Arti Idul Adha dan Sejarahnya yang Perlu Dipahami Setiap Muslim, Ajarkan Pengorbanan

Idul Adha, atau Hari Raya Kurban, memperingati ketaatan Nabi Ibrahim AS dan mengajarkan nilai pengorbanan, kepedulian sosial, serta kedekatan dengan Allah SWT.

Diterbitkan 15 Mei 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Umat Islam di seluruh dunia memiliki dua hari raya besar, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Meskipun sama-sama disebut sebagai hari raya, keduanya memiliki makna dan latar belakang yang berbeda. Idul Fitri menjadi penutup bulan Ramadan, sedangkan Idul Adha berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji dan pengorbanan.

Idul Adha dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah. Hari ini bukan hanya dikenal sebagai momen menyembelih hewan kurban, tetapi juga merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Bagi umat Islam yang tidak berhaji, hari ini menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah kurban dan memperkuat nilai-nilai keikhlasan serta pengabdian.

Di Indonesia, Idul Adha juga dikenal dengan sebutan Lebaran Haji. Istilah ini menunjukkan keterkaitan erat antara hari raya ini dengan ibadah haji yang tengah berlangsung di Tanah Suci. Untuk memahami makna dan sejarahnya, mari kita simak pembahasan arti Idul Adha berikut yang telah dirangkum Liputan6.com, Kamis (15/5/2025).

Arti Idul Adha dan Sejarahnya

 Secara etimologis, "Idul Adha" berasal dari dua kata Arab, yaitu ‘Id dan Adha. Kata ‘Id berasal dari ‘aada–ya’uudu yang berarti "kembali" atau "berulang", sementara Adha berasal dari kata udhiyah, yang berarti "kurban" atau "penyembelihan". Maka, Idul Adha dapat diartikan sebagai hari raya yang kembali setiap tahun, diiringi dengan pelaksanaan ibadah kurban.

Sejarah Idul Adha bersumber dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang mendapatkan perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Dalam keadaan sadar dan penuh ketaatan, Nabi Ibrahim AS menyampaikan hal tersebut kepada anaknya. Nabi Ismail AS pun menyambutnya dengan lapang dada dan berkata:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah itu, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sebagai balasan atas ketundukan dan keikhlasan mereka.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat: 107)

Peristiwa ini kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Setiap tanggal 10 Zulhijah, umat Islam dianjurkan untuk menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah SWT. 

Asal Usul Istilah Lebaran Haji

 Di Indonesia, Idul Adha kerap disebut dengan istilah "Lebaran Haji". Hal ini tidak terlepas dari waktu pelaksanaannya yang bertepatan dengan puncak ibadah haji di Tanah Suci, Makkah. Pada tanggal 9 Zulhijah, jamaah haji melakukan wukuf di Padang Arafah, yang merupakan rukun utama dalam haji.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah dan Mina, termasuk prosesi lontar jumrah yang merupakan simbol penolakan terhadap godaan setan—sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS saat digoda agar tidak menjalankan perintah Allah.

Istilah "Lebaran Haji" menegaskan bahwa Idul Adha memiliki keterkaitan spiritual dengan ibadah haji. Bagi mereka yang tidak berhaji, disyariatkan untuk melaksanakan puasa Arafah pada 9 Zulhijah yang memiliki keutamaan luar biasa.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

"Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim)

Selain itu, istilah ini juga memperkuat pemahaman bahwa Idul Adha tidak hanya berkaitan dengan kurban, tetapi juga menyangkut aspek pengorbanan jiwa dan harta yang dilakukan dalam ibadah haji. 

Hikmah Idul Adha

Idul Adha menyimpan berbagai hikmah dan pelajaran yang sangat penting bagi umat Islam. Di antaranya:

1. Ketaatan dan Ketundukan

Idul Adha mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT adalah kunci utama dalam kehidupan beragama. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menunjukkan bahwa kepatuhan kepada perintah Ilahi harus didahulukan, bahkan di atas logika dan rasa kasih sayang manusiawi. إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab, 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.'" (QS. Al-Baqarah: 131)

2. Keikhlasan dalam Beribadah

Ibadah kurban tidak hanya menjadi simbol fisik penyembelihan hewan, tetapi juga latihan spiritual dalam berkorban dan berbagi dengan sesama. Allah SWT berfirman,

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)

3. Kepedulian Sosial

Melalui pembagian daging kurban, Idul Adha menjadi momentum untuk mempererat solidaritas antar sesama, terutama kepada kaum fakir miskin. Ini merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang mengajarkan kasih sayang, gotong royong, dan keadilan sosial.

4. Mengendalikan Hawa Nafsu dan Ego

Kurban bukan hanya simbol pengorbanan fisik, tetapi juga pengendalian terhadap nafsu duniawi. Hal ini mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak bisa diraih tanpa melepas kelekatan terhadap dunia.

5. Pembersihan Jiwa dan Dosa

Baik ibadah kurban maupun ibadah haji mengandung hikmah penghapusan dosa dan penyucian jiwa. Mereka yang mampu melaksanakannya dengan ikhlas akan kembali dalam keadaan seperti bayi yang baru lahir.

 مَن حَجَّ هذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barang siapa berhaji ke Baitullah, tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dari haji) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim)