7 Cara Mengerdilkan Pohon Matoa agar Berbuah di Pot, Cocok untuk Halaman Sempit

Cara mengerdilkan pohon matoa agar berbuah di pot dengan pemangkasan, media, cahaya, air, dan nutrisi tepat.

Diterbitkan 22 Agustus 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Matoa (Pometia pinnata) merupakan pohon buah tropis yang secara alami dapat tumbuh besar ketika ditanam langsung di tanah. Meski demikian, matoa dapat dipelihara sebagai tanaman buah dalam pot (tabulampot) dengan mengelola pertumbuhan tajuk dan menyediakan ruang perakaran yang sesuai agar ukuran tanaman lebih proporsional dengan ruang yang tersedia.

Mengerdilkan matoa dalam pot bukan berarti mengubah sifat alaminya menjadi tanaman kerdil, melainkan mengendalikan pertumbuhan agar tajuk tetap kompak dan ukurannya lebih sesuai dengan ruang yang tersedia. Perawatan tersebut dapat membantu tanaman tetap sehat, tetapi tidak menjamin matoa pasti berbuah karena pembungaan dan pembuahan juga dipengaruhi umur fisiologis serta kondisi lingkungan.

Lebih lanjut, berikut cara mengerdilkan pohon matoa agar berbuah di pot, Selasa (18/8).

1. Pilih Bibit Matoa dari Perbanyakan Vegetatif

Jika tujuan utama adalah memperoleh tanaman yang berpotensi memasuki fase berbuah lebih awal dibandingkan tanaman dari biji, pilih bibit hasil perbanyakan vegetatif dari pohon induk yang telah terbukti sehat dan produktif. Perbanyakan vegetatif, seperti cangkok atau metode vegetatif lain yang sesuai, dapat mempertahankan karakter tanaman induk lebih konsisten dibandingkan perbanyakan dari biji.

Pilih bibit yang memiliki batang sehat, kokoh, dan perakaran berkembang baik. Hindari bibit dengan daun yang banyak menguning, batang mengalami luka, atau akar menunjukkan tanda pembusukan karena kondisi tersebut dapat menghambat proses adaptasi setelah tanaman dipindahkan ke pot.

Bibit dari biji tetap dapat digunakan, tetapi tanaman hasil semai umumnya perlu melewati fase juvenil sebelum memasuki fase reproduktif. Sementara itu, bahan perbanyakan vegetatif dari tanaman dewasa dapat mempertahankan karakter perkembangan tanaman induk sehingga berpotensi memasuki fase reproduktif lebih awal, meskipun waktu mulai berbunga dan berbuah tetap dipengaruhi kondisi pertumbuhannya.

2. Gunakan Pot Besar dengan Drainase Baik

Gunakan pot yang cukup besar, kokoh, dan memiliki lubang drainase karena matoa merupakan pohon yang secara alami memiliki sistem perakaran dan tajuk yang berkembang cukup besar. Penanaman dalam pot memang membatasi ruang perakaran sehingga pertumbuhan tanaman dapat lebih terkendali, tetapi ruang akar tetap harus memadai agar tanaman tidak mengalami stres berat.

Untuk halaman sempit, pilih wadah yang proporsional dengan ukuran tanaman dan dapat menopang tajuk ketika semakin besar. Pot yang terlalu kecil tidak diperlukan untuk membuat tanaman tetap pendek karena pembatasan akar secara berlebihan justru dapat mengganggu penyerapan air dan unsur hara serta menurunkan kesehatan tanaman.

Gunakan media tanam yang subur, memiliki drainase baik, dan tetap mampu mempertahankan kelembapan. Bahan organik matang dapat digunakan sebagai salah satu komponen media, tetapi media tidak boleh mudah tergenang karena kondisi akar yang terus-menerus jenuh air dapat mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan risiko masalah perakaran.

3. Bentuk Tajuk sejak Tanaman Masih Muda

Pemangkasan pembentukan dapat dilakukan sejak tanaman masih muda dan sudah tumbuh sehat untuk menghasilkan struktur tajuk yang lebih kompak. Pendekatan ini lebih baik daripada membiarkan pohon tumbuh terlalu tinggi kemudian memangkas sebagian besar tajuk sekaligus.

Pilih beberapa cabang utama yang sehat dan memiliki posisi relatif baik untuk membentuk kerangka tajuk. Cabang yang patah, sakit, saling bergesekan, tumbuh terlalu rapat, atau mengarah ke bagian dalam tajuk dapat diseleksi dan dipangkas untuk membantu menciptakan struktur yang lebih terbuka.

Lakukan pemangkasan secara bertahap dan hindari pemotongan berlebihan dalam satu waktu. Pemangkasan yang terlalu berat dapat mengurangi luas daun secara drastis dan memicu munculnya tunas vegetatif yang vigor, sehingga tanaman membutuhkan waktu untuk memulihkan pertumbuhannya.

4. Kendalikan Ukuran Tajuk dengan Pemangkasan Pemeliharaan

Setelah bentuk dasar tanaman terbentuk, lakukan pemangkasan pemeliharaan untuk mempertahankan tinggi dan lebar tajuk sesuai dengan ruang yang tersedia. Tunas yang tumbuh sangat tegak dan terlalu vigor dapat diseleksi, terutama jika pertumbuhannya mengganggu bentuk tajuk atau mengambil ruang yang dibutuhkan cabang utama.

Cabang yang terlalu panjang dapat dipendekkan secara bertahap untuk mempertahankan ukuran tanaman. Pemangkasan juga dapat membantu mempertahankan tajuk agar tidak terlalu padat sehingga cahaya dapat menjangkau bagian dalam tanaman dan sirkulasi udara tetap baik.

Pemangkasan hanya berfungsi sebagai salah satu cara mengendalikan ukuran tanaman dan tidak dapat dijadikan jaminan bahwa matoa akan segera berbunga. Tanaman tetap perlu mencapai kematangan fisiologis serta memperoleh kondisi tumbuh yang mendukung sebelum dapat memasuki fase reproduktif.

5. Letakkan Pot di Area dengan Cahaya Matahari yang Cukup

Letakkan pot matoa di area terbuka yang memperoleh sinar matahari langsung dalam jumlah memadai untuk mendukung fotosintesis dan pertumbuhan tanaman. Hindari menempatkannya di sudut yang teduh sepanjang hari karena keterbatasan cahaya dapat mengurangi kemampuan tanaman menghasilkan fotosintat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Pada halaman sempit, penempatan pot perlu memperhitungkan posisi bangunan, pagar, atau pohon lain yang dapat memberikan naungan. Pastikan tanaman tetap memperoleh paparan cahaya yang memadai, tetapi pantau kondisi media karena tanaman dalam pot dapat kehilangan air lebih cepat ketika berada di tempat yang panas dan terbuka.

Kebutuhan air perlu disesuaikan dengan cuaca dan kondisi media, bukan hanya berdasarkan jadwal penyiraman yang tetap. Pada musim hujan, penyiraman biasanya perlu dikurangi dan drainase harus dipastikan berfungsi baik, sedangkan pada musim kemarau media dalam pot perlu diperiksa lebih sering karena lebih cepat kehilangan kelembapan.

6. Atur Air dan Nutrisi secara Seimbang

Matoa yang ditanam dalam pot membutuhkan air secara teratur karena volume media terbatas dan tidak memiliki cadangan air sebesar tanah di lahan. Siram ketika media mulai kehilangan kelembapan, kemudian pastikan kelebihan air dapat keluar melalui lubang drainase sehingga akar tidak terus berada dalam kondisi jenuh air.

Pemupukan sebaiknya dilakukan secara seimbang sesuai umur, ukuran tanaman, kondisi media, dan kebutuhan pertumbuhannya. Pemberian nitrogen yang berlebihan dapat mendorong pertumbuhan daun dan tunas secara kuat, tetapi nitrogen tetap dibutuhkan tanaman sehingga tidak tepat jika sengaja dihilangkan hanya untuk memicu pembungaan.

Kompos atau bahan organik matang dapat digunakan untuk membantu mempertahankan kualitas media, sedangkan pupuk tambahan sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan dan dosis yang tercantum pada produk. Jangan menganggap semakin banyak pupuk akan membuat matoa lebih cepat berbuah karena kelebihan unsur hara justru dapat mengganggu keseimbangan pertumbuhan tanaman.

7. Pertahankan Daun dan Kondisi Tanaman hingga Memasuki Fase Berbuah

Setelah ukuran tanaman terkendali, jangan memangkas setiap tunas baru secara berlebihan karena tanaman tetap membutuhkan daun untuk melakukan fotosintesis. Hasil fotosintesis tersebut menyediakan sumber energi dan bahan organik yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan, perkembangan, serta proses reproduktif tanaman.

Matoa secara alami merupakan pohon berukuran besar sehingga tanaman yang dipelihara dalam pot tetap membutuhkan ruang, perawatan, dan waktu untuk berkembang. Tabulampot dapat membantu mengendalikan ukuran tanaman, tetapi produksi buahnya belum tentu sebanyak matoa yang tumbuh langsung di tanah karena ruang akar dan sumber daya yang tersedia lebih terbatas.

Waktu berbunga dan berbuah tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tinggi tanaman atau frekuensi pemangkasan. Penggunaan bibit vegetatif dari induk produktif dapat membantu tanaman memasuki fase reproduktif lebih awal dibandingkan tanaman yang masih harus melewati fase juvenil dari biji. Namun, keberhasilan pembungaan dan pembuahan tetap dipengaruhi kematangan tanaman, kondisi lingkungan, cahaya, air, serta ketersediaan unsur hara.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengerdilkan Pohon Matoa agar Berbuah di Pot

1. Apakah pohon matoa bisa berbuah jika ditanam di pot?

Bisa, matoa dapat dipelihara sebagai tabulampot dan berpotensi menghasilkan buah jika tanaman memperoleh kondisi tumbuh yang sesuai. Namun, penanaman dalam pot membatasi ruang perakaran sehingga pertumbuhan dan produksi buah dapat berbeda dibandingkan matoa yang ditanam langsung di tanah.

2. Apakah memangkas pohon matoa bisa membuatnya cepat berbuah?

Pemangkasan terutama berfungsi untuk mengendalikan ukuran dan membentuk tajuk agar tetap kompak, bukan sebagai cara yang menjamin matoa cepat berbunga. Tanaman tetap perlu mencapai kematangan fisiologis dan memperoleh cahaya, air, serta nutrisi yang memadai sebelum memasuki fase reproduktif.

3. Lebih baik menanam matoa dari biji atau bibit vegetatif?

Untuk tabulampot yang diharapkan lebih cepat memasuki fase berbuah, bibit hasil perbanyakan vegetatif dari induk yang sehat dan produktif dapat menjadi pilihan. Tanaman dari biji umumnya perlu melewati fase juvenil terlebih dahulu, sedangkan tanaman vegetatif dari tanaman dewasa dapat mempertahankan karakter perkembangan induknya, meskipun waktu berbunga dan berbuah tetap dipengaruhi kondisi tanaman dan lingkungan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6