaumal jum’ati anshit, wal imaamu yakhtubu faqod laghout -Anshitu wasma’u wa athi’u rohimakumulloh 2x- Anshitu wasma’u wa athi’u la’alakum turhamun)

4. Setelah bilal selesai membaca kalimat di atas, kemudian bilal memberikan tongkat kepada khatib, dan ketika khatib naik ke atas mimbar bilal membaca doa shalawat di bawah ini :

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٢× ، اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِينَ

(Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad 2x, Allohumma sholli ‘ala sayyidina wa habibinaa wa syafi’iina wa maulanaa Muhammadin wa sallim wa rodliyallohu tabaaroka wa ta’ala ‘an saadatinaa ashaabi rosuulillahi ajma’in)

5. Kemudian setelah khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca doa sebagai berikut:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلإِيمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِينَ رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، يَاخَيْرَ النَّاصِرِينَ، بِرَحْمَتِكَ يآأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

(Allohumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina wa maulana muhammadin wa ‘ala aali sayyidina muhammad, Allohumma qowwil islaam wal iiman, minal muslimiina wal muslimaat, wal mu’miniina wal muslimaat, al ahya i minhum wal amwaat, wanshurhum ‘ala mu’aniddiin robbikhtim lanaa minka bilkhoir, yaa khoironnaashiriin, birohmatika yaa arhamarroohimiin)

 

6. Adzan KeduaKemudian khatib memberi salam dan kemudian duduk. Setelah khatib memberi salam, petugas bilal mengumandangkan adzan kedua, adzan kedua ini nadanya gak sepanjang adzan pertama.

7. Setelah adzan selesai, khatib berdiri untuk berkhutbah. Saat khatib duduk diantara dua khutbah, petugas bilal membaca sholawat, sholawat yang umum digunakan adalah seperti ini :

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ ، وَزِدْوَاَنْعِمْ وَتَفَضَلْ وَبَارِكْ ، بِجَلَالِكَ وَكَمَالِكَ عَلٰى زَيْنِ عِبَادِكْ ، وَاَشْرَفِ عِبَادِكَ ، سَيِّدِاْلعَرَبِ وَاْلعَجَمِ ، وَاِمَامِ طَيْبَةَوَاْلحَرَمِ ، سَيِّدِنَاوَمَوْلَانَا مَحَمَّدٍ وَّعَلىٰ آلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالىٰ عَنْ كُلِّ صَحَا بَةِ رَسُوْلِ اللهِ اَجْمَعِيْنَ

(Allohumma Sholli wa sallim, wa zid wa an’im wa tafadlol wa baarik, bi jalaalika wa kamaalika ‘ala zaini ‘ibadik, wa asyrofi ‘ibadika, sayyidil ‘arobi wal ‘ajami, wa imaami thoibata walharomi, sayyidinaa wa maulanaa muhammadin wa ‘ala aalihi wa shohbihii wa sallim wa rodhiyallohu tabaaroka wa ta’ala’an kulli shohaabati rosulillahi ajma’in)

Selain sholawat diatas, juga bisa menggunakan sholawat yang lebih pendek.

8. Iqamah.

Setelah khatib selesai berkhutbah, petugas bilal berdiri lagi untuk iqomah, kemudian melaksanakan sholat jum’at.

Sejarah Bilal

Melansir dari Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat STIT-MU Gumawang, tradisi bilal dalam shalat Jumat memiliki dasar historis dari praktik Rasulullah SAW saat Haji Wada'. Pada saat itu, Nabi meminta seseorang untuk menginstruksikan jamaah agar menyimak khutbah yang hendak disampaikan. Praktik inilah yang kemudian berkembang menjadi tradisi bilal dalam shalat Jumat.

Peran bilal sangat penting dalam menjaga kekhidmatan shalat Jumat. Melalui bacaan-bacaan yang disampaikan, bilal membantu menciptakan atmosfer spiritual yang tepat bagi jamaah untuk menerima pesan-pesan khutbah. Selain itu, bacaan bilal juga berfungsi sebagai pengingat akan adab dan tata krama selama khutbah berlangsung.

Bilal dalam konteks shalat Jumat merujuk pada petugas yang bertugas membacakan berbagai doa dan shalawat selama rangkaian khutbah berlangsung. Istilah ini berasal dari nama Bilal bin Rabbah, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai muazin pertama dalam Islam karena memiliki suara yang merdu dan lantang.

Seiring perkembangan zaman, peran bilal dalam shalat Jumat tidak hanya terbatas pada azan saja. Bilal juga berperan sebagai muraqqi atau penghantar khatib untuk naik mimbar, sekaligus pembaca doa-doa khusus di berbagai momen khutbah. Fungsi ini berkembang sebagai bentuk bid'ah hasanah yang bertujuan mempersiapkan suasana khidmat dan mengingatkan jamaah untuk mendengarkan khutbah dengan seksama.

Hukum Bilal Sholat Jumat

Dalam pandangan ulama, tradisi bilal dimulai dari zaman Nabi, ketika hajo wada. Kala itu, Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabbah untuk menyuruh orang-orang diam mendengarkan khutbah Jumat.

عَنْ بِلاَلِ بْنِ رَبَاحٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ غَدَاةَ جَمْعٍ « يَا بِلاَلُ أَسْكِتِ النَّاسَ . أَوْ  أَنْصِتِ النَّاسَ

Artinya: “Dari Bilal bin Rabbah Ra., bahwa Rasulullah Saw. berkata kepadanya saat pagi hari di Mina: “Wahai Bilal, suruh orang-orang untuk diam” (HR Ibnu Majah, sanadnya sahih)

Berangkat dari hadis di atas, ulama syafi’iyah menggali hukum dan berkesimpulan bahwa bilal shalat Jumat bukanlah bid’ah. Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtaj, 9/310 menjelaskan, Muraqqi (Bilal) didasarkan dengan hadis bahwa Rasulullah menyuruh orang lain (sahabat Bilal) untuk menenangkan orang-orang, ketika Nabi Saw hendak khutbah di Mina saat Haji perpisahan.

Secara qiyas, dianjurkan bagi khatib untuk menyuruh orang lain agar mendiamkan jama’ahnya. Ini adalah perilaku Muraqqi. Karena ada dalam koridor hadis, maka Bilal Shalat Jumat ini tidak masuk dalam kategori bid’ah sama sekali.

People Also Ask:

Apa yang dibaca Bilal di antara 2 khutbah?

Bacaan bilal di antara dua khutbah Jumat adalah shalawat nabi yang dibaca untuk mengingatkan jemaah bahwa khutbah pertama telah selesai dan sebentar lagi khutbah kedua dimulai. Bacaan ini bersifat sunah (dianjurkan) dan bukan merupakan rukun atau syarat sah salat Jumat.

Apa yang dibaca Bilal sebelum khatib naik mimbar?

Sebelum khatib naik mimbar, bilal akan membaca doa dan selawat. Bacaan utama meliputi panggilan untuk menyimak khotbah dan berisi hadis, seperti: "Ma'āsyiral muslimīn, wa zumratal mukminīna rahimakumullāh. Anṣitū wasma'ū wa aṭī'ū la'allakum turḥamūn," yang artinya "Wahai kaum Muslimin dan orang-orang beriman, semoga Allah merahmati kalian. Dengarkanlah, patuhilah, semoga Allah merahmati kalian.". Setelah itu, bilal juga akan berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Doa yang Dibaca diantara dua khutbah?

Tidak ada doa wajib yang dibaca di antara dua khutbah, namun ini adalah waktu mustajab untuk berdoa dan bisa memohon apa saja, baik dunia maupun akhirat, secara pribadi atau dengan doa yang diajarkan sebagian ulama, seperti "Sayyidul Istighfar". Doa dianjurkan dibaca dengan suara pelan dan lirih agar tidak mengganggu jamaah lain.

Apa saja yang dibaca Bilal saat sholat jumat?

Bacaan bilal Jumat meliputi adzan pertama sebelum khutbah, seruan "Anshitu wasma'u wa athi'u" dan sholawat saat khatib naik mimbar, adzan kedua setelah khatib salam dan duduk, sholawat di antara dua khutbah, dan terakhir iqomah setelah khutbah selesai.