Nun Mati Ketemu Idgham Bilaghunnah Artinya Melebur Tanpa Dengung, Ini Penjelasan Lengkapnya

Nun mati ketemu idgham bilaghunnah artinya melebur tanpa dengung. Pelajari pengertian, huruf, cara baca, dan contoh lengkap dalam Al-Quran.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 12:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam ilmu tajwid, terdapat beragam hukum bacaan yang mengatur pelafalan huruf-huruf Al-Qur'an agar tetap sesuai kaidah. Salah satu hukum yang kerap ditemui adalah idgham bilaghunnah, yakni ketika nun mati ketemu idgham bilaghunnah artinya bunyi nun mati atau tanwin harus dileburkan ke huruf berikutnya tanpa disertai suara dengung.

Hukum ini menjadi bagian penting dari kaidah nun mati dan tanwin yang wajib dikuasai oleh setiap Muslim. Memahami konsep nun mati ketemu idgham bilaghunnah artinya membantu pembaca Al-Qur'an menghindari kesalahan pelafalan yang berpotensi mengubah makna ayat.

Hukum idgham bilaghunnah hanya melibatkan dua huruf, yaitu lam (ل) dan ra (ر), sehingga relatif mudah untuk dipelajari. Meski demikian, penerapannya tetap membutuhkan pemahaman dan latihan yang konsisten agar bacaan menjadi benar dan tartil.

Dilansir dari Riwaq Al Quran, dalam ilmu tajwid, idgham berarti memasukkan atau meleburkan bunyi nun sakinah (نْ) atau tanwin (ــًــٍــٌ) ke dalam huruf tertentu, sehingga suara huruf sebelumnya menyatu dengan huruf setelahnya. Akibatnya, pelafalan huruf berikutnya menjadi lebih dominan dalam bacaan. Hukum tajwid seperti idgham berperan besar dalam menjaga keindahan serta ketepatan bacaan Al-Qur'an sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Pengertian Nun Mati Ketemu Idgham Bilaghunnah

Secara bahasa, kata idgham berasal dari bahasa Arab yang berarti "memasukkan" atau "meleburkan", sedangkan bilaghunnah terdiri dari bila (tanpa) dan ghunnah (dengung). Jadi, ketika nun mati bertemu huruf idgham bilaghunnah, artinya bunyi nun mati atau tanwin harus dimasukkan sepenuhnya ke dalam huruf berikutnya tanpa menghasilkan suara sengau dari hidung.

Proses peleburan ini membuat seolah-olah huruf nun tidak pernah ada, dan huruf berikutnya diucapkan dengan penekanan berupa tasydid. Mengacu pada Noor Academy, jenis idgham ini disebut juga idgham bila ghunnah kamel, yang dalam bahasa Inggris berarti peleburan sempurna tanpa dengung.

Hukum bacaan ini termasuk dalam kelompok hukum nun mati dan tanwin yang merupakan salah satu fondasi utama ilmu tajwid. Nun mati (نْ) sendiri adalah huruf nun yang tidak memiliki harakat, baik fathah, kasrah, maupun dhammah. Sementara tanwin (ـًـ / ـٍـ / ـٌـ) merupakan harakat ganda di akhir kata benda yang berbunyi seperti nun mati. Ketika salah satu dari keduanya bertemu dengan huruf lam (ل) atau ra (ر) di awal kata berikutnya, maka berlakulah hukum idgham bilaghunnah.

Dilansir dari Tajweed.us, istilah at-tartil dalam ilmu tajwid merujuk pada membaca Al-Qur’an dengan memperhatikan ketepatan pengucapan huruf serta mengetahui tempat berhenti yang benar. Konsep ini sering dikaitkan dengan penjelasan Ali bin Abi Thalib RA mengenai pentingnya membaca Al-Qur’an secara teratur, jelas, dan sesuai kaidah tajwid.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa setiap Muslim perlu memahami kaidah tajwid, termasuk idgham bilaghunnah, agar pelafalan Al-Qur'an sesuai tuntunan. Berdasarkan Buruj Academy, enam huruf idgham secara keseluruhan dihafal melalui mnemonik يَرْمَلُونَ (Yarmaloon), yang terdiri dari huruf ya (ي), ra (ر), mim (م), lam (ل), wau (و), dan nun (ن). Dari enam huruf tersebut, hanya lam dan ra yang masuk kategori idgham bilaghunnah, sementara empat huruf lainnya tergolong idgham bighunnah.

Huruf Idgham Bilaghunnah dan Cara Mengingatnya

Mengenali huruf-huruf idgham bilaghunnah merupakan langkah awal yang wajib dikuasai sebelum mempraktikkan hukum bacaan ini. Berbeda dengan jenis hukum tajwid lainnya yang melibatkan banyak huruf, idgham bilaghunnah hanya terdiri dari dua huruf saja. Merujuk Quranica, ghunnah adalah bunyi sengau manis yang ditahan sesaat dari rongga hidung, dan ketika bacaan idgham dilakukan tanpa bunyi tersebut, maka tergolong bilaghunnah.

  1. Lam (ل) — Huruf lam menjadi salah satu dari dua huruf pemicu idgham bilaghunnah. Ketika nun mati atau tanwin bertemu huruf lam di awal kata berikutnya, maka bunyi nun harus dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf lam. Contoh sederhana adalah pada lafaz وَلٰكِنْ لَّا yang dibaca walākil-lā, di mana bunyi nun dari kata pertama hilang dan langsung masuk ke huruf lam.
  2. Ra (ر) — Huruf ra merupakan huruf kedua dalam kategori idgham bilaghunnah. Sama seperti lam, ketika nun mati atau tanwin bertemu ra di awal kata berikutnya, bunyi nun lenyap seluruhnya. Sebagai contoh, pada lafaz مِنْ رَّبِّهِمْ yang dibaca mir-rabbihim, huruf nun sama sekali tidak terdengar.

Untuk memudahkan menghafal, para ulama tajwid mengajarkan bahwa huruf idgham secara keseluruhan terkumpul dalam kata يَرْمَلُونَ (Yarmaloon). Dari enam huruf ini, cukup ingat bahwa huruf lam dan ra adalah dua huruf yang dibaca tanpa dengung, sedangkan empat sisanya—ya, nun, mim, dan wau—dibaca dengan dengung. Dalam buku Ilmu Tajwid Praktis karya Muhammad Amri Amir, disebutkan bahwa pembagian ini penting agar pembaca dapat menerapkan tajwid secara tepat tanpa kebingungan.

Cara Membaca Idgham Bilaghunnah yang Benar

Cara membaca idgham bilaghunnah memiliki teknik khusus yang membedakannya dari hukum tajwid lain. Ketika menemukan nun mati atau tanwin yang diikuti huruf lam maupun ra di kata berikutnya, pembaca harus langsung melafalkan huruf lam atau ra tersebut dengan penekanan tasydid, seolah-olah huruf nun tidak pernah ada. Tidak boleh ada jeda atau suara sengau dari hidung yang menyertai peleburan ini. Teknik ini menghasilkan bunyi yang bersih, tegas, dan langsung berpindah ke huruf berikutnya.

Sebagaimana dikutip dari Madrasat Al-Quran, langkah praktis menerapkan idgham bilaghunnah dimulai dengan mengidentifikasi adanya nun sukun atau tanwin, kemudian memeriksa apakah huruf setelahnya termasuk lam (ل) atau ra (ر). Jika kondisi tersebut terpenuhi dan kedua huruf berada dalam dua kata yang berbeda, maka bacaan dilakukan dengan meleburkan suara tanpa disertai dengungan. Berbeda halnya dengan hukum idzhar yang mengharuskan pelafalan nun secara jelas, pada idgham bilaghunnah justru bunyi nun sepenuhnya hilang.

Imam Muhammad bin Al-Jazari, ulama besar dalam bidang ilmu tajwid dan qira’at, menjelaskan bahwa menerapkan tajwid dalam membaca Al-Qur’an merupakan suatu keharusan. Ia menegaskan bahwa orang yang tidak memperbaiki bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid dapat dianggap melakukan kesalahan dalam membaca.

