Liputan6.com, Jakarta Setelah gegap gempita Lebaran yang merupakan momen penuh kehangatan, kebersamaan, dan tawa yang jarang kita rasakan sesering itu dalam keseharian, banyak dari kita justru dilanda perasaan kosong. Rumah yang sebelumnya ramai kini kembali sepi, suasana akrab di kampung halaman telah tergantikan oleh riuhnya kota dan rutinitas yang menanti.
Anehnya alih-alih kembali dengan semangat baru, setelah libur Lebaran yang muncul justru rasa enggan, kehilangan arah, bahkan sedih tanpa alasan yang jelas. Fenomena ini dikenal dengan istilah Post-Holiday Blues atau Post-Ramadan Blues, sebuah kondisi psikologis yang cukup umum terjadi setelah masa libur panjang, terutama setelah momen-momen emosional seperti Lebaran.
Advertisement
Rasa hampa setelah libur Lebaran ini bukan sekadar "malas kerja", tapi bisa berdampak pada suasana hati, produktivitas, hingga kesehatan mental bila tidak disadari dan dikelola dengan baik. Mengapa perasaan ini muncul? Dan bagaimana cara kita menghadapi transisi dari euforia libur Lebaran ke realita sehari-hari tanpa kehilangan semangat? Berikut ulasan lengkap tentang rasa hampa setelah libur Lebaran, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (6/4/2025).
Apa Itu Post-Holiday Blues?
Post-holiday blues atau yang juga dikenal sebagai post-Ramadan blues adalah kondisi emosional yang sering kali muncul setelah masa liburan berakhir. Setelah menjalani hari-hari penuh kebersamaan, kebahagiaan, dan istirahat selama libur panjang seperti Lebaran, banyak orang justru merasa berat hati saat harus kembali ke rutinitas harian. Rasa hampa setelah libur Lebaran ini bukan sekadar rasa malas biasa, tetapi bisa berupa kesedihan, kehilangan semangat, dan kelelahan yang nyata, baik secara fisik maupun mental.
Gejala umum dari post-holiday blues meliputi:
- Perasaan hampa atau murung
- Kurangnya motivasi
- Kelelahan berkepanjangan
- Gangguan tidur atau pola makan
- Kesulitan berkonsentrasi dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari
Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Affective Disorders (Larsen et al., 2019), perubahan suasana hati ini erat kaitannya dengan faktor psikologis, seperti:
- Perubahan rutinitas secara drastis
- Ekspektasi tinggi terhadap liburan yang tidak selalu terpenuhi
- Stres atau tekanan saat kembali menghadapi pekerjaan atau tanggung jawab lainnya
Rasa hampa setelah libur Lebaran bisa menjadi lebih intens karena hari raya ini identik dengan kebersamaan keluarga, nostalgia kampung halaman, dan suasana spiritual selama Ramadan. Ketika semua itu berakhir, banyak orang merasa ada "kekosongan" yang sulit dijelaskan, seolah kehilangan sesuatu yang berharga.
Meskipun bukan gangguan psikologis berat, post-holiday blues bisa berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas jika dibiarkan berlarut-larut. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya dan mencari cara untuk mengatasinya secara sehat dan perlahan.
Advertisement
Penyebab Timbulnya Rasa Hampa Setelah Libur Lebaran
1. Rutinitas yang Mendadak Berubah
Saat liburan Lebaran yang durasinya cukup panjang, kita biasanya keluar dari rutinitas harian. Pola tidur berubah, pola makan cenderung lebih bebas, bersantai lebih lama, dan terhindar dari tekanan pekerjaan atau aktivitas berat. Namun, setelah liburan berakhir, kita dihadapkan pada perubahan mendadak: harus kembali bangun pagi, mengejar target, mematuhi jadwal, dan menghadapi tekanan sehari-hari.
Transisi drastis dari “mode liburan” ke “mode kerja” inilah yang sering memicu stres, kelelahan, dan perasaan tidak nyaman secara fisik maupun mental. Tubuh belum siap, pikiran masih ingin bersantai, tetapi kenyataan menuntut untuk kembali produktif.
2. Ekspektasi Liburan yang Tidak Terpenuhi
Kita sering membangun harapan tinggi terhadap liburan. Misalnya, bisa mudik dengan lancar, berkumpul tanpa konflik, menikmati makanan favorit, atau merasa damai secara emosional dan spiritual. Namun dalam kenyataannya, tidak semua berjalan mulus. Kemacetan parah, perbedaan pendapat dengan keluarga, suasana hati yang tak stabil, atau rencana yang gagal, bisa membuat liburan jauh dari ekspektasi.
Ketika libur usai, kita tidak hanya merasa lelah, tapi juga kecewa. Rasa kecewa ini sering kali tertahan selama liburan dan baru benar-benar terasa ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, sehingga muncul sebagai rasa murung, hampa, atau tidak puas.
3. Kehilangan Atmosfer Ramadan yang Penuh Makna
Ramadan bukan sekadar bulan puasa, tapi juga momentum spiritual yang sangat dalam. Ada rutinitas ibadah yang intens seperti sahur, buka puasa bersama, shalat tarawih, tadarus, dan berbagai kegiatan keagamaan lain yang memberikan rasa damai dan tujuan hidup.
Ketika semua itu berakhir, banyak orang merasa seperti kehilangan pegangan. Ibadah tidak lagi seintens sebelumnya, tidak ada lagi suasana kolektif berbagi dan beribadah bersama. Kekosongan ini tidak selalu disadari, tetapi dapat memicu perasaan kehilangan yang membekas sebagai sebuah void emosional dan spiritual yang menimbulkan post-holiday blues.
4. Kembali ke Kehidupan yang Lebih Sepi
Selama liburan, suasana biasanya ramai, rumah dipenuhi keluarga, obrolan hangat, tawa, dan momen kebersamaan yang jarang terjadi di hari-hari biasa. Tapi setelah itu, semuanya berangsur normal. Bagi banyak orang, terutama yang merantau atau tinggal sendiri, perubahan ini bisa sangat mencolok.
Kesunyian yang datang setelah keriuhan membuat hati terasa kosong. Tidak jarang, ini memunculkan rasa rindu mendalam, kesepian, bahkan sedih yang tidak jelas penyebabnya. Perbedaan suasana yang drastis ini menjadi pemicu kuat munculnya post-holiday blues.
5. Tekanan Finansial Pasca-Lebaran
Libur Lebaran sering kali diiringi dengan lonjakan pengeluaran. Mulai dari tiket perjalanan mudik, belanja baju baru, hampers, konsumsi berlebih, hingga pemberian THR untuk kerabat. Saat euforianya berlangsung, semua terasa “wajar” dilakukan. Namun setelah liburan selesai, kenyataan finansial mulai terasa, tabungan menipis, tagihan menumpuk, dan arus kas terganggu.
Tekanan keuangan ini bisa menyebabkan stres, rasa cemas, dan beban pikiran yang berlarut-larut. Dalam beberapa kasus, tekanan ini juga bisa memicu konflik rumah tangga atau membuat seseorang merasa gagal dalam mengelola keuangannya selama liburan.
6. Minimnya Waktu untuk Menyesuaikan Diri
Tidak semua orang diberi waktu cukup untuk transisi dari libur ke kerja. Banyak dari kita langsung dihadapkan pada tumpukan pekerjaan sehari setelah liburan selesai. Padahal, tubuh dan pikiran masih “terjebak” dalam suasana libur.
Kurangnya waktu adaptasi ini membuat kita mudah merasa kewalahan. Tidak ada jeda untuk mencerna pengalaman liburan, tidak ada waktu untuk mempersiapkan mental. Akibatnya, hari pertama atau bahkan minggu pertama setelah liburan bisa terasa sangat berat dan membuat motivasi anjlok drastis.
7. Turunnya Motivasi Ibadah Setelah Ramadan
Ramadan mendorong kita untuk lebih disiplin dalam beribadah dan introspeksi diri. Banyak orang yang selama bulan puasa merasa lebih dekat dengan Tuhan, lebih tenang secara batin, dan lebih terkendali secara emosi. Namun, setelah Ramadan usai, tantangan baru muncul: bagaimana mempertahankan semangat itu?
Banyak yang merasa gagal menjaga konsistensi ibadah, merasa kurang semangat untuk kembali bangun malam, atau bahkan kehilangan arah spiritualnya. Perasaan bersalah, kehilangan ritme, dan kekosongan spiritual ini turut memperkuat gejala post-holiday blues, terutama bagi mereka yang menjadikan Ramadan sebagai titik balik kehidupan rohani mereka.
Cara Mengatasi Post-Holiday Blues Pasca Libur Lebaran
Perasaan hampa, malas, atau murung setelah liburan panjang seperti Lebaran adalah hal yang wajar. Meskipun umum terjadi, kondisi ini sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama karena bisa berdampak pada produktivitas, suasana hati, bahkan kesehatan mental. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi perasaan tersebut:
1. Berikan Waktu untuk Beradaptasi Kembali
Setelah masa libur yang santai, tubuh dan pikiran butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas. Jangan langsung menyusun jadwal yang padat atau menuntut diri bekerja terlalu keras. Mulailah dengan rutinitas ringan, perlahan kembali ke pola tidur yang teratur, serta buat transisi yang lembut dari suasana liburan ke kehidupan sehari-hari.
Waktu adaptasi ini penting untuk membantu tubuh tidak “kaget” menghadapi aktivitas normal, serta mencegah munculnya kelelahan fisik dan mental yang bisa memperburuk post-holiday blues.
2. Pertahankan Kebiasaan Baik Selama Ramadan
Salah satu cara efektif menjaga kestabilan emosi setelah Lebaran adalah dengan melanjutkan kebiasaan baik selama Ramadan, terutama yang berkaitan dengan spiritualitas. Shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan puasa sunnah bisa memberi ketenangan batin dan menjaga rasa kedekatan dengan nilai-nilai religius yang membuat Ramadan terasa istimewa.
Ketika kita tetap memelihara spiritualitas pasca-Ramadan, kita cenderung memiliki tujuan yang lebih dalam dalam keseharian—dan itu menjadi “jangkar” emosi yang kuat saat kembali ke rutinitas.
3. Buat Rutinitas Baru yang Bermakna
Mengisi hari-hari setelah liburan dengan aktivitas yang bermakna bisa membantu mengalihkan perhatian dari rasa kehilangan suasana Lebaran. Mulailah membaca buku inspiratif, mengikuti kajian, belajar hal baru, atau berkontribusi dalam kegiatan sosial. Rutinitas baru yang positif bisa menjadi pengganti nuansa hangat Ramadan dan Lebaran, sekaligus memperkaya hidup secara pribadi dan sosial.
4. Tetap Jaga Silaturahmi
Rasa sepi pasca-Lebaran sering muncul karena tidak lagi dikelilingi keluarga dan kerabat. Untuk mengurangi rasa kesepian ini, tetaplah menjalin komunikasi dengan orang-orang terdekat, meskipun hanya melalui pesan singkat atau video call
Silaturahmi bukan hanya soal fisik, tapi juga emosional. Percakapan kecil atau saling mendoakan bisa menjaga kehangatan dan membuat hati tetap terhubung meski berjauhan.
5. Kelola Keuangan dengan Bijak
Beban finansial setelah libur panjang adalah salah satu sumber stres utama. Untuk mengatasinya, buat rencana pengeluaran pasca-Lebaran yang realistis dan hemat. Kurangi belanja konsumtif, prioritaskan kebutuhan pokok, dan jika memungkinkan, mulai sisihkan dana untuk persiapan Ramadan tahun berikutnya. Manajemen keuangan yang baik tidak hanya mencegah stres, tetapi juga memberi rasa kontrol terhadap hidup setelah masa pengeluaran besar.
6. Jangan Lupakan Kebahagiaan dari Hal-Hal Kecil
Liburan mungkin sudah usai, tetapi kebahagiaan tidak harus ikut menghilang. Cobalah lebih sadar menikmati hal-hal kecil di keseharian: secangkir kopi pagi, momen bersama keluarga, jalan sore, atau pekerjaan yang memberi makna. Melatih diri untuk bersyukur atas hal sederhana adalah kunci menjaga kestabilan emosi. Kebahagiaan tidak selalu datang dari momen besar, tapi juga dari rutinitas yang dijalani dengan kesadaran dan penghargaan.
7. Tetapkan Tujuan Baru
Membuat tujuan baru setelah liburan bisa menjadi pemicu semangat yang ampuh. Tujuan ini bisa sederhana, seperti menyelesaikan buku, menata rumah, atau mulai olahraga. Bisa juga lebih besar seperti merancang target karier atau proyek pribadi. Dengan adanya tujuan baru, kita punya fokus yang segar dan tidak terlalu terjebak dalam nostalgia suasana liburan.
8. Tetap Aktif secara Fisik
Aktivitas fisik, seperti berjalan kaki, yoga, atau olahraga ringan, terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan mood melalui produksi endorfin, zat kimia otak yang membuat kita merasa lebih bahagia dan rileks. Cukup 20–30 menit per hari sudah mampu membantu mengurangi gejala stres, memperbaiki kualitas tidur, dan menambah energi.
9. Kelola Stres dengan Teknik Relaksasi
Jika perasaan hampa atau cemas mulai mengganggu, cobalah teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, journaling, atau mendengarkan musik yang menenangkan. Praktik-praktik ini terbukti membantu mengatur emosi dan menjaga keseimbangan mental saat menghadapi transisi dari liburan ke rutinitas.
10. Cari Dukungan Sosial atau Profesional
Jika perasaan sedih, kehilangan semangat, atau cemas tidak kunjung membaik, jangan ragu untuk berbicara dengan orang yang dipercaