Liputan6.com, Jakarta - Beras adalah makanan pokok, tetapi stoknya kerap diserang kutu jika disimpan tanpa cara yang tepat. Karena itu, tips simpan beras agar tidak berkutu penting dipahami setiap rumah tangga agar beras tetap bersih, layak dikonsumsi, dan tidak terbuang sia-sia.
Melansir dari IRRI Rice Knowledge Bank, beras atau gabah sebaiknya disimpan pada kadar air di bawah 13–14 persen, lebih baik lagi dalam wadah kedap udara. Kelembapan, suhu, dan jenis wadah menjadi tiga faktor utama yang menentukan beras aman atau tidak dari hama gudang.
Hama yang paling sering menyerang adalah kutu beras atau Sitophilus oryzae, serangga kecil yang berkembang biak di dalam butiran beras. Berikut adalah tips simpan beras agar tidak berkutu dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (29/9/2026).
Advertisement
Mengenal Kutu Beras dan Kerusakan yang Ditimbulkannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5000551/original/005074200_1731312668-close-up-housefly_1048944-3127653.jpg)
Kutu beras atau Sitophilus oryzae adalah serangga kecil berwarna cokelat kehitaman yang kerap ditemukan pada tempat penyimpanan beras. Kutu ini tidak hanya menempel di permukaan. Menurut panduan Plantwise Knowledge Bank yang dikelola CABI, induk betina menaruh telur di dalam butiran, larva memakan isi butiran dari dalam, dan kutu dewasa keluar dengan menggigit lubang bulat pada butiran.
Kerugiannya bisa besar. Lembar fakta hama di platform Lucid Central menyebut susut bobot akibat kutu beras umumnya sampai 5 persen, dan pada serangan berat bisa mencapai 40 persen. Sebuah studi deteksi molekuler kutu beras yang dimuat di PubMed Central juga mencatat bahwa hama gudang berkontribusi pada sekitar 20–40 persen kehilangan biji-bijian setelah panen di dunia.
Bagi rumah tangga, dampaknya terlihat sebagai beras berlubang, berbubuk, berbau apek, dan akhirnya tidak layak dimasak.
Advertisement
1. Pastikan Beras Kering Sebelum Disimpan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360843/original/078176300_1790667152-pexels-joaquinrr-38781904.jpg)
Kadar air adalah kunci utama. Menurut FAO, sebagian besar serangga hama gudang tidak dapat hidup dan berkembang biak pada biji-bijian dengan kadar air di bawah 9 persen, sedangkan kadar air 12–15 persen paling disukai untuk perkembangannya. Panduan pelatihan penyimpanan gabah dari IRRI menambahkan bahwa biji-bijian yang disimpan pada kadar air di atas 14 persen dapat ditumbuhi jamur.
Beras yang baru dibeli kadang masih agak lembap, terutama pada musim hujan. Jika terasa dingin dan agak lengket di tangan, sebarkan tipis-tipis di atas tampah atau nampan lalu jemur sebentar. Liputan6.com pernah mengulas bahwa penjemuran sebentar membantu menurunkan kadar air sekaligus membunuh telur kutu yang mungkin menempel. Dinginkan beras hingga benar-benar sejuk sebelum dimasukkan ke wadah agar tidak muncul embun di dalamnya.
2. Gunakan Wadah Kedap Udara yang Kuat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360844/original/076331200_1790667153-pexels-alleksana-4224258.jpg)
Wadah yang rapat menjaga beras dari uap air dan menutup jalan masuk serangga. Liputan6.com sebelumnya mengulas bahwa wadah dari logam, kaca, atau plastik tebal dan berat lebih dianjurkan, karena kutu cukup kuat menembus kardus atau plastik tipis. Karena itu, jangan membiarkan beras terlalu lama di kemasan bawaan yang tipis.
Penyimpanan tertutup rapat atau hermetik juga sudah diteliti. Sebuah studi tentang kekurangan oksigen pada Sitophilus oryzae di PubMed Central menyebut metode penyimpanan hermetik terbukti menjaga mutu biji-bijian, meski pernah ada laporan serangga yang masih bertahan setelah beberapa bulan. Artinya, wadah rapat tetap perlu dipadukan dengan tips lain, terutama beras yang kering dan bersih.
3. Pilih Tempat Sejuk, Kering, dan Terhindar dari Matahari
Letak wadah sama pentingnya dengan jenis wadah. Panduan IRRI menyebut bahwa perkembangan hama gudang melambat pada suhu di bawah 14 derajat Celsius. Di rumah tropis suhu itu sulit dicapai, jadi pilih sudut paling sejuk dan berventilasi baik.
Jauhkan wadah dari kompor, wastafel, mesin cuci, dan jendela yang terkena matahari langsung. Panas dan uap air membuat kadar air beras naik perlahan, meski wadah tampak kering dari luar.
Advertisement
4. Beri Alas Palet atau Rak untuk Karung Beras
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360845/original/081209600_1790667153-1.jpg)
Jika membeli beras dalam karung besar, jangan letakkan langsung di lantai. Melansir dari IRRI Rice Knowledge Bank, karung sebaiknya ditumpuk di atas palet dengan ruang sedikitnya 50 sentimeter di setiap sisi tumpukan, dan area penyimpanan harus bersih serta tahan lembap.
Di rumah, gunakan alas kayu atau rak plastik, dan beri jarak dari dinding. Sirkulasi udara di bawah dan di samping karung mencegah lantai menyalurkan lembap ke beras.
5. Bersihkan Wadah dan Jangan Campur Beras Lama dengan yang Baru
Wadah yang kotor bisa menjadi sumber kutu baru. Cuci wadah, keringkan sepenuhnya, dan periksa sudut serta sela tutupnya sebelum diisi. IRRI juga menganjurkan agar beras dibersihkan dari debu, sekam, dan butir patah sebelum disimpan.
Kebiasaan lain yang sering terlewat adalah menuang beras baru di atas sisa beras lama. IRRI menegaskan bahwa beras baru tidak boleh disimpan di samping beras lama yang sudah terserang serangga. Habiskan atau periksa dulu sisa lama, lalu cuci wadah sebelum diisi ulang.
6. Dinginkan Beras Baru di Kulkas atau Freezer
Cara ini memakai suhu dingin untuk mematikan telur dan larva yang mungkin terbawa dari toko. Liputan6.com sebelumnya menulis bahwa beras dapat disimpan di freezer selama 24 jam atau di kulkas selama 3–4 hari untuk membunuh kutu dan telurnya.
Kemas beras dalam kantong zip atau wadah tertutup. Setelah dikeluarkan, biarkan mencapai suhu ruang dalam kondisi masih tertutup agar tidak berembun, baru pindahkan ke wadah penyimpanan utama.
7. Coba Bahan Alami sebagai Pelengkap
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360846/original/086205300_1790667153-2.jpg)
Banyak keluarga memakai daun salam, cengkeh, bawang putih, atau cabai kering di dalam wadah beras. Bukti ilmiahnya berbeda-beda untuk tiap bahan. Salah satu yang pernah dibahas adalah cabai. Publikasi Plantwise Knowledge Bank berjudul Hot peppers to control rice weevil in stores: Sitophilus oryzae oleh P. S. J. Torto, F. Kpana, D. Kai, J. D. Spencer, dan M. S. Fofanah membahas pemanfaatan cabai pedas untuk menekan kutu beras di gudang.
Anggap bahan alami sebagai pelengkap, bukan pengganti wadah rapat dan beras yang kering. Pakai cabai kering yang utuh, letakkan di antara beras, lalu buang sebelum beras dimasak agar rasa nasi tidak berubah.
8. Beli Secukupnya dan Terapkan Sistem Pakai yang Lama Dulu
Semakin lama beras disimpan, semakin besar peluang diserang hama. IRRI menyarankan agar gabah tidak disimpan lebih dari enam bulan. Panduan itu ditujukan untuk penyimpanan di tingkat petani atau gudang, tetapi prinsipnya berlaku di rumah.
Belilah beras sesuai kebutuhan satu sampai dua bulan. Gunakan sistem pakai yang lama dulu (first in, first out), yaitu menuang beras baru ke wadah bersih dan menghabiskan beras lama lebih dulu.
Advertisement
9. Periksa Beras Secara Berkala
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360847/original/015926700_1790667155-pexels-ron-lach-8287250.jpg)
Buka wadah sekali seminggu untuk memeriksa. Kutu dewasa biasanya terlihat bergerak di permukaan, dan butiran yang berlubang menandakan larva sudah bekerja. Lembar fakta Lucid Central menganjurkan agar ruang penyimpanan selalu bersih dan pengeringan diulang selama penyimpanan bila perlu.
Pastikan sendok atau gelas takar yang dipakai kering dan bersih. Alat basah bisa membawa uap air ke dalam wadah.
Tips Simpan Beras agar Tidak Berkutu
| Faktor | Anjuran | Alasan |
|---|---|---|
| Kadar air | Di bawah 14 persen, jemur bila lembap | Kadar air tinggi memicu jamur dan kutu |
| Wadah | Kedap udara, logam, kaca, atau plastik tebal | Kutu sulit menembus dan uap air tertahan |
| Lokasi | Sejuk, kering, jauh dari matahari dan kompor | Suhu tinggi mempercepat perkembangan hama |
| Karung | Alasi palet atau rak | Lantai lembap menyalurkan uap air |
| Beras baru | Dinginkan di kulkas atau freezer | Mematikan telur dan larva |
| Pemakaian | Habiskan yang lama dulu | Beras tidak mengendap terlalu lama |
Cara Mengatasi Beras yang Sudah Berkutu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4999417/original/008223200_1731300399-close-up-weevil-destroy-rice_44527-57.jpg)
Jika kutu baru sedikit, ayak beras di tampah lalu jemur sebentar. Kutu dewasa akan keluar dan bisa dibuang. Setelah itu, dinginkan beras di kulkas atau freezer sesuai anjuran di atas, lalu pindahkan ke wadah bersih dan kering.
Sebaliknya, buang beras yang berjamur, berbau apek tajam, atau menggumpal. Kondisi itu menunjukkan kadar air sudah tinggi. Menurut IRRI, kadar air di atas 14 persen membuka peluang tumbuhnya jamur, sehingga beras seperti itu tidak layak dipertahankan.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Membiarkan beras terlalu lama di karung atau plastik tipis.
- Menaruh wadah beras di dekat kompor atau wastafel.
- Menuang beras baru di atas sisa beras lama tanpa mencuci wadah.
- Memasukkan sendok atau gelas takar yang masih basah.
- Membeli terlalu banyak sehingga stok mengendap berbulan-bulan.
Dengan wadah rapat, kadar air terjaga, dan pemeriksaan rutin, stok beras di rumah dapat tetap bersih dan aman dimasak.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputa Cara Menyimpan Beras
1. Berapa lama beras dibekukan agar telur kutu mati?
Liputan6.com sebelumnya mengulas bahwa freezer cukup 24 jam, sedangkan kulkas biasa 3–4 hari.
2. Apakah beras yang berkutu masih boleh dimasak?
Jika hanya sedikit, ayak dan jemur dulu. Buang beras yang berjamur, berbau apek, atau menggumpal.
3. Wadah apa yang paling baik?
Wadah kedap udara dari logam, kaca, atau plastik tebal yang bersih dan kering.
4. Apakah daun salam dan cengkeh pasti efektif?
Belum ada bukti yang kuat untuk semua bahan, jadi pakailah sebagai pelengkap, bukan pengganti wadah tertutup.
5. Berapa lama beras sebaiknya disimpan?
IRRI menyarankan tidak lebih dari enam bulan. Untuk rumah tangga, beli sesuai kebutuhan satu sampai dua bulan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360761/original/003778800_1790664222-Your_paragraph_text__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6210955/original/079363800_1779089133-cek_fakta_BLT_umkm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309917/original/099505800_1785297828-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-29T105932.156.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360842/original/057342100_1790667152-pexels-ron-lach-8287252.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360774/original/024428300_1790664860-47f85a38-aa5d-4f82-80e8-aa2b888a2248.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360123/original/065444400_1790591428-jonathan-leppan-RrDJy-bupZg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360724/original/060800800_1790663058-outi-marjaana-5eu96L3hob4-unsplash__2_.jpg)