Sunnah Muakkad Adalah Amalan yang Sangat Dianjurkan Rasulullah, Ketahui Pengertian dan Contohnya

Dalam kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn karya Imam Nawawi mempertegas bahwa sunnah muakkad sangat dianjurkan untuk dilaksanakan karena Rasulullah SAW selalu atau hampir selalu mengerjakannya dan jarang meninggalkannya.

Diperbarui 06 Agustus 2025, 20:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Cilacap - Dalam ajaran Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada yang wajib saja. Ada juga ibadah sunah yang memiliki kedudukan penting dalam memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Salah satu bentuk ibadah sunah yang memiliki derajat tinggi adalah sunnah muakkad.

Dalam kitab Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn karya Imam Nawawi mempertegas bahwa sunnah muakkad sangat dianjurkan untuk dilaksanakan karena Rasulullah SAW selalu atau hampir selalu mengerjakannya dan jarang meninggalkannya.

Demikian urgennya amalan ini maka setiap Muslim mengetahui secara jelas tentang pengertian dan amalan sunnah muakkad menjadi sangat penting.

Berikut ulasan tentang sunah muakkad berikut dengan contoh amalannya, seperti Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (05/08/25).

Arti Sunnah Muakkad

Sunnah muakkad (سُنَّة مُؤَكَّدَة) adalah amalan sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan dikerjakan secara konsisten. Meninggalkannya tanpa uzur bukanlah dosa, tetapi dianggap sebagai bentuk kelalaian dan meninggalkan keutamaan yang besar.

Dalam ilmu fikih, sunnah muakkad berada satu tingkat di bawah amalan wajib, tetapi nilainya sangat besar dalam memperkuat keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu' menyebutkan bahwa sunnah muakkad adalah "amalan yang senantiasa dilakukan Nabi SAW, dan hanya sesekali beliau tinggalkan untuk menjelaskan bahwa ia bukan wajib." Maka dari itu, menghidupkan sunnah ini menjadi salah satu ciri keistiqamahan dalam beragama.

Contoh Amalan yang Terkategori Sunnah Muakkad

Berikut beberapa contoh amalan sunnah muakkad yang sangat dianjurkan:

1. Shalat Sunnah Rawatib

Yaitu shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu, seperti dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya. Rasulullah SAW bersabda:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ عَلَى شَيْئٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُداً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

Latin : "Lam yakun an-nabiyyu ‘alā shay’in mina an-nawāfili asyadda ta‘āhudan minhu ‘alā rak‘atayil-fajr."

Artinya : “Tidak ada shalat sunnah yang lebih dijaga oleh Nabi SAW daripada dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Shalat Witir

Dilaksanakan setelah shalat Isya dan merupakan penutup ibadah malam. Rasulullah SAW hampir tidak pernah meninggalkan witir.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اجْعَلُوا آخِرَصَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً

Latin : ‘An Ibni ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā, ‘ani an-Nabiyyi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam qāla:“Ij‘alū ākhira ṣalātikum bil-layli witran.”

Artinya: "Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 1998 dan Muslim, no. 751, 151).

3. Shalat Dua Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha)

Shalat ini hukumnya sunnah muakkad bagi kaum Muslimin yang tidak memiliki udzur syar’i. Rasulullah SAW selalu melaksanakannya dan mengajak semua kaum Muslimin, termasuk wanita dan anak-anak.Azan dan Iqamah Bagi laki-laki, azan dan iqamah sebelum shalat berjamaah di masjid merupakan sunnah muakkad yang sangat dianjurkan sebagai bentuk syiar Islam.

4. Bersiwak (Membersihkan Gigi)

Bersiwak ketika hendak shalat, membaca Al-Qur’an, atau bangun tidur juga termasuk sunnah muakkad berdasarkan banyak hadis. Rasulullah SAW bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Latin: "Lawlā an asyuqqa ‘alā ummatī la-amartuhum bis-siwāki ‘inda kulli ṣalāh."

Artinya: “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Daftar Sumber

  • An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Dar al-Fikr.
  • Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.
  • Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.
  • Nawawi, Imam, Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn
  • Nawawi, Imam, Al-Majmu'

 

Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

People Also Ask

1. Apa itu sunnah muakkad?

Jawaban: Sunnah muakkad adalah amalan sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ hampir selalu mengerjakannya dan hanya sesekali meninggalkannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak wajib. Meskipun tidak berdosa jika ditinggalkan, meninggalkannya secara terus-menerus dianggap sebagai bentuk kelalaian terhadap ajaran Nabi.

2. Apakah sunnah muakkad itu wajib?

Jawaban: Tidak. Sunnah muakkad tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan. Hukum meninggalkannya tidak berdosa, namun jika sering ditinggalkan tanpa alasan syar’i, itu menunjukkan kurangnya kesungguhan dalam mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

3. Apa perbedaan antara sunnah muakkad dan sunnah ghairu muakkad?

Jawaban:

Sunnah Muakkad: Sangat dianjurkan, hampir selalu dilakukan oleh Nabi ﷺ (contoh: shalat sunnah rawatib, witir).Sunnah Ghairu Muakkad: Juga dianjurkan, tetapi Nabi ﷺ tidak secara rutin melakukannya (contoh: shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar).