Peran Ayah Mengantar Anak Hari Pertama Masuk Sekolah: Membangun Fondasi Pendidikan

Keterlibatan ayah mengantar anak hari pertama masuk sekolah menjadi fondasi penting bagi perkembangan anak, membentuk karakter, dan memperkuat ikatan keluarga.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 12:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari pertama sekolah merupakan momen berarti bagi setiap anak, penanda dimulainya fase belajar dan pengalaman baru. Dalam rutinitas saat ini, peran aktif orang tua, khususnya ayah, dalam mengantar anak hari pertama masuk sekolah mendapat perhatian. Kehadiran ayah pada momen ini bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan sebuah investasi emosional yang membentuk karakter serta kepercayaan diri anak. Ini adalah langkah sederhana yang membawa pengaruh besar bagi perkembangan psikologis dan mental anak, sekaligus memperkuat hubungan keluarga.

Masa transisi ini kerap menimbulkan perasaan cemas pada anak, sebab mereka memasuki lingkungan baru, bertemu guru dan teman baru, serta berpisah sementara dari keluarga. Dalam situasi ini, dukungan orang tua menjadi suatu hal yang dibutuhkan. Kehadiran ayah di sisi anak memberikan sinyal keamanan yang kuat, membuat anak merasa lebih tenang dan berani menghadapi tantangan baru. Ini adalah kesempatan berharga untuk menunjukkan bahwa pendidikan anak merupakan prioritas utama bagi keluarga.

 Melalui gerakan yang mulai diterapkan di berbagai daerah, ayah mengantar anak hari pertama masuk sekolah diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun keterlibatan ayah dalam pengasuhan sejak awal tahun ajaran.  Berikut ini adalah ulasan lengkap mengenai gerakan ayah mengantar anak dan mengapa hal ini penting bagi pertumbuhan siswa, dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (13/7/2026).

Apa Itu Gerakan Ayah Mengantar Anak (GAMAS)?

Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) adalah inisiatif yang menekankan keterlibatan orang tua, khususnya figur ayah, dalam proses pendidikan anak sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah. Gerakan ini mengajak para ayah untuk hadir langsung mendampingi anak pada momen penting tersebut. Kehadiran ayah tidak hanya sebatas mengantar anak ke gerbang sekolah, melainkan menjadi lambang kasih sayang, dukungan emosional, serta komitmen dalam mengawal perjalanan pendidikan anak.

GAMAS muncul sebagai respons terhadap kondisi “fatherless”, yaitu situasi ketika seorang anak kurang merasakan peran ayah. Hal ini terjadi karena berbagai sebab, seperti meninggal dunia, perceraian, pekerjaan yang jauh, atau ayah hadir secara fisik namun kurang terlibat secara emosional. Gerakan ini memiliki tujuan untuk mengubah pola pengasuhan yang selama ini sering didominasi oleh ibu, menjadi lebih kolaboratif dan seimbang antara ayah dan ibu.

Beberapa wilayah di Indonesia telah aktif menjalankan GAMAS. Sebagai contoh, Pemerintah Kota Medan memulai GAMAS untuk mendorong peran ayah dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak. Pemerintah Kabupaten Barito Timur juga menerbitkan Surat Edaran Bupati Nomor 463.2/158/DP3AKB/VI/2026 sebagai implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) melalui GAMAS. Selain itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Bener Meriah, Aceh, juga giat menggalakkan gerakan ini untuk memperkuat karakter dan semangat belajar anak. 

Pemerintah juga telah menyesuaikan kebijakan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) terkait GAMAS. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengimbau instansi pemerintah untuk memberikan fleksibilitas waktu kerja bagi ASN yang ingin mengantar anak di hari pertama sekolah. Imbauan ini tercantum dalam Surat Menteri PANRB Nomor B/257/M.KT.02/2026 yang diterbitkan pada 10 Juli 2026. Kebijakan ini sejalan dengan Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang GAMAS, sebagai bagian dari strategi nasional penguatan ketahanan keluarga.

Mengapa Kehadiran Ayah di Hari Pertama Sekolah Memiliki Arti?

Kehadiran ayah di hari pertama sekolah memiliki makna yang melampaui kegiatan mengantar anak. Ini adalah momen krusial yang membawa pengaruh psikologis mendalam bagi anak. Ayah membawa energi psikologis yang melengkapi peran ibu, menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

  • Ikatan Emosional Terbentuk: Kehadiran ayah pada momen ini menciptakan ikatan emosional yang membawa pengaruh baik terhadap rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam menjalani proses belajar. Momen ini dapat menjadi fondasi kuat bagi hubungan ayah dan anak yang sehat hingga dewasa.
  • Rasa Aman dan Perlindungan Hadir: Anak secara naluriah mengasosiasikan figur ayah sebagai pelindung dari dunia luar. Ketika ayah menggandeng tangan anak masuk ke lingkungan baru, anak menerima sinyal keamanan yang kuat, membuat mereka merasa dunia luar aman dan tidak perlu ditakuti. Rasa aman ini mengurangi kecemasan anak saat menghadapi lingkungan baru.
  • Kepercayaan Diri Anak Meningkat: Anak yang diantar ayahnya ke sekolah cenderung merasa lebih percaya diri. Kehadiran ayah memberikan pesan bahwa momen sekolah adalah peristiwa penting dan anak sangat berharga, yang secara tidak langsung meningkatkan harga diri anak.
  • Kemandirian dan Keberanian Berkembang: Ayah umumnya memiliki pendekatan pengasuhan yang lebih santai dan berorientasi pada tantangan. Hal ini mendorong anak untuk keluar dari zona nyaman dan berani mengeksplorasi tempat baru. Ini membantu anak mengembangkan kemandirian sejak dini.
  • Teladan Positif Tersedia: Saat anak melihat ayah hadir, peduli, dan konsisten menjalankan peran, hal itu menjadi contoh langsung tentang tanggung jawab dan kasih sayang. Ayah yang terlibat aktif menunjukkan bahwa pendidikan adalah prioritas, memberikan teladan penting bagi anak.
  • Fenomena Fatherless Berkurang: Gerakan ini secara khusus menyoroti peran ayah untuk mengatasi fenomena fatherless di Indonesia. Dalam kondisi ini, ayah hadir secara fisik namun kurang terlibat secara emosional dalam pengasuhan. Keterlibatan aktif ayah dapat mengisi kekosongan emosional ini.

Bagaimana Dampaknya bagi Anak dan Keluarga?

Keterlibatan ayah dalam mengantar anak di hari pertama sekolah membawa dampak baik yang luas, tidak hanya bagi anak tetapi juga bagi keutuhan dan ketahanan keluarga. Ini adalah langkah kecil yang dapat menciptakan perubahan baik dalam dinamika keluarga dan perkembangan anak.

  • Stabilitas Emosi Anak Terjaga: Anak yang mendapatkan perhatian dan pendampingan dari ayah cenderung memiliki stabilitas emosi. Kehadiran ayah membantu anak mengelola emosi saat menghadapi situasi baru, seperti lingkungan sekolah.
  • Prestasi Akademik Anak Meningkat: Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkontribusi baik terhadap prestasi akademik anak. Anak yang merasa didukung oleh ayahnya memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi.
  • Karakter Anak Terbentuk Kuat: Keterlibatan ayah dalam momen penting seperti hari pertama sekolah merupakan bagian dari upaya membangun karakter anak. Anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat, disiplin, dan bertanggung jawab.
  • Kemampuan Sosialisasi Anak Baik: Anak yang memiliki ikatan kuat dengan ayahnya cenderung memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik. Rasa aman dan percaya diri yang didapat dari ayah membantu anak berinteraksi dengan teman dan guru.
  • Ketahanan Keluarga Menguat: GAMAS merupakan bagian dari strategi nasional penguatan ketahanan keluarga. Keterlibatan ayah menciptakan budaya pengasuhan yang lebih harmonis dan seimbang, menjadikan keluarga lebih tangguh.
  • Budaya Pengasuhan Kolaboratif Terwujud: Gerakan ini menjadi simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia, dari yang semula terpusat pada peran ibu, menjadi lebih kolaboratif dan seimbang antara ayah dan ibu. Ini mendorong pembagian peran yang seimbang dalam keluarga.
  • Kenangan Manis Tercipta: Momen ayah mengantar anak ke sekolah menciptakan kenangan yang berkesan bagi anak. Kenangan ini akan dihargai hingga dewasa, memperkuat ikatan keluarga.

Tips bagi Ayah yang Ingin Mengantar Anak Hari Ini

Bagi para ayah yang ingin terlibat aktif dalam mengantar anak di hari pertama sekolah, ada beberapa panduan praktis yang dapat membantu menjadikan momen ini berkesan dan bermanfaat. Keterlibatan ayah tidak hanya sebatas fisik, tetapi juga kualitas interaksi yang dibangun.

  • Alokasi Waktu Khusus: Jadwalkan waktu untuk mengantar anak tanpa terburu-buru. Ini menunjukkan bahwa momen tersebut adalah prioritas. Jika memungkinkan, manfaatkan fleksibilitas kerja yang diberikan oleh instansi.
  • Komunikasi dan Dukungan: Selama perjalanan, ajak anak berbicara tentang sekolah, apa yang mereka rasakan, dan berikan kata-kata penyemangat. Ini membangun komunikasi yang hangat dan mengurangi kecemasan anak.
  • Tunjukkan Semangat: Tunjukkan semangat dan antusiasme terhadap hari pertama sekolah anak. Sikap ayah dapat menular kepada anak, membuat mereka lebih bersemangat.
  • Interaksi dengan Guru: Jika waktu memungkinkan, berinteraksi singkat dengan guru atau pihak sekolah. Ini menunjukkan kepada anak bahwa ayah peduli dengan pendidikannya dan membangun kemitraan antara keluarga dan sekolah.
  • Tidak Berlama-lama di Sekolah: Setelah mengantar dan memastikan anak merasa nyaman, hindari berlama-lama di lingkungan sekolah. Ini membantu anak belajar mandiri dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
  • Konsistensi Keterlibatan: Usahakan untuk tidak hanya mengantar di hari pertama, tetapi juga sesekali di hari-hari berikutnya. Keterlibatan yang konsisten akan memberikan dampak jangka panjang.
  • Pemahaman Perasaan Anak: Setiap anak memiliki reaksi berbeda terhadap hari pertama sekolah. Pahami jika anak menunjukkan kecemasan atau enggan berpisah, dan berikan dukungan yang sesuai.

Tanya Jawab Seputar Peran Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah

Apa itu Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS)?

GAMAS adalah inisiatif yang mendorong keterlibatan aktif ayah dalam mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru, sebagai upaya membangun kedekatan emosional, meningkatkan rasa percaya diri anak, dan memperkuat peran ayah dalam pengasuhan.

Mengapa peran ayah memiliki arti di hari pertama sekolah?

Peran ayah memiliki arti karena dapat memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri, mendorong kemandirian, menjadi teladan, dan membangun kedekatan emosional yang kuat dengan anak. Hal ini berkontribusi pada perkembangan psikologis dan akademik anak.

Apakah ASN mendapatkan fleksibilitas waktu untuk mengantar anak di hari pertama sekolah?

Ya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) telah mengimbau instansi pemerintah untuk memberikan fleksibilitas waktu kerja bagi ASN yang ingin mengantar anak di hari pertama sekolah, sesuai dengan Surat Menteri PANRB Nomor B/257/M.KT.02/2026.

Apa dampak baik keterlibatan ayah dalam mengantar anak ke sekolah?

Dampak baiknya meliputi perkembangan emosional yang stabil, peningkatan prestasi akademik, pembentukan karakter yang kuat, kemampuan bersosialisasi yang baik, serta memperkuat ketahanan dan budaya pengasuhan kolaboratif dalam keluarga.

Bagaimana cara ayah dapat terlibat lebih aktif dalam pendidikan anak selain mengantar ke sekolah?

Ayah dapat terlibat lebih aktif dengan mendampingi belajar di rumah, menghadiri kegiatan sekolah, menjalin komunikasi dengan guru, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan ini tidak hanya diukur dari waktu, tetapi juga kualitas interaksi dan dukungan emosional.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6