Tata Cara Tawasul yang Benar Sebelum Tahlilan Lengkap Bacaan Arab, Latin dan Artinya

Sebelum memasuki rangkaian bacaan inti, terdapat satu amalan penting, yaitu tawasul.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi tahlilan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama. Sebelum memasuki rangkaian bacaan inti, terdapat satu amalan penting, yaitu tawasul. Tata cara tawasul yang benar sebelum tahlilan penting dilakukan sebagai bagian adab dan menghadiahkan amalan kepada yang telah berpulang.

Secara bahasa, tawasul diambil dari kata tawassala-yatawassalu-tawassulan yang berarti mendekat dengan menggunakan wasilah (media perantara). Dalam konteks tahlilan, tawasul dimaknai sebagai mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk doa atau ibadah dengan menggunakan perantara, baik nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, amal saleh, maupun melalui makhluk Allah yang memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.

Dalil praktik tawasul di antaranya adalah Surat Al-Ma'idah ayat 35: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya." Dibolehkannya berdoa melalui perantara juga disebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 64: "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tata cara tawasul yang benar sebelum tahlilan, lengkap dengan bacaan Arab, Latin, dan artinya.

Tata Cara Tawasul Sebelum Tahlilan

Berikut adalah urutan tata cara tawasul yang benar sebelum tahlilan, lengkap dengan bacaan Arab, Latin, dan artinya:

1. Pengantar dan Niat

Sebelum memulai tawasul, pemimpin tahlilan (imam) menyampaikan pengantar yang menjelaskan maksud dan tujuan acara, misalnya untuk mengirim doa kepada ahli kubur tertentu atau sekadar sebagai acara tasyakuran. Setelah itu, imam mengajak jamaah untuk memulai tawasul dengan menghadirkan niat dalam hati untuk mengirimkan pahala bacaan kepada ahli kubur yang dituju.

2. Membaca Basmalah

Tawasul diawali dengan membaca basmalah sebagai pembuka:

Arab: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Latin: Bismillāhirrahmānirrahīm

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

3. Tawasul kepada Nabi Muhammad SAW Tawasul pertama dan paling utama ditujukan kepada Rasulullah SAW beserta keluarga, istri, sahabat, dan keturunannya.

Arab: اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Latin: Ilā hadratin-nabiyyi shallallāhu 'alaihi wasallama wa ālihi wa shahbihi syai'un lillāhi lahumul fātihah.

Artinya: "Untuk yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, dan para sahabatnya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua."

Setelah membaca tawasul ini, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah:

Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ. غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ. آمِيْنْ

Latin: Bismillāhirrahmānirrahīm. Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn. Arrahmānirrahīm. Māliki yaumiddīn. Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn. Ihdinash-shirāthal mustaqīm. Shirāthal ladzīna an'amta 'alaihim ghairil maghdhūbi 'alaihim waladh-dhāllīn. Āmīn.

4. Tawasul kepada Para Nabi, Rasul, Wali, Syuhada, dan Orang Saleh

Arab: ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Latin: Tsumma ilā hadrati ikhwānihi minal anbiyā'i wal mursalīna wal-awliyā'i wasy-syuhadā'i wash-shālihīna wash-shahābati wat-tābi'īna wal-'ulamā'il-'āmilīna wal-mushannifīnal-mukhlisīna wa jamī'il-malā'ikatil-muqarrabīna, khushūshan sayyidinā syaikh 'Abdil Qādir al-Jailāni radhiyallāhu 'anhu.

Artinya: "Kemudian kepada saudara-saudaranya dari kalangan para nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi'in, ulama yang mengamalkan ilmunya, para penulis yang ikhlas, dan semua malaikat yang didekatkan (kepada Allah), khususnya kepada junjungan kami Syekh Abdul Qadir al-Jailani, semoga Allah meridhainya."

Setelah bacaan ini, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah.

5. Tawasul kepada Semua Ahli Kubur Muslimin dan Muslimat

Arab: ثُمَّ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا

Latin: Tsumma ilā jamī'i ahlil-qubūri minal-muslimīna wal-muslimāti wal-mu'minīna wal-mu'mināti min masyāriqil-ardi ilā maghāribihā barrihā wa bahrihā.

Artinya: "Kemudian kepada semua ahli kubur dari kaum muslimin laki-laki dan perempuan, mukminin laki-laki dan perempuan, dari timur bumi hingga baratnya, baik di darat maupun di laut."

Setelah bacaan ini, dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah.

6. Tawasul Khusus untuk Orang Tua, Guru, dan Keluarga

Arab: خُصُوْصًا إِلَى آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ

Latin: Khushūshan ilā ābā'inā wa ummahātinā wa ajdādinā wa jaddātinā wa masyāyikhinā wa masyāykhi masyāyikhinā wa asātidzatinā wa asātidzati asātidzatina wa liman ahsana ilainā wa limanijtama'nā hāhunā bisababihi.

Artinya: "Khususnya kepada bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, pengajar dari guru kami, ustadz kami, pengajar ustadz kami, mereka yang telah berbuat baik kepada kami, dan bagi ahli kubur/arwah yang menjadi sebab kami berkumpul di sini."

Setelah bacaan ini, disebutkan nama spesifik orang yang ingin didoakan dengan lafaz:

Arab: وَخُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ ... (sebutkan nama lengkap almarhum/almarhumah)

Latin: Wa khushūshan ilā rūhi ... (sebutkan nama)

Artinya: "Dan khususnya kepada ruh ... (sebutkan nama)."

Kemudian ditutup dengan:

Arab: شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

Latin: Syai'un lillāhi lahumul fātihah.

Artinya: "Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua."

Lalu ditutup dengan membaca Surat Al-Fatihah sekali lagi.

Hikmah Tawasul Sebelum Tahlilan

1. Menjalin silaturahim yang melampaui batas kematian

Mengirimkan doa dan pahala bacaan untuk ahli kubur merupakan bentuk kasih sayang dan penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita, sekaligus menjaga hubungan batin dengan orang tua, guru, dan keluarga yang telah wafat.

2. Meringankan beban mayit di alam kubur

Doa dan bacaan yang dikirimkan dapat menjadi amalan yang bermanfaat bagi mayit dan meringankan siksa kuburnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa pelepah kurma yang ditancapkan di atas kubur dapat meringankan siksa, maka bacaan Al-Qur'an dan doa tentu lebih utama.

3. Mengamalkan ajaran untuk saling mendoakan

Islam mengajarkan umatnya untuk saling mendoakan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Ini merupakan wujud kepedulian dan ukhuwah Islamiyah yang melampaui batas kematian.

4. Mendidik kesadaran akan kematian

Melalui amalan tawasul dan tahlil, seseorang diingatkan akan kematian dan kehidupan akhirat, sehingga termotivasi untuk mempersiapkan bekal amal saleh semasa hidup.

5. Menjaga kemurnian tauhid

Dalam tawasul, selalu ditambahkan kalimat "Syai'un lillah" untuk memastikan bahwa segala sesuatu ditujukan hanya kepada Allah, sementara para nabi dan wali hanya sebagai perantara.

Pertanyaan Seputar Tawasul

1. Apa yang dimaksud dengan tawasul dalam tahlilan?

Tawasul dalam tahlilan adalah wasilah atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menghadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para nabi, sahabat, wali, ulama, dan ahli kubur. Tawasul bukan berarti meminta kepada orang yang ditawasuli, melainkan tetap mengharapkan rahmat dan pertolongan Allah semata.

2. Bagaimana urutan tawasul yang benar sebelum tahlilan?

Urutan yang benar adalah: (1) Membaca basmalah, (2) Tawasul kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat, lalu membaca Al-Fatihah, (3) Tawasul kepada para nabi, rasul, wali, syuhada, orang saleh, dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, lalu membaca Al-Fatihah, (4) Tawasul kepada semua ahli kubur muslimin dan muslimat, lalu membaca Al-Fatihah, (5) Tawasul khusus kepada orang tua, guru, dan keluarga yang dituju, lalu membaca Al-Fatihah.

3. Apakah tawasul memiliki dalil dalam Al-Qur'an?

Ya, tawasul memiliki landasan syariat yang kuat dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ma'idah ayat 35: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Nya." Dalil lainnya adalah Surat An-Nisa ayat 64 yang menjelaskan tentang memohon ampun melalui perantara Rasul.

4. Apakah tawasul termasuk amalan bid'ah?

Tawasul bukanlah amalan bid'ah karena memiliki landasan syariat yang kuat dari Al-Qur'an dan disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah. Yang terpenting adalah menjaga niat yang ikhlas karena Allah dan tidak meyakini bahwa selain Allah dapat memberikan manfaat atau mudarat secara mandiri.

5. Bagaimana cara mengkhususkan tawasul untuk orang tertentu?

Cara mengkhususkannya adalah dengan menyebut nama orang yang dituju setelah bacaan tawasul umum, dengan lafaz: "Wa khushūshan ilā rūhi ... (sebutkan nama lengkap almarhum/almarhumah)" yang artinya "Dan khususnya kepada ruh ... (sebutkan nama)." Kemudian ditutup dengan "Syai'un lillāhi lahumul fātihah" dan membaca Al-Fatihah.