Liputan6.com, Jakarta - Anak tidak harus menunggu mendapatkan gaji pertama untuk mulai memahami cara menggunakan uang. Justru, cara mengajarkan anak mengelola uang sebelum bekerja dapat dimulai sejak mereka masih kecil melalui kebiasaan sederhana di rumah. Cara orang tua berbelanja, menabung, membuat prioritas, dan mengambil keputusan akan menjadi contoh yang mudah ditiru anak.
Pendidikan finansial untuk anak tidak selalu harus berupa penjelasan rumit tentang investasi, anggaran, atau rekening bank. Percakapan sederhana dan pengalaman sehari-hari sudah dapat menjadi dasar yang kuat. Misalnya, anak bisa belajar bahwa uang digunakan untuk memenuhi kebutuhan, mencapai tujuan, dan menentukan pilihan, bukan sekadar membeli barang yang mereka inginkan.
Semakin dini anak memahami nilai uang, semakin besar kesempatan mereka membangun kebiasaan finansial yang sehat. Berikut delapan kebiasaan yang bisa dikenalkan orang tua sejak anak tumbuh hingga sebelum mereka memasuki dunia kerja, dilansir Liputan6.com dari Times of India, Selasa (18/8/2026).
Advertisement
1. Ajarkan bahwa kasih sayang tidak memiliki harga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771021/original/090316200_1710314806-IMG_1696.jpeg)
Orang tua terkadang menunjukkan rasa sayang dengan membelikan hadiah mahal untuk anak. Memberikan hadiah tentu tidak salah, tetapi anak juga perlu memahami bahwa perhatian dan kasih sayang tidak ditentukan oleh harga sebuah barang.
Sesekali, orang tua dapat mengganti hadiah mahal dengan aktivitas sederhana yang dilakukan bersama. Misalnya, daripada membeli hadiah seharga Rp 100.000, orang tua dapat menggunakan sekitar Rp 20.000 untuk membeli bahan makanan atau membuat bersama di rumah. Nilai pengalaman tersebut bisa jauh lebih berkesan bagi anak.
Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan pengeluaran besar. Waktu, perhatian, percakapan, dan pengalaman bersama juga memiliki nilai yang tidak dapat diukur dengan uang.
Pelajaran tersebut penting agar anak tidak tumbuh dengan anggapan bahwa barang mahal adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kebahagiaan atau merasa dihargai. Mereka akan belajar membedakan antara kebutuhan emosional dan keinginan material.
Advertisement
2. Ajarkan prioritas, bukan sekadar mengatakan “kita tidak punya uang”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771024/original/054251300_1710314807-IMG_1699.jpeg)
Ketika anak meminta pergi ke pusat perbelanjaan atau membeli sesuatu yang diinginkan, orang tua tidak harus selalu menjawab dengan kalimat, “Kita tidak punya uang.” Sebaliknya, ajarkan bahwa uang berkaitan dengan pilihan dan prioritas.
Misalnya, ketika anak ingin pergi ke tempat yang membutuhkan banyak biaya, orang tua dapat menawarkan alternatif seperti taman, museum, atau tempat wisata gratis. Jelaskan bahwa keluarga memilih kegiatan tersebut karena ingin menggunakan uang untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih penting.
Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya belajar tentang keterbatasan uang, tetapi juga memahami konsep menentukan prioritas. Mereka mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang menarik harus dibeli atau dilakukan saat itu juga.
Kebiasaan tersebut akan berguna ketika mereka dewasa. Saat memiliki penghasilan sendiri, mereka diharapkan mampu menentukan apakah uang sebaiknya digunakan untuk kebutuhan, hiburan, tabungan, atau tujuan jangka panjang.
3. Biarkan anak merasakan langsung proses transaksi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5620187/original/092199100_1778209190-warung_sembako.jpeg)
Konsep uang akan lebih mudah dipahami ketika anak menggunakannya secara langsung. Orang tua dapat memberikan sejumlah kecil uang, misalnya Rp 10.000, lalu meminta anak membeli beberapa barang sederhana di toko terdekat dengan pengawasan yang sesuai usia.
Dari pengalaman tersebut, anak dapat memahami bahwa uang yang mereka berikan akan ditukar dengan barang. Mereka juga bisa belajar melihat harga, menghitung kembalian, membandingkan produk, dan menentukan pilihan berdasarkan jumlah uang yang tersedia.
Aktivitas sederhana seperti berbelanja kebutuhan rumah tangga juga bisa menjadi pelajaran finansial yang menarik. Orang tua dapat bertanya, "Mana yang lebih murah?" atau "Kalau uangnya tersisa Rp 5.000, mau digunakan untuk apa?"
Dengan begitu, anak tidak hanya mengenal bentuk uang, tetapi juga mulai memahami hubungan antara uang, harga, barang, dan keputusan. Pengalaman langsung ini dapat menjadi fondasi sebelum mereka belajar mengelola penghasilan sendiri.
Advertisement
4. Ajarkan menabung sebelum membeli
Anak perlu memahami bahwa keinginan tidak selalu harus dipenuhi seketika. Jika mereka menginginkan sepeda seharga Rp 2 juta, orang tua dapat mengubah keinginan tersebut menjadi tujuan menabung.
Misalnya, orang tua dan anak sepakat menyisihkan Rp 10.000 setiap bulan hingga jumlah yang dibutuhkan terkumpul. Anak dapat dilibatkan dalam mencatat perkembangan tabungan agar mereka melihat bagaimana uang sedikit demi sedikit mendekati target.
Pelajaran ini mengajarkan kesabaran sekaligus disiplin. Anak memahami bahwa mendapatkan sesuatu membutuhkan proses dan bahwa menunda keinginan bukan berarti mereka tidak boleh memilikinya.
Menabung untuk tujuan tertentu juga membuat anak lebih menghargai barang yang akhirnya mereka dapatkan. Mereka ikut merasakan proses mencapainya sehingga tidak mudah menganggap barang sebagai sesuatu yang selalu tersedia begitu saja.
Kebiasaan ini nantinya dapat diterapkan pada tujuan finansial yang lebih besar, seperti membeli kendaraan, membayar pendidikan, atau menyiapkan dana untuk kebutuhan tertentu.
5. Ajarkan bahwa berbelanja bukan sumber kebahagiaan
Anak dapat dengan mudah menghubungkan aktivitas bepergian dengan membeli sesuatu. Setiap kali pergi ke mal, restoran, atau pusat perbelanjaan, mereka mungkin mulai menganggap bahwa jalan-jalan harus selalu berakhir dengan pembelian.
Orang tua dapat mengubah kebiasaan tersebut dengan sesekali mengajak anak pergi tanpa membeli apa pun. Keluarga dapat mengunjungi taman, museum, tempat bersejarah, perpustakaan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama di rumah.
Tujuannya adalah menunjukkan bahwa pengalaman menyenangkan tidak selalu membutuhkan transaksi. Anak dapat bersenang-senang melalui permainan, percakapan, eksplorasi, atau kegiatan bersama keluarga.
Pelajaran ini semakin penting di tengah banyaknya iklan yang menghubungkan produk dengan kebahagiaan. Anak perlu memahami bahwa membeli sesuatu memang bisa menyenangkan, tetapi kebahagiaan tidak seharusnya selalu bergantung pada konsumsi.
Advertisement
6. Jadikan momen perayaan sebagai pelajaran bisnis pertama
![Rayakan Kebahagiaan Momen Kecil Bersama Anak, Mikaila Patritz Ajak Para Ibu Menemukan Arti Cinta Lewat Momami [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/8SRyoS4_3t9pe5RylQAn28G2gJk=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5393031/original/038571300_1761540018-happy-asian-family-mom-daughter-embracing-kissing-cheek-congratulating-with-birthday-house-3.jpg)
Momen festival atau perayaan dapat menjadi kesempatan sederhana untuk memperkenalkan konsep kewirausahaan kepada anak. Orang tua dapat mengajak mereka membuat kartu ucapan, dekorasi kecil, makanan sederhana, atau kerajinan tangan.
Jika sesuai dengan usia anak, hasil karya tersebut dapat ditawarkan kepada keluarga, teman, atau tetangga dengan pendampingan orang tua. Tujuannya bukan semata-mata mendapatkan keuntungan, melainkan memperkenalkan bagaimana sebuah ide dapat berubah menjadi produk yang memiliki nilai.
Dari kegiatan tersebut, anak dapat belajar tentang usaha, harga, pelanggan, biaya, keuntungan, dan tanggung jawab. Mereka juga memahami bahwa uang dapat diperoleh melalui proses menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Bahkan menjual beberapa kartu buatan sendiri sudah bisa menjadi pengalaman berharga. Anak akan melihat secara langsung bahwa menghasilkan uang membutuhkan ide, tenaga, waktu, kreativitas, dan kemampuan berkomunikasi.
7. Berikan kemandirian dan biarkan anak melakukan kesalahan
Salah satu pelajaran finansial paling penting justru berasal dari kesalahan kecil. Jika anak mendapatkan uang saku lalu menghabiskannya terlalu cepat, orang tua tidak selalu harus memberikan uang tambahan ketika mereka menginginkan sesuatu di kemudian hari.
Biarkan anak merasakan konsekuensi yang aman dan sesuai usianya. Misalnya, jika uang sakunya sudah habis, mereka mungkin harus menunggu hingga jadwal uang saku berikutnya untuk membeli sesuatu yang diinginkan.
Momen tersebut dapat digunakan untuk berdiskusi, bukan memarahi. Orang tua dapat bertanya apa yang membuat uang cepat habis dan apa yang bisa dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya.
Pengalaman seperti ini mengajarkan tanggung jawab secara langsung. Anak akan memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi dan bahwa mengatur uang membutuhkan perencanaan.
Tentu, kebebasan tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak. Tujuannya bukan membiarkan mereka menghadapi masalah finansial yang serius, melainkan memberikan ruang untuk belajar mengambil keputusan secara mandiri.
Advertisement
8. Berikan contoh karena pelajaran uang dimulai dari rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173984/original/045003500_1742892616-happy-asian-family-saving-money-piggy-bank-pig-investment-future-concept_74952-1806.jpg)
Anak sering belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Karena itu, kebiasaan finansial orang tua dapat menjadi contoh yang sangat kuat.
Jika anak melihat orang tua membandingkan harga sebelum membeli, membuat daftar belanja, menabung secara rutin, merencanakan pengeluaran, dan menghindari pembelian yang tidak diperlukan, mereka akan memahami bahwa keputusan finansial membutuhkan pertimbangan.
Orang tua juga dapat melibatkan anak dalam percakapan sederhana mengenai prioritas. Misalnya, menjelaskan mengapa keluarga memilih menabung untuk tujuan tertentu daripada membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan.
Pelajaran terpenting bukan hanya mengajarkan anak cara menyimpan atau membelanjakan uang. Anak perlu memahami bahwa setiap rupiah mewakili waktu, tenaga, pekerjaan, pilihan, dan prioritas.
Ketika pemahaman tersebut sudah terbentuk sejak kecil, anak akan memiliki bekal penting sebelum memasuki dunia kerja. Mereka tidak hanya tahu cara mendapatkan uang, tetapi juga mampu mempertimbangkan dengan bijak bagaimana uang tersebut digunakan.
Pertanyaan Seputar Mengajarkan Anak Mengelola Uang
Kapan sebaiknya anak mulai belajar mengelola uang?
Sejak usia dini melalui aktivitas sederhana seperti menabung, berbelanja, dan menentukan pilihan berdasarkan prioritas.
Bagaimana cara mengajarkan anak menabung?
Mulailah dengan tujuan yang konkret, misalnya menabung secara rutin untuk membeli mainan atau sepeda yang mereka inginkan.
Apakah anak perlu diberi uang saku untuk belajar finansial?
Bisa. Uang saku dalam jumlah yang sesuai usia dapat membantu anak belajar membuat pilihan dan memahami konsekuensi pengeluaran.
Apa pelajaran uang yang paling penting untuk anak?
Anak perlu memahami bahwa uang memiliki nilai karena diperoleh melalui waktu dan usaha, sehingga penggunaannya harus berdasarkan kebutuhan dan prioritas.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314286/original/024914700_1785742099-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-03T142618.819.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326998/original/002739300_1787046240-Screenshot_2026-08-18_162316.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147878/original/074965600_1662436164-Cek_Bansos_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326567/original/092602700_1787027929-Screenshot_2026-08-18_110108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301853/original/043044200_1784522759-anak_menabung.jpeg)