Contoh Bacaan Idgham Bighunnah dalam Al-Quran Lengkap dengan Cara Membacanya

Pelajari contoh bacaan idgham bighunnah dalam Al-Quran beserta pengertian, huruf, cara membaca, perbedaan dengan bilaghunnah, dan pengecualiannya.

Diterbitkan 27 Juni 2026, 11:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Idgham bighunnah terjadi ketika nun sukun atau tanwin diikuti oleh salah satu dari empat huruf: ya (ي), nun (ن), mim (م), dan wau (و). Memahami contoh bacaan idgham bighunnah menjadi langkah penting bagi setiap Muslim yang ingin membaca Al-Quran dengan tartil dan sesuai kaidah tajwid.

Istilah idgham dalam bahasa Arab berarti "menggabungkan" atau "meleburkan", dan dalam ilmu tajwid merujuk pada peleburan suara nun sukun atau tanwin ke dalam huruf berikutnya. Mengutip buku Dasar-dasar Ilmu Tajwid (2021) karya Dr. Marzuki, pengertian idgham bighunnah adalah meleburkan nun mati atau tanwin dengan memasukkannya pada huruf sesudahnya dan dibaca dengan mendengung.

Kaidah tajwid sangat penting untuk menjaga keindahan dan keakuratan bacaan Al-Quran, dan idgham termasuk konsep kunci yang meningkatkan alur serta harmoni dalam tilawah. Berbagai contoh bacaan idgham bighunnah dapat dengan mudah ditemukan di hampir setiap juz Al-Quran, sehingga hukum ini menjadi salah satu yang paling sering dipraktikkan dalam kegiatan belajar tajwid sehari-hari.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Muzzammil ayat 4, "Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil)." Perintah ini menegaskan bahwa membaca Al-Quran secara tartil bukan sekadar anjuran, melainkan tuntunan langsung dari Allah SWT yang menuntut penguasaan ilmu tajwid secara menyeluruh.

 

Pengertian Idgham Bighunnah dalam Ilmu Tajwid

Kata idgham (إدغام) secara harfiah berarti "penggabungan" atau "asimilasi", dan dalam konteks tajwid mengacu pada proses meleburkan dua huruf sehingga huruf pertama masuk ke dalam huruf setelahnya dan menjadi satu bunyi. Secara bahasa, idgham artinya memasukkan atau melebur, sedangkan bighunnah artinya dengan dengung, sehingga idgham bighunnah adalah melebur suara nun sukun (نْ) atau tanwin ke dalam salah satu huruf idgham bighunnah yang terletak sesudahnya dengan disertai suara dengung.

Berikut adalah poin-poin mendasar untuk memahami pengertian idgham bighunnah:

  1. Nama lain: Idgham bighunnah disebut juga dengan istilah idgham ma'al ghunnah.
  2. Definisi teknis: Hukum ini berlaku ketika nun sukun (نْ) atau tanwin (ـًـ , ـٍـ , ـٌـ) bertemu dengan salah satu huruf idgham bighunnah pada huruf setelahnya, lalu dibaca dengan dengung.
  3. Frekuensi kemunculan: Idgham bighunnah adalah tipe idgham yang paling umum ditemukan dalam Al-Quran, dibaca dengan menahan suara nasal (ghunnah) selama kurang lebih dua hitungan (harakat).
  4. Prinsip dasar: Ketika dua huruf bertemu, huruf pertama melebur ke dalam huruf kedua sehingga menghasilkan huruf bertasydid, menciptakan aliran pelafalan yang mulus sambil mempertahankan makna dan keutuhan teks Al-Quran.
  5. Syarat utama: Hukum nun mati atau tanwin yang bertemu huruf idgham bighunnah hanya berlaku jika terjadi tidak dalam satu kata. Jika terjadi dalam satu kata, maka hukumnya berubah menjadi idzhar wajib.

Sebagaimana disampaikan Ustadz O. Surasman dalam buku Tajwid Praktis Metode Al-Bayan, kesalahan dalam penerapan hukum idgham bighunnah meskipun terdengar ringan, bisa berdampak besar pada perubahan makna. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam terhadap hukum bacaan ini sangat diperlukan oleh setiap Muslim yang belajar tajwid.

Huruf-Huruf Idgham Bighunnah dan Mnemonik Yanmu

Jumlah huruf idgham bighunnah ada empat. Dalam belajar ilmu tajwid, keempat huruf itu biasa disingkat dengan sebutan يَنْمُو (dibaca: Yanmu) untuk memudahkan mengingat huruf-huruf idgham bighunnah. Dalam dunia umum maupun pembelajaran tajwid internasional, mnemonik 'يَنْمُو' (Yanmoo) telah menjadi alat bantu hafalan yang sangat populer di kalangan pelajar dari berbagai belahan dunia.

Berikut keempat huruf idgham bighunnah beserta penjelasannya:

  1. Ya (ي) — Ketika nun sukun atau tanwin bertemu huruf ya pada kata berikutnya, maka bacaan dilebur dengan dengung. Contoh: مَنْ يَقُولُ (may yaquulu).
  2. Nun (ن) — Ketika nun sukun atau tanwin bertemu huruf nun, keduanya melebur menjadi satu nun bertasydid disertai dengung. Contoh: مِنْ نِعْمَةٍ (min ni'matin).
  3. Mim (م) — Ketika nun sukun atau tanwin bertemu huruf mim, suara dilebur dengan dengung. Contoh: مِنْ مَاءٍ (mim maa-in).
  4. Wau (و) — Ketika nun sukun atau tanwin bertemu huruf wau, bacaan dilebur disertai ghunnah. Contoh: مِنْ وَالٍ (miw waalin).

Salah satu pembahasan penting yang membedakan sumber internasional dari penjelasan umum adalah konsep idgham taam (peleburan sempurna) dan idgham naqis (peleburan tidak sempurna), yang menjelaskan bagaimana nun sukun atau tanwin melebur ke dalam huruf-huruf tertentu. Mengacu pada penjelasan di Quranica, berdasarkan seberapa sempurna huruf pertama terserap ke huruf kedua, idgham bighunnah dapat diklasifikasikan menjadi dua tingkat: peleburan sempurna (kamil) dan peleburan tidak sempurna (naqis).

Idgham kamil (sempurna) terjadi pada huruf nun dan mim, di mana huruf nun sukun sepenuhnya lenyap. Sementara idgham naqis (tidak sempurna) terjadi pada huruf ya dan wau, di mana ghunnah tetap terdengar sebagai indikasi sisa bunyi nun. Pemahaman ini penting agar pembaca Al-Quran tidak menyamakan kualitas peleburan pada setiap huruf idgham bighunnah. Baca juga: Idgham Artinya Meleburkan, Ketahui Jenis-Jenis dan Contohnya.

 

Cara Membaca Idgham Bighunnah yang Benar

Teknik membaca idgham bighunnah membutuhkan pemahaman tentang produksi suara nasal (ghunnah) yang tepat. Suara ghunnah harus beresonansi dari rongga hidung, bukan dari tenggorokan, sehingga berbeda secara jelas dari idgham tanpa ghunnah. Berikut langkah-langkah dan panduan membaca idgham bighunnah dengan benar:

  1. Identifikasi pola: Kenali posisi nun sukun (نْ) atau tanwin (ـًـ , ـٍـ , ـٌـ) yang diikuti oleh salah satu huruf ya, nun, mim, atau wau pada awal kata berikutnya.
  2. Dengungkan selama 2-3 harakat: Cara membaca idgham bighunnah adalah dengan mendengung. Suara dengung ditahan selama 2-3 harakat secara proporsional.
  3. Keseimbangan bunyi: Keseimbangan bunyi (khusus Ya dan Wau): Khusus pada huruf ya dan wau, suara yang dihasilkan merupakan perpaduan antara rongga mulut (melafalkan huruf) dan rongga hidung (melafalkan ghunnah), menciptakan resonansi nasal yang khas
  4. Perhatikan tanda mushaf: Mushaf Al-Quran modern sering kali menyertakan kode warna atau simbol khusus untuk menandai hukum idgham, termasuk tanda tasydid pada huruf setelah nun sukun atau tanwin.
  5. Hindari kesalahan umum: Kesalahan yang sering terjadi di kalangan pelajar adalah terburu-buru dalam peleburan sehingga durasi nasal hilang. Pastikan ghunnah terdengar jelas sebelum berpindah ke huruf berikutnya.

Berdasarkan penjelasan di Shaykhi Academy, ada tiga tahapan untuk menguasai bacaan idgham bighunnah secara bertahap. Tahap pertama adalah identifikasi, yaitu melatih mata dan pikiran untuk mengenali huruf-huruf yanmu secara instan ketika mengikuti nun sukun atau tanwin. Tahap kedua adalah produksi terisolasi, yaitu berlatih pada pasangan kata terpisah sebelum menerapkannya dalam tilawah surat secara utuh. Tahap ketiga adalah kelancaran kontekstual, yakni membaca surah lengkap sambil menerapkan idgham secara otomatis, di mana aturan ini tidak lagi memerlukan usaha sadar karena sudah tertanam dalam insting tilawah.

Nabi Muhammad SAW sendiri sangat menekankan pentingnya membaca Al-Quran dengan indah. Dikutip dari Shaykhi Academy yang merujuk Sahih Bukhari (Hadis No. 7527), Rasulullah SAW bersabda,

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak membaca Al-Quran dengan suara yang merdu."

Hadis ini menegaskan bahwa bacaan yang benar dan indah, termasuk penerapan hukum idgham bighunnah secara akurat, merupakan bagian dari ibadah.

Baca juga: 15 Hukum Tajwid dan Contohnya, Dilengkapi dengan Cara Baca.

 

Contoh Bacaan Idgham Bighunnah dalam Al-Quran

Mempelajari contoh bacaan idgham bighunnah langsung dari ayat-ayat Al-Quran merupakan cara paling efektif untuk memahami penerapannya. Keempat huruf ya, nun, mim, dan wau (يَنْمُو) masing-masing memicu idgham bighunnah setelah nun sukun atau tanwin. Berikut contoh-contohnya yang dikelompokkan berdasarkan huruf idgham bighunnah.

1. Nun Sukun atau Tanwin Bertemu Ya (ي)

  • QS Az-Zalzalah ayat 7: فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ — Dibaca: famay ya'mal misqaala dzarratin khairay yarah. Nun sukun pada مَنْ bertemu ya pada يَعْمَلْ sehingga nun dilebur dengan dengung.
  • QS Al-Hasyr ayat 4: وَمَنْ يُشَاقِّ اللَّهَ — Dibaca: wa may yusyaaqqillaha. Nun sukun pada مَنْ bertemu ya pada يُشَاقِّ.
  • QS Az-Zalzalah ayat 6: يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ — Dibaca: yauma-idziy yashduru. Tanwin kasrah bertemu huruf ya.

2. Nun Sukun atau Tanwin Bertemu Nun (ن)

  • QS Al-A'la ayat 9: فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى — Dibaca: fa dzakkir in nafa'atidz-dzikra. Nun sukun pada إِنْ bertemu nun pada نَفَعَتِ.
  • QS Al-Lail ayat 19: مِنْ نِعْمَةٍ — Dibaca: min ni'matin. Nun sukun pada مِنْ bertemu nun pada نِعْمَةٍ, keduanya melebur menjadi satu nun bertasydid.
  • QS Al-Mujadalah ayat 3: مِنْ نِسَائِهِمْ — Dibaca: min nisaa-ihim. Nun sukun bertemu nun pada kata berikutnya.

3. Nun Sukun atau Tanwin Bertemu Mim (م)

  • QS Al-Kafirun ayat 4: عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ — Dibaca: 'aabidum maa 'abattum. Tanwin dhammah pada عَابِدٌ bertemu mim pada مَا.
  • QS Al-Qadr ayat 3: خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ — Dibaca: khairum min alfi syahrin. Tanwin dhammah bertemu mim.
  • QS An-Naba ayat 36: جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ — Dibaca: jazaa-am mir rabbika. Tanwin fathah bertemu mim.

4. Nun Sukun atau Tanwin Bertemu Wau (و)

  • QS Al-Lahab ayat 1: لَهَبٍ وَتَبَّ — Dibaca: lahabiw wa tabb. Tanwin kasrah pada لَهَبٍ bertemu wau pada وَتَبَّ.
  • QS Al-Buruj ayat 20: مِنْ وَرَائِهِمْ — Dibaca: miw waraa-ihim. Nun sukun pada مِنْ bertemu wau pada وَرَائِهِمْ.
  • QS Asy-Syams ayat 7: وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا — Dibaca: wa nafsiw wa maa sawwaaha. Tanwin kasrah bertemu wau.

Selain contoh di atas, berikut beberapa contoh bacaan idgham bighunnah tambahan dari Juz 30 yang sering ditemui saat mengaji:

  • QS Al-Ghasyiyah ayat 3: عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ — Tanwin bertemu nun.
  • QS Al-Balad ayat 5:  لَنْ يَقْدِرَ — Nun sukun bertemu ya.
  • QS Al-Fajr ayat 23: يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ — Tanwin kasrah bertemu ya.
  • QS Al-Humazah ayat 2: مَالًا وَعَدَّدَهُ — Tanwin fathah bertemu wau.
  • QS Al-Fil ayat 5: كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ — Tanwin kasrah bertemu mim.
  • QS Al-Balad ayat 20: نَارٌ مُؤْصَدَةٌ — Tanwin dhammah bertemu mim.

Baca juga: Pengertian Idgham Bighunnah, Huruf, Cara Baca, dan Contohnya.

Baca juga: 16 Jenis-Jenis Hukum Tajwid, Lengkap dengan Penjelasan dan Contohnya.

 

Perbedaan Idgham Bighunnah dan Bilaghunnah serta Pengecualiannya

Dalam ilmu tajwid, idgham mengacu pada peleburan nun sukun atau tanwin ke dalam huruf berikutnya, dan terdapat dua bentuk utama: idgham dengan ghunnah (suara nasal) dan idgham tanpa ghunnah (tanpa nasalisasi). Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar tidak terjadi kekeliruan saat membaca ayat-ayat Al-Quran yang mengandung hukum idgham.

Jika nun sukun atau tanwin diikuti oleh huruf ي، ن، م، و maka hukumnya adalah idgham bighunnah, yakni dilebur dengan suara nasal. Sebaliknya, jika nun sukun atau tanwin diikuti oleh huruf ل (lam) atau ر (ra), maka hukumnya adalah idgham bilaghunnah, yakni dilebur tanpa suara nasal sama sekali.

Berikut tabel ringkas perbedaannya:

Aspek Idgham Bighunnah Idgham Bilaghunnah
Jumlah huruf 4 huruf (ي، ن، م، و) 2 huruf (ل، ر)
Cara baca Dengung (ghunnah) ± 2 harakat Tanpa dengung, langsung melebur
Mnemonik يَنْمُو (Yanmu) ل dan ر
Contoh مَنْ يَقُولُ (may yaquulu) مِنْ رَبِّهِمْ (mir rabbihim)

Seperti yang dikutip dari Areeb Academy, tanpa penerapan ghunnah yang benar, tilawah akan terdengar terputus-putus dan kehilangan irama alami yang dimaksudkan dalam ayat-ayat Al-Quran. Sementara itu, mencampurkan kedua tipe idgham ini dapat mengubah makna dan mengurangi keindahan teks Al-Quran.

Pengecualian Penting: Izhar Wajib (Izhar Mutlaq)

Perlu diketahui bahwa hukum idgham bighunnah tidak pernah berlaku jika nun sukun dan huruf idgham berada dalam satu kata yang sama. Dalam kasus tersebut, yang berlaku adalah hukum izhar wajib, yakni nun sukun harus dibaca jelas dan tegas. Misalnya pada kata بُنْيَانٌ (bunyaanun), nun sukun dan ya berada dalam satu kata sehingga nun dibaca jelas.

Pemahaman tentang bacaan idgham bighunnah ini sejalan dengan apa yang dijelaskan dalam Kitab Hidayatush Shibyan. Terdapat empat kata dalam Al-Quran yang menjadi contoh pengecualian ini:

  • قِنْوَانٌ (qinwaanun) — nun sukun bertemu wau dalam satu kata, dibaca jelas.
  • صِنْوَانٌ (shinwaanun) — nun sukun bertemu wau dalam satu kata, dibaca jelas.
  • بُنْيَانٌ (bunyaanun) — nun sukun bertemu ya dalam satu kata, dibaca jelas.
  • الدُّنْيَا (dun-yaa) — nun sukun bertemu ya dalam satu kata, dibaca jelas.

Baca juga: Idgham Bilaghunnah Contoh di Al-Quran, Lengkap Hukum Bacaan dan Cara Membacanya.

Baca juga: Contoh Idgham Mutamatsilain dan Cara Membacanya yang Perlu Diketahui.

Baca juga: 4 Macam-Macam Hukum Tajwid, Lengkap Penjelasan dan Penerapan yang Tepat.

Baca juga: Mengenal Idgham Syamsiyah dalam Ilmu Tajwid.

Baca juga: 15 Macam Tajwid Penting saat Membaca Al-Quran.

Baca juga: Contoh Ikhfa Haqiqi dan Cara Bacanya yang Benar.

Baca juga: Pengertian Ikhfa, Macam-Macam, dan Contohnya yang Perlu Dipahami.

Baca juga: Contoh Ikhfa Syafawi dalam Al-Quran dan Cara Membacanya.

Baca juga: Huruf Idgham Bighunnah dalam Ilmu Tajwid, Lengkap Hukum Bacaan dan Contohnya.

Baca juga: Idgham Mutajanisain, Ketahui Cara Bacanya dalam Al-Quran.

Baca juga: Ikhfa Haqiqi: Panduan Lengkap Hukum Bacaan.

Baca juga: Memahami Hukum Bacaan Tajwid Secara Tepat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Contoh Bacaan Idgham Bighunnah

Apa itu idgham bighunnah dan berapa jumlah hurufnya?

Idgham bighunnah adalah hukum tajwid yang terjadi ketika nun sukun atau tanwin diikuti oleh salah satu dari empat huruf: ya (ي), nun (ن), mim (م), dan wau (و). Huruf nun tersebut melebur ke dalam huruf berikutnya dengan resonansi nasal (ghunnah) yang ditahan selama dua hitungan (harakat). Keempat huruf ini sering diingat melalui mnemonik يَنْمُو (yanmu). Hukum ini hanya berlaku jika pertemuan huruf terjadi antardua kata, bukan dalam satu kata yang sama.

Bagaimana cara membedakan idgham bighunnah dengan idgham bilaghunnah saat membaca Al-Quran?

Perbedaan utama terletak pada ada tidaknya suara nasal: ketika meleburkan huruf dengan suara nasal (seperti pada huruf ي، ن، م، و) maka disebut idgham bighunnah, sedangkan ketika melakukan peleburan sempurna tanpa nasalisasi (pada huruf ل dan ر) maka disebut idgham bilaghunnah. Dalam mushaf tajwid berwarna, kedua hukum ini biasanya ditandai dengan warna berbeda sehingga lebih mudah dikenali. Tips praktisnya adalah menghafal mnemonik yanmu untuk huruf bighunnah, sementara dua huruf sisanya (lam dan ra) otomatis masuk kategori bilaghunnah.

Apakah ada pengecualian dalam hukum idgham bighunnah?

Ya, hukum idgham bighunnah tidak berlaku jika nun sukun dan huruf idgham berada dalam satu kata yang sama. Dalam kasus tersebut, yang diterapkan adalah hukum izhar wajib (izhar mutlaq) di mana nun sukun harus dibaca jelas dan tegas. Contoh kata yang menjadi pengecualian ini antara lain الدُّنْيَا (dun-yaa) dan بُنْيَانٌ (bunyaanun), di mana meskipun nun sukun bertemu huruf ya, bacaannya tetap jelas tanpa peleburan maupun dengung.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence