Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Indonesia baru saja memperingati Hari Santri 2025. Hari Santri diperingati pada tanggal 22 Oktober. Banyak di antara kita yang kerap bertanya, asal-usul istilah santri yang kini begitu populer di Indonesia.
Dalam pengertian umum, santri merujuk pada orang (biasanya berusia muda) yang mengaji atau menuntut ilmu di sebuah pesantren. Belakangan, muncul berbagai tafsir atau pengertian baru; orang yang mengaji kepada kiai, atau kaum santi, yakni sekelompok Islam terpelajar yang identik dengan lembaga pendidikan tradisional.
Advertisement
Secara leksikal, KBBI mengartikan santri adalah orang yang mendalami agama Islam. Yang kedua adalah orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh.
Merujuk skripsi berjudul Pembinaan Akhlak Santri di Pesantren Modern Maqamam Mahmuda Aceh Tengah karya Sabarullah MJ, UIN Ar-Raniry Darussalam, sejarah kata santri tidak tunggal, ada beberapa versi etimologis yang beredar di literatur populer dan akademik.
Dikutip dari Kajian Teori jurnal UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, versi-versi utama yang sering dikutip dari literatur, pertama berasal dari bahasa Sanskerta (shastri / sastri), kedua turunan dari bahasa Jawa (cantrik), ketiga penelusuran ke bahasa Arab (bentuk/akronim makna), dan keempat keterkaitan istilah dari bahasa Tamil.
Berikut ini ulasannya.
1. Santri Berasal dari Bahasa Sansakerta 'Shastri'
Salah satu versi mengenai asal usul istilah “santri”, seperti dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo, mengatakan kata “santri” berasal dari bahasa Sanskerta.
Istilah “santri”, menurut pendapat itu, diambil dari salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Versi ini terhubung dengan pendapat C.C. Berg yang menyebut istilah “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”.
Sanskerta merupakan bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme, serta salah satu dari 23 bahasa resmi di India. Sejalan itu, sanskerta pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha yang berlangsung sejak abad ke-2 Masehi hingga menjelang abad ke-16 seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit.
"Zamakhsyari Dhofir dalam buku Tradisi Pesantren (1985), mendukung rumusan Berg dan meyakini bahwa pendidikan pesantren, yang kemudian lekat dengan tradisi edukasi Islam di Jawa, memang mirip dengan pendidikan ala Hindu di India jika dilihat dari segi bentuk dan sistemnya," demikian dikutip dari repo.uinsatu.ac.id.
Advertisement
2. Santri Berasal dari Bahasa Jawa 'Cantrik'
Nurcholis Madjid lewat buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999) menautkan pendapat tersebut dengan menuliskan bahwa kata “santri” bisa pula berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna “orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya”.
Pendapat ini senada dengan Kata santri itu berasal dari kata “cantrik” yang berarti seseorang yang selalu mengikuti gurukemana guru pergi dan menetap, dalam jurnal berjudul 'Pelanggaran Santri terhadap Peraturan Tata Tertib Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Lamongan”, karya Muhammad Nurul Huda dan Muhammad Turhan Yani.
Dari berbagai pandangan tersebut tampaknya kata santri yang dipahami pada dewasa ini lebih dekat dengan makna “cantrik”, yang berarti seseorang yang belajar agama (islam) dan selalu setia mengikuti guru kemana guru pergi dan menetap.
"Santri merupakan seseorang yang sedang belajar memperdalam ilmuilmu pengetahuan tentang agama islam dengan sungguh-sungguh," demikian dikutip dari sumber yang sama.
3. Akronim Huruf Arab Penjelasan KH Abdullah Dimyathy Pandeglang
Menurut Abuya KH. Abdullah Dimyathy santri tidak hanya sebagai penyebut seorang pelajar agama, namun terkandung makna mendalam yang merefleksikan fungsi, peran, dan moralitas yang harus dimiliki oleh seorang santri sebagai manusia dan umat Islam.
Berikut adalah penjelasan asal usul kata "santri" sebagai akronim bahasa Arab menurut Abuya KH. Abdullah Dimyathy Pandegelang Banten, sebagimana dikutip dari laman Pondok Pesantren Daarul Maarif, Indramayu.
1. Sin (س) — ستر العورة (Menutup aurat)
Huruf sin melambangkan kewajiban menutup aurat, baik secara dzohiri (tampak oleh mata) maupun bathini (tersirat). Menutup aurat secara dzohiri diartikan sesuai syariat Islam, seperti menutup area pusar sampai lutut bagi pria, dan seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah bagi wanita. Makna bathini berkaitan dengan menjaga rasa malu dan kehormatan dalam perilaku dan sikap, sebagai wujud kemanusiaan yang mulia dengan menjaga aurat yang dianggap fital (berharga). Abuya menegaskan bahwa rasa malu (haya’) adalah bagian dari iman.
2. Nun (ن) — نائب العلماء (Wakil dari ulama)
Huruf nun menunjukkan bahwa santri diharapkan menjadi wakil ulama, pewaris para nabi (al-ulama warasatul anbiya’). Santri harus memiliki kepekaan sosial, mampu memahami problematika dan perkembangan zaman, serta mampu memberikan solusi arif dan bijak dalam komunitasnya, minimal di lingkungan pesantren. Santri sebagai na’ibul ulama harus aktif dan responsif terhadap perubahan sosial global maupun lokal.
3. Ta’ (ت) — ترك المعاصي (Meninggalkan kemaksiatan)
Huruf ta’ mengandung makna bahwa santri harus menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran Islam serta adab yang berlaku. Konsistensi dalam memegang prinsip ini penting, baik dalam hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah) maupun horizontal dengan sesama manusia (hablum minannas). Meninggalkan kemaksiatan mencakup segala aspek pelanggaran hukum agama dan sosial.
4. Ra’ (ر) — رائس الأمة (Pemimpin umat)
Huruf ra’ melambangkan posisi manusia sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Santri diharapkan menjadi pemimpin umat yang tidak hanya beribadah secara individual tapi juga sosial, memberikan manfaat kepada sesama. Selain itu, santri juga bertanggung jawab untuk membangun dan memelihara bumi (‘imaratul ardhi), mengelola dan melestarikan sumber daya alam dan lingkungan secara baik sebagai bagian dari kewajiban agama.
Advertisement
4. Santri Terkait Bahasa Tamil
Dalam skripsi berjudul Pembinaan Akhlak Santri di Pesantren Modern Maqamam Mahmuda Aceh Tengah karya Sabarullah MJ asal usul santri dalam satu pendapat berasal dari bahasa Tamil. Hanya saja dia tidak menjelaskan kata dimaksud.
Secara ringkas, versi ini menyatakan bahwa istilah santri berasal dari kata dalam bahasa Tamil yang berarti “guru ngaji”.
“Menurut John E., kata santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, santri adalah seseorang yang berusaha mendalami agama Islam dengan sungguh-sungguh atau serius. Kata santri itu berasal dari kata cantrik yang berarti seseorang yang selalu mengikuti guru ke mana guru pergi dan menetap.” (Sabarullah MJ, Pembinaan Akhlak Santri di Pesantren Modern Maqamam Mahmuda Aceh Tengah, Bab II, hal. 34, UIN Ar-Raniry Repository, 2023).
Dalam versi Tamil, kata yang dibawa adalah “guru ngaji”. Jadi istilah santri tidak hanya “murid/pelajar” tetapi menunjukkan “orang yang mengajar/ngaji”, atau setidaknya berhubungan dengan pengajaran kitab.
Versi ini menekankan bahwa ketika pendidikan Islam awal berkembang di wilayah Nusantara, khususnya melalui jalur pedagang atau ulama dari India Selatan (termasuk Tamil Nadu), maka pengaruh bahasa Tamil atau kosakata yang dibawa mungkin masuk ke dalam konteks lokal.
Karena skripsi tersebut fokus di Aceh, yang memang memiliki sejarah kontak dengan pedagang dan ulama dari Selatan Asia, versi Tamil ini dihadirkan sebagai salah satu kemungkinan etimologis wilayah pertemuan budaya Nusantara-Asia Selatan.
Skripsi hanya mencatat versi ini sebagai “diambil dari kosa kata Tamil” tanpa menyebutkan secara rinci bentuk kata Tamil asli, transliterasi, atau bukti manuskrip/naskah yang menunjukkan pemakaian kata tersebut dalam bahasa Tamil atau dalam komunitas di Nusantara dengan bentuk identik santri. Dengan kata lain ini adalah hipotesis etimologis yang disertakan sebagai kemungkinan, bukan kesimpulan mutlak berdasarkan bukti dokumenter yang kuat.
People Also Ask
1. Dari mana asal kata santri?
Kata "santri" berasal dari beberapa kemungkinan, paling populer adalah dari bahasa Sanskerta "shastri" yang berarti "orang yang mempelajari kitab suci" atau dari bahasa Jawa "cantrik" yang berarti "murid yang mengikuti gurunya". Selain itu, ada juga teori yang menghubungkannya dengan bahasa Arab dan Tamil.
2. Apa arti nama santri?
Arti kata santri adalah "orang yang mendalami agama Islam" atau "orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh". Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, shastri, yang berarti "melek huruf" atau "ahli kitab suci", yang kemudian berkembang dan diserap ke dalam bahasa Jawa menjadi "santri" untuk merujuk pada murid yang mendalami agama Islam.
3. Istilah istilah santri?
Istilah-istilah santri meliputi santri mukim (tinggal di pesantren), santri kalong (bolak-balik dari rumah), santri ndalem (asisten kiai), dan berbagai istilah lain seperti muhadharah (latihan pidato), sorogan (belajar tatap muka dengan kiai), dan bandongan (belajar bersama dengan kiai). Ada juga istilah untuk kegiatan spiritual seperti mujâhadah (dzikir dan berdoa bersama) dan riyadhah (latihan spiritual).
4. Pencetus Hari Santri siapa?
Gagasan resmi tentang Hari Santri pertama kali datang dari KH Thoriq Darwis, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam di Malang, Jawa Timur. Saat Jokowi berkunjung ke pesantren tersebut, KH Thoriq menyarankan agar 1 Muharram dijadikan Hari Santri.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311576/original/011498300_1785406882-kemenhaj_petugas_haji_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311330/original/051013700_1785399316-Screenshot_2026-07-30_144448.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455556/original/058687200_1766711056-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-26T080132.246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2558538/original/050007600_1546101664-SELAWAT-Muhamad_Ridlo.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)