Puasa Idul Adha Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkapnya Berdasarkan Kalender Hijriah

Idul Adha 2025 diperkirakan jatuh pada 6 Juni, dengan puasa Arafah pada 5 Juni dan sejumlah puasa sunnah lainnya di awal Dzulhijjah.

Diterbitkan 12 Mei 2025, 09:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menjelang momen istimewa dalam kalender Hijriah, banyak umat Islam mulai mencari informasi seputar puasa Idul Adha tanggal berapa yang menjadi salah satu amalan penting. Hari besar ini identik dengan ibadah kurban, namun pelaksanaan puasanya, khususnya puasa Arafah, juga tak kalah bermakna. Oleh karena itu, mengetahui jadwal pastinya menjadi penting agar persiapan ibadah dapat dilakukan dengan maksimal.

Berbagai sumber resmi, termasuk kalender Islam dari pemerintah maupun organisasi keagamaan, biasanya akan memberikan informasi mengenai puasa Idul Adha tanggal berapa beberapa pekan sebelumnya. Hal ini membantu masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari, terutama bagi mereka yang ingin menunaikan puasa sunah sebelum Hari Raya tiba. Persiapan spiritual dan fisik pun lebih matang jika tanggal tersebut sudah diketahui lebih awal.

Tidak sedikit pula umat Muslim yang memanfaatkan momen ini untuk memperdalam pemahaman agama, termasuk hikmah di balik puasa menjelang Idul Adha. Pertanyaan mengenai puasa Idul Adha tanggal berapa menjadi pembuka untuk diskusi seputar keutamaan puasa Arafah, sejarahnya, hingga anjuran Rasulullah SAW dalam menjalankan ibadah ini. Dengan demikian, puasa tidak sekadar menjadi rutinitas, melainkan juga wujud ketakwaan yang lebih bermakna.

Berikut ini informasi terkait tanggal puasa Idul Adha yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (12/5/2025).

Tanggal Puasa Idul Adha

Menginjak bulan Mei tahun 2025, umat Islam di berbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia, mulai aktif mencari informasi terkini terkait penanggalan dalam kalender Hijriah. Informasi ini menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin menunaikan berbagai ibadah sunnah maupun wajib yang berkaitan dengan waktu-waktu tertentu dalam agama Islam. Selain itu, pengetahuan mengenai penanggalan Hijriah juga diperlukan untuk mempersiapkan peringatan hari-hari besar keagamaan serta kegiatan spiritual lainnya.

Yang menarik, pada bulan Mei 2025 ini, kalender Masehi bertepatan dengan dua bulan yang sangat mulia dalam sistem penanggalan Hijriah, yakni bulan Dzulqa’dah dan Dzulhijjah tahun 1446 Hijriah. Kedua bulan ini termasuk dalam deretan bulan-bulan haram, yaitu bulan yang dimuliakan dalam Islam, dan memiliki nilai spiritual yang tinggi. Terutama Dzulhijjah yang dikenal sebagai bulan di mana pelaksanaan ibadah haji berlangsung, serta perayaan Hari Raya Idul Adha dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Menurut perhitungan kalender Hijriah yang diselaraskan dengan kalender Masehi, awal bulan Dzulhijjah 1446 H diperkirakan akan jatuh pada tanggal 28 Mei 2025. Dengan perkiraan tersebut, umat Islam yang ingin melaksanakan amalan puasa sunnah di awal bulan Dzulhijjah bisa mulai mempersiapkan diri dari sekarang.

Adapun jadwal lengkap puasa idul adha 2025 diperkirakan sebagai berikut:

- Puasa Dzulhijjah (1–7 Dzulhijjah): dimulai dari tanggal 28 Mei hingga 3 Juni 2025

- Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): jatuh pada 4 Juni 2025

- Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): dirayakan pada 5 Juni 2025

Dengan Idul Adha 1446 H yang diperkirakan akan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025, maka puasa Arafah dilaksanakan pada hari Kamis, 5 Juni 2025. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi umat Muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji untuk melaksanakan puasa Arafah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT serta untuk meraih keutamaan yang luar biasa dari amalan tersebut.

 

Berapa Hari Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha Dilaksanakan?

Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah serta memperbanyak amal saleh, salah satunya adalah dengan menunaikan puasa sunnah. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: Berapa hari puasa sunnah yang dilakukan sebelum Idul Adha?

Berdasarkan keterangan dari laman resmi Nahdlatul Ulama (NU) dan berbagai literatur keislaman lainnya, umat Muslim sangat dianjurkan untuk menjalankan puasa selama sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Periode ini mencakup puasa yang dikenal sebagai puasa Dzulhijjah (hari ke-1 hingga ke-7), puasa Tarwiyah (hari ke-8 Dzulhijjah), serta puasa Arafah (hari ke-9 Dzulhijjah). Meskipun seluruh hari ini memiliki keutamaannya masing-masing, dua hari terakhir sebelum Idul Adha, yakni tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, dianggap memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

1. Puasa Dzulhijjah (1–7 Dzulhijjah)

Puasa pada tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan bentuk ibadah sunnah yang dianjurkan. Hari-hari ini disebut sebagai waktu yang diberkahi, di mana amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Meski tidak sepopuler puasa Arafah, menjalankan puasa sejak awal bulan Dzulhijjah menjadi bentuk kesiapan spiritual dalam menyambut datangnya hari-hari besar, terutama Hari Raya Kurban. Rasulullah SAW menyebut bahwa tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah selain pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal sebagai hari Tarwiyah, yaitu hari di mana jamaah haji mulai bersiap untuk menuju Arafah. Meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam hadis shahih, puasa Tarwiyah tetap dikenal sebagai amalan yang memiliki nilai ibadah yang tinggi menurut sebagian ulama. Menjalankan puasa pada hari ini merupakan bentuk penghormatan atas momen suci yang sedang dijalani oleh para jamaah haji.

3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Puasa yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai puasa Arafah adalah puasa yang paling utama di antara puasa-puasa sebelumnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Oleh karena itu, puasa Arafah menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Keistimewaan dan Keutamaan Puasa Sunnah Menjelang Idul Adha

Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak amal saleh, salah satunya melalui puasa sunnah yang dilakukan di awal bulan Dzulhijjah. Ibadah puasa ini bukan sekadar rutinitas ibadah semata, tetapi mengandung keutamaan yang sangat besar bagi jiwa dan raga seorang Muslim.

Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai berbagai keutamaan dari puasa sunnah sebelum Idul Adha:

1. Menghapuskan Dosa Selama Dua Tahun

Salah satu keistimewaan terbesar dari puasa sunnah menjelang Idul Adha adalah kemampuan untuk menghapus dosa, baik yang telah lampau maupun yang akan datang. Hal ini secara khusus terdapat pada puasa Arafah, yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Arafah mampu menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun yang akan datang. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah tersebut. Meskipun dosa-dosa yang dihapuskan adalah dosa-dosa kecil, keutamaannya tetap luar biasa dalam rangka menyucikan jiwa.

2. Pahala Ibadah Dilipatgandakan

Hari-hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan momen yang sangat istimewa. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada hari-hari lain di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, menjalankan puasa pada hari-hari ini, terutama pada tanggal 8 (Tarwiyah) dan 9 (Arafah), akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipatganda. Setiap amal kebaikan, mulai dari puasa, zikir, membaca Al-Qur’an, hingga sedekah, akan diberikan balasan yang luar biasa oleh Allah SWT. Ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk memaksimalkan ibadah di waktu-waktu tersebut.

3. Meningkatkan Kedekatan Spiritual dengan Allah SWT

Puasa adalah ibadah yang secara langsung mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Selama menjalani puasa sunnah di awal Dzulhijjah, umat Islam tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga memperbanyak doa, memperbaiki akhlak, dan memperbanyak ibadah lainnya. Kesempatan ini menjadi momen berharga untuk membina hubungan spiritual yang lebih kuat dengan Allah SWT, memperdalam kesadaran beragama, dan menumbuhkan rasa tawakal serta ikhlas dalam setiap amal.

4. Sebagai Sarana Penyucian Diri Menjelang Hari Raya

Puasa sunnah menjelang Idul Adha juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ia menjadi proses penyucian diri, di mana seorang Muslim membersihkan jiwanya dari berbagai sifat buruk dan dosa-dosa kecil yang dilakukan secara tidak sadar. Dengan menjalankan puasa ini, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih siap menyambut hari raya dengan penuh keikhlasan serta semangat pengorbanan. Hal ini juga mencerminkan nilai-nilai yang dibawa oleh Idul Adha, yaitu ketulusan, pengabdian, dan pengorbanan kepada Allah SWT.

5. Mendatangkan Berkah dan Kebahagiaan di Hari Idul Adha

Menjalankan puasa sebelum Idul Adha bukan hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai cara mempersiapkan diri secara spiritual dan emosional menyambut hari raya. Ketika seseorang telah menjalani hari-hari penuh ibadah sebelumnya, maka ia akan merayakan Idul Adha dengan penuh rasa syukur, kedamaian hati dan keberkahan. Hari besar tersebut tidak hanya menjadi momen sukacita, tetapi juga waktu yang penuh makna karena diawali dengan proses peningkatan kualitas diri.