Perlu diperhatikan bahwa syarat utama terjadinya idgham bilaghunnah adalah nun mati (نْ) atau tanwin bertemu dengan huruf lam (ل) atau ra (ر) dalam dua kata yang berbeda, bukan berada dalam satu kata. Sebagaimana dijelaskan Baytul Quran, ketika proses idgham terjadi, bunyi huruf pertama melebur ke huruf kedua sehingga huruf kedua dibaca dalam keadaan bertasydid (mushaddad), menghasilkan bacaan yang lebih menyatu dan lancar. Hal ini menjadi salah satu kunci agar bacaan Al-Qur'an terdengar indah dan sesuai kaidah yang diwariskan secara turun-temurun.

Contoh Idgham Bilaghunnah dalam Al-Quran

Contoh idgham bilaghunnah dapat ditemukan di berbagai surat dalam Al-Qur'an. Memahami contoh-contoh konkret ini akan sangat membantu proses penguasaan hukum tajwid secara praktis. Berikut beberapa contoh yang sering ditemui saat membaca Al-Qur'an.

  1. QS. Al-Kahfi [18]: 2 — Pada lafaz قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ (qayyimal liyundzira), terdapat fathatain (tanwin fathah) pada kata pertama yang bertemu dengan huruf lam di kata berikutnya. Tanwin tersebut dileburkan ke dalam huruf lam tanpa dengung, sehingga bacaan menjadi mulus tanpa jeda.
  2. QS. Ad-Dhuha [93]: 4 — Pada lafaz وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ (walal-ākhiratu khairul laka), terdapat dhammah tanwin pada kata خَيْرٌ yang bertemu huruf lam pada kata لَّكَ. Bacaan idgham bilaghunnah diterapkan dengan mentasydidkan huruf lam.
  3. QS. Al-Baqarah [2]: 5 — Pada lafaz هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ (hudam mir-rabbihim), terdapat nun mati (نْ) yang bertemu huruf ra (ر). Ini merupakan salah satu contoh paling jelas di mana bunyi nun sepenuhnya hilang dan ra dibaca dengan tasydid.
  4. QS. Al-Ikhlas [112]: 4 — Pada lafaz وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ (walam yakul lahū), huruf nun mati pada kata يَكُنْ bertemu lam pada كلَّهُ, sehingga dibaca dengan peleburan sempurna tanpa dengung.
  5. QS. Yasin [36]: 9 — Pada lafaz مِنْ رَّسُولٍ (mir-rasūlin), nun mati bertemu ra dan dibaca langsung tanpa suara sengau. Seakan-akan huruf nun tidak ada, dan huruf ra langsung diucapkan dengan penekanan ganda.
  6. QS. At-Taghabun [64]: 11 — Pada potongan ayat yang mengandung pertemuan tanwin dengan huruf lam, idgham bilaghunnah diterapkan dengan cara yang sama, yaitu peleburan total tanpa dengung.

Nabi Muhammad SAW, dalam hadits riwayat Bukhari yang dikutip dari Alazhar Classes, bersabda, "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan indah, lancar, dan tepat akan bersama para malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membacanya dengan susah payah akan mendapat dua pahala."

Baca juga: Idgham Bilaghunnah Contoh di Al-Qur'an Lengkap Hukum Bacaan dan Cara Membacanya

Perbedaan Idgham Bilaghunnah dan Idgham Bighunnah

Memahami perbedaan antara idgham bilaghunnah dan idgham bighunnah sangat krusial agar tidak terjadi kekeliruan saat membaca Al-Qur'an. Keduanya sama-sama merupakan bagian dari hukum nun mati dan tanwin, namun berbeda dalam hal pelafalan dan huruf yang terlibat. Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dikutip dari Learning Quran Online, bersabda, "Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian."

  1. Jumlah Huruf — Idgham bilaghunnah hanya memiliki dua huruf, yaitu lam (ل) dan ra (ر). Sementara itu, idgham bighunnah melibatkan empat huruf yang terkumpul dalam kata يَنْمُو (Yanmu), yaitu ya (ي), nun (ن), mim (م), dan wau (و).
  2. Ada Tidaknya Dengung — Perbedaan paling mendasar terletak pada aspek dengung (ghunnah). Pada idgham bilaghunnah, peleburan dilakukan sepenuhnya tanpa bunyi sengau dari hidung. Sebaliknya, idgham bighunnah mengharuskan adanya suara dengung selama dua harakat (kurang lebih waktu mengucapkan "satu-dua").
  3. Tingkat Peleburan — Idgham bilaghunnah disebut juga idgham kamil (peleburan sempurna) karena bunyi nun benar-benar lenyap tanpa meninggalkan jejak suara apa pun. Pada idgham bighunnah, terutama saat bertemu huruf wau dan ya, peleburannya bersifat naqish (tidak sempurna) karena masih menyisakan jejak berupa suara dengung.
  4. Cara Pelafalan — Saat membaca idgham bilaghunnah, lidah langsung mengarah ke posisi huruf lam atau ra tanpa jeda. Pada idgham bighunnah, pembaca perlu mengeluarkan suara sengau dari rongga hidung sebelum beralih ke huruf berikutnya.
  5. Penandaan dalam Mushaf — Dalam mushaf standar, idgham bilaghunnah biasanya ditandai dengan tasydid pada huruf lam atau ra setelah nun mati atau tanwin. Sementara idgham bighunnah ditandai dengan tasydid disertai tanda ghunnah pada huruf-huruf yang bersangkutan.

Dalam kitab Hidayatush Shibyan, disebutkan nazham yang menjelaskan hukum ini: "Bacalah idgham bilaghunnah jika ada tanwin atau nun mati bertemu salah satu huruf lam dan ra." Pedoman ini telah digunakan selama berabad-abad sebagai panduan praktis bagi para penuntut ilmu tajwid. Selain kedua jenis idgham tersebut, hukum nun mati dan tanwin juga mencakup izhar halqi, iqlab, dan ikhfa haqiqi yang masing-masing memiliki ketentuan berbeda.

Penguasaan perbedaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari tanggung jawab setiap Muslim dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur'an. Sebagaimana diungkapkan dalam jurnal The Importance of Tajweed in The Recitation of The Glorious Qur'an, setiap Muslim wajib menerapkan tajwid dalam bacaan Al-Qur'an sehari-hari karena Al-Qur'an diturunkan dengan kaidah tajwid yang diterapkan sejak awal pewahyuan. Mempelajari tujuan ilmu tajwid akan semakin memperkuat motivasi untuk mendalami setiap kaidahnya, termasuk idgham bilaghunnah maupun bighunnah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Idgham Bilaghunnah

Apa yang dimaksud dengan nun mati ketemu idgham bilaghunnah?

Nun mati ketemu idgham bilaghunnah artinya ketika huruf nun mati (نْ) atau tanwin (ـًـ / ـٍـ / ـٌـ) bertemu dengan huruf lam (ل) atau ra (ر) di awal kata berikutnya, maka bunyi nun harus dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf tersebut tanpa disertai suara dengung dari hidung. Bacaan nun mati seakan hilang dan langsung digantikan oleh huruf lam atau ra yang diucapkan dengan tasydid.

Berapa huruf idgham bilaghunnah dan apa saja?

Huruf idgham bilaghunnah hanya berjumlah dua, yaitu lam (ل) dan ra (ر). Kedua huruf ini merupakan bagian dari enam huruf idgham yang terkumpul dalam mnemonik يَرْمَلُونَ (Yarmaloon). Empat huruf lainnya—ya (ي), nun (ن), mim (م), dan wau (و)—tergolong dalam hukum nun mati dan tanwin yang berbeda, yaitu idgham bighunnah.

Apakah idgham bilaghunnah berlaku jika nun mati dan huruf lam atau ra berada dalam satu kata?

Tidak. Hukum idgham bilaghunnah hanya berlaku jika nun mati atau tanwin dan huruf lam atau ra berada di dua kata yang berbeda. Jika keduanya berada dalam satu kata, seperti pada lafaz دُنْيَا atau بُنْيَان, maka hukum yang berlaku adalah izhar mutlaq, yaitu nun mati harus dibaca dengan jelas tanpa peleburan maupun dengung. Kaidah pengecualian ini penting dipahami agar tidak keliru saat mempraktikkan hukum nun mati dan tanwin dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence