Liputan6.com, Jakarta - Pohon matoa yang rimbun tapi tak kunjung berbuah kerap membuat pemiliknya bertanya-tanya, padahal cara membuat pohon matoa cepat berbuah di pekarangan rumah sebenarnya bisa dipelajari dengan mudah. Tanaman asal Papua ini memang dikenal butuh waktu lama untuk berbuah jika ditanam dan dirawat sembarangan, terutama bila bibit dan lokasi tanamnya keliru sejak awal.
Banyak orang mengira pohon matoa hanya bisa berbuah setelah bertahun-tahun ditanam, tanpa cara untuk mempercepatnya. Padahal ada sejumlah teknik sederhana yang bisa membantu pohon matoa lebih cepat memasuki masa pembuahan meski ditanam di lahan terbatas seperti pekarangan rumah biasa.
Berikut sepuluh cara membuat pohon matoa cepat berbuah di pekarangan rumah, mulai dari tahap pemilihan bibit sampai perawatan setelah pohon mulai berbunga, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber pada Jumat (4/9/2026).
Advertisement
1. Pilih Bibit Vegetatif, Bukan Bibit dari Biji
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340114/original/087447200_1788486985-86b315f4-d0f5-4aa0-9167-3c21245f786d.jpg)
Langkah paling menentukan justru dimulai sebelum pohon ditanam, yaitu saat memilih jenis bibit. Bibit dari biji atau cara generatif memang mudah didapat, tapi butuh waktu lima sampai tujuh tahun sebelum pohon mulai berbuah. Sifat buahnya pun belum tentu sama persis dengan pohon induk karena ada kemungkinan variasi genetik.
Sebagai gantinya, pilih bibit hasil cangkok, okulasi, atau sambung pucuk. Bibit vegetatif seperti ini mewarisi sifat pohon induk yang sudah terbukti produktif, sehingga masa tunggu sebelum berbuah jauh lebih singkat, biasanya sekitar tiga sampai empat tahun setelah tanam di lahan.
Saat membeli bibit, perhatikan kondisi fisiknya. Pilih bibit dengan batang kokoh, daun segar tanpa bercak, dan akar yang sudah terbentuk baik di dalam polybag. Bibit yang sehat sejak awal akan lebih cepat beradaptasi dan tumbuh normal setelah dipindah ke pekarangan.
Advertisement
2. Tanam di Lokasi dengan Sinar Matahari Penuh
Matoa termasuk tanaman yang sangat menyukai cahaya. Tempatkan bibit di area terbuka yang tidak terhalang atap rumah, tembok tinggi, atau pohon besar lain. Idealnya, pohon matoa mendapat sinar matahari langsung selama enam sampai delapan jam setiap hari agar proses fotosintesis berjalan optimal.
Kekurangan cahaya membuat pohon cenderung tumbuh tinggi mengejar sinar, namun jarang membentuk bunga. Energi yang seharusnya dipakai untuk reproduksi malah habis untuk pertumbuhan daun dan batang. Kondisi ini yang sering membuat pohon matoa di pekarangan sempit tumbuh subur tapi tidak kunjung berbuah bertahun-tahun.
Jika pekarangan rumah terbatas, pilih sisi yang paling lama terpapar matahari, biasanya area timur atau selatan yang tidak tertutup bangunan pada siang hari. Hindari juga menanam terlalu dekat dengan pohon besar lain karena akan bersaing memperebutkan cahaya dan unsur hara di dalam tanah.
3. Siapkan Media Tanam yang Gembur dan Berpori
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311876/original/021192100_1785466813-f2e8f81f-a184-4b73-8fe4-058661b7381c.jpeg)
Matoa tumbuh baik di tanah kering yang tidak tergenang air, dengan lapisan tanah yang cukup tebal untuk perkembangan akar. Sebelum menanam, campurkan tanah pekarangan dengan pupuk kandang matang atau kompos supaya struktur tanah menjadi lebih gembur dan kaya unsur hara alami.
Pastikan area tanam memiliki drainase yang baik. Akar matoa mudah membusuk bila terus-menerus terendam air, sehingga genangan justru menghambat pertumbuhan dan menunda pembuahan. Kalau kondisi tanah pekarangan cenderung padat, buat bedengan sedikit tinggi atau tambahkan pasir agar air lebih mudah meresap.
Untuk yang menanam dalam pot atau tabulampot karena lahan sempit, gunakan campuran tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan seimbang. Media seperti ini menjaga akar tetap sehat sekaligus mempermudah penyerapan air dan nutrisi selama pohon tumbuh di ruang terbatas.
Advertisement
4. Jaga Pola Penyiraman agar Tidak Berlebihan
Penyiraman yang konsisten penting terutama pada masa awal tanam. Siram secukupnya setiap pagi atau sore agar tanah tetap lembap tanpa becek. Waktu ini dipilih karena suhu tidak terlalu terik sehingga air tidak cepat menguap dan akar tidak mudah stres akibat perubahan suhu mendadak.
Hindari menyiram berlebihan hingga tanah selalu basah. Akar yang terus terendam air rentan busuk, dan pohon yang akarnya bermasalah biasanya justru sibuk memperbaiki diri, bukan membentuk bunga. Cukup pastikan tanah lembap di kedalaman akar, bukan tergenang di permukaan.
Setelah pohon dewasa dan mulai memasuki usia produktif, penyiraman bisa disesuaikan dengan musim. Pada musim kemarau, frekuensi penyiraman ditambah agar pohon tidak kekeringan, sementara pada musim hujan cukup pastikan air tidak menggenang di sekitar pangkal batang.
5. Terapkan Pemupukan Bertahap Sesuai Fase Tanaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340115/original/091473600_1788486985-35ffa963-9f9f-4734-a2b6-9bffe773154f.jpg)
Pada masa pertumbuhan awal, pohon matoa membutuhkan pupuk dengan kandungan nitrogen cukup tinggi untuk mendukung pertumbuhan daun dan batang. Berikan pupuk NPK seimbang setiap satu sampai dua bulan agar rangka pohon terbentuk kuat sebelum memasuki fase pembungaan.
Setelah pohon cukup besar dan siap memasuki fase generatif, kurangi porsi nitrogen dan ganti dengan pupuk berkadar fosfor dan kalium tinggi, seperti MKP atau KCl. Fosfor merangsang pembentukan bunga dan akar, sementara kalium mendukung kualitas buah dan daya tahan tanaman terhadap perubahan cuaca.
Imbangi pupuk kimia dengan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang setiap bulan untuk menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Jangan tergoda memberi pupuk berlebihan karena kelebihan unsur hara justru bisa mengganggu keseimbangan pertumbuhan, bukan mempercepat pembuahan seperti yang diharapkan.
Advertisement
6. Lakukan Pemangkasan agar Energi Terarah ke Pembungaan
Pemangkasan bukan sekadar merapikan tampilan pohon, tapi juga cara mengarahkan energi tanaman. Pangkas tunas air atau cabang yang tumbuh liar ke arah dalam tajuk, sebab cabang seperti ini biasanya hanya menghabiskan nutrisi tanpa berkontribusi pada pembentukan bunga di kemudian hari.
Pangkas juga ranting yang terlalu rapat agar sinar matahari bisa masuk merata ke seluruh bagian tajuk. Tajuk yang terlalu rimbun membuat cabang bagian dalam kurang cahaya, sehingga bagian tersebut cenderung tidak produktif meski pohon terlihat sehat dan hijau dari luar.
Lakukan pemangkasan secara bertahap, jangan langsung memotong banyak cabang sekaligus. Pohon tetap membutuhkan daun yang cukup untuk fotosintesis, karena hasil fotosintesis itulah yang menjadi sumber energi utama bagi tanaman untuk melewati proses pembungaan hingga pembentukan buah secara sempurna.
7. Coba Teknik Pengeratan atau Pelilitan Batang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340116/original/094859300_1788486985-71a98b4b-fb30-46f7-829d-e377b9e5366d.jpg)
Pengeratan adalah teknik menyayat tipis kulit batang secara melingkar untuk menghambat sementara aliran nutrisi menuju akar. Nutrisi yang tertahan di bagian atas batang akan menumpuk dan memicu pohon membentuk bunga lebih cepat. Teknik ini hanya cocok diterapkan pada batang yang sudah cukup kokoh.
Sebagai alternatif yang lebih aman untuk pohon berkulit tipis, gunakan pelilitan kawat pada cabang tertentu. Lilitkan kawat cukup kencang lalu biarkan beberapa bulan hingga sedikit menekan kulit batang. Prinsip kerjanya sama, yaitu menghambat sementara aliran nutrisi ke akar agar terpicu pembungaan.
Setelah pohon mulai menunjukkan tanda berbunga, lepas kembali kawat atau biarkan luka sayatan pulih dengan sendirinya. Jika dibiarkan terlalu lama, teknik ini bisa merusak jaringan batang secara permanen, jadi perhatikan waktunya dan jangan menerapkannya pada cabang yang masih muda.
Advertisement
8. Terapkan Stres Air Terkendali pada Musim Kemarau
Stres air adalah teknik mengurangi penyiraman untuk sementara waktu hingga tanaman sedikit layu, sebelum disiram kembali secara normal. Kondisi tertekan ini bisa merangsang tanaman mempercepat fase reproduktif sebagai respons alami untuk mempertahankan keturunan lewat pembentukan bunga dan biji.
Teknik ini paling aman diterapkan pada pohon yang sudah cukup dewasa dan berakar kuat, biasanya menjelang pergantian musim dari hujan ke kemarau. Kurangi frekuensi penyiraman secara bertahap selama beberapa minggu, lalu amati responsnya sebelum melanjutkan ke tahap penyiraman normal kembali.
Lakukan dengan hati-hati dan jangan sampai pohon benar-benar kekurangan air dalam waktu lama. Stres air yang berlebihan justru bisa merusak akar dan menghambat pertumbuhan secara keseluruhan, sehingga tujuan mempercepat pembuahan malah berbalik membuat pohon menjadi lebih lemah.
9. Gunakan Zat Pengatur Tumbuh Sesuai Dosis Anjuran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340117/original/098478100_1788486985-5cb16bf9-bcbe-4d7e-b3c4-7771db4b4783.jpg)
Zat pengatur tumbuh atau ZPT bisa membantu memicu pembungaan lebih cepat, salah satunya yang umum dipakai adalah paklobutrazol. Cara kerjanya menekan pertumbuhan vegetatif sehingga tanaman lebih cepat berpindah ke fase pembentukan bunga dibanding hanya mengandalkan pertumbuhan daun dan cabang baru.
Aplikasikan ZPT pada pangkal batang atau semprotkan ke bagian daun sesuai dosis yang tertera pada kemasan produk. Waktu pagi hari lebih dianjurkan karena penyerapan melalui stomata daun berlangsung lebih optimal, sehingga zat tersebut bekerja lebih efektif merangsang pembentukan bunga pada pohon.
Gunakan ZPT secukupnya dan jangan menambah dosis secara sembarangan dengan harapan hasil lebih cepat. Penggunaan berlebihan justru berisiko mengganggu pertumbuhan normal tanaman. Teknik ini sebaiknya menjadi pelengkap dari perawatan dasar seperti pemupukan dan penyinaran, bukan solusi utama satu-satunya.
Advertisement
10. Rawat Pohon Setelah Berbunga hingga Panen
Setelah bunga muncul, jangan berhenti merawat pohon seperti sebelumnya. Berikan pupuk organik cair, misalnya dari fermentasi kuning telur, seminggu sekali untuk mendukung pembentukan buah yang sempurna. Kandungan fosfor dan kalium alami di dalamnya membantu memperkuat proses dari bunga menjadi buah.
Lakukan penjarangan pada bunga atau buah muda yang tumbuh terlalu rapat dalam satu tandan. Penjarangan membuat nutrisi terfokus pada buah yang tersisa, sehingga ukurannya lebih besar dan rasanya lebih manis dibanding dibiarkan tumbuh berdesakan tanpa ada seleksi sama sekali.
Pantau juga kemunculan hama atau penyakit selama masa pembuahan berlangsung. Kulit buah matoa memang cukup keras dan relatif tahan hama, tapi bagian bunga dan buah muda tetap rentan diserang serangga, jadi tetap lakukan pengecekan rutin agar hasil panen tidak berkurang drastis.
Kesalahan yang Perlu Dihindari agar Matoa Tidak Gagal Berbuah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7092322/original/068378900_1779873967-matoa.jpeg)
Selain menerapkan cara-cara di atas, penting juga mengenali kebiasaan keliru yang justru menghambat pohon matoa berbuah. Beberapa kesalahan berikut sering tidak disadari pemilik tanaman, padahal dampaknya cukup besar terhadap kecepatan dan hasil pembuahan pohon matoa di pekarangan rumah.
Menanam di Tempat Teduh: Menempatkan pohon di bawah naungan bangunan atau pohon besar membuat pohon kekurangan cahaya sehingga sulit memasuki fase pembungaan meski pertumbuhan daunnya terlihat subur dan sehat.
Memberi Pupuk Nitrogen Berlebihan: Terlalu banyak nitrogen membuat pohon terus tumbuh daun dan cabang baru, sementara energi untuk pembentukan bunga jadi tertunda karena prioritas tanaman masih pada pertumbuhan vegetatif.
Menyiram Terlalu Sering: Tanah yang selalu basah membuat akar rentan busuk, sehingga pohon sibuk memulihkan akar yang bermasalah dibanding mengalihkan energi ke pembentukan bunga dan buah.
Memangkas Terlalu Ekstrem: Memotong hampir seluruh daun sekaligus membuat pohon kehilangan sumber energi dari fotosintesis, sehingga pertumbuhan justru melambat alih-alih mempercepat pembuahan seperti yang diharapkan.
Membiarkan Kawat Pelilitan Terlalu Lama: Lupa melepas kawat setelah pohon berbunga bisa merusak jaringan batang secara permanen dan mengganggu aliran nutrisi ke seluruh bagian pohon dalam jangka panjang.
Mengabaikan Dosis ZPT: Menambah dosis zat pengatur tumbuh secara sembarangan dengan harapan hasil instan justru berisiko mengganggu keseimbangan pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Membuat Pohon Matoa Cepat Berbuah
Berapa lama pohon matoa berbuah setelah ditanam?
Bibit hasil cangkok atau okulasi biasanya mulai berbuah pada usia tiga sampai empat tahun, sedangkan bibit yang ditanam langsung dari biji bisa memakan waktu lima sampai tujuh tahun sebelum berbuah pertama kali.
Apakah pohon matoa bisa berbuah di pot atau tabulampot?
Bisa, asalkan ukuran pohon dikendalikan lewat pemangkasan rutin dan media tanamnya dijaga tetap porous, meski hasil buahnya umumnya tidak akan sebanyak pohon yang ditanam langsung di tanah pekarangan.
Apa fungsi pengeratan batang pada pohon matoa?
Pengeratan berfungsi menghambat sementara aliran nutrisi menuju akar, sehingga cadangan makanan menumpuk di bagian batang atas dan memicu pohon lebih cepat membentuk bunga dibanding dibiarkan tumbuh tanpa perlakuan tambahan.
Apakah pupuk kimia diperlukan agar matoa cepat berbuah?
Tidak wajib, tapi pupuk berkadar fosfor dan kalium tinggi seperti MKP dapat mempercepat fase pembungaan, dan sebaiknya tetap dikombinasikan dengan pupuk organik agar kesuburan tanah tetap terjaga dalam jangka panjang.
Berapa jam sinar matahari yang dibutuhkan pohon matoa?
Pohon matoa membutuhkan sinar matahari langsung sekitar enam sampai delapan jam setiap hari agar proses fotosintesis, pembungaan, dan pembentukan buah bisa berjalan dengan optimal di sepanjang masa pertumbuhannya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302055/original/028598000_1784530995-Presiden_ke-7_Jokowi_kumpulkan_teman_kuliah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339680/original/094165700_1788424535-cek_fakta_teddy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340113/original/083508600_1788486985-0e0548db-935c-4ffb-9214-7af7b5d2b488.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340118/original/003594100_1788487077-315a60b0-f9e9-40b4-966f-2ef3b7d830f8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5331532/original/023574900_1756440332-pexels-cisiq-1840270.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2025507/original/034736000_1521812438-ktp.jpg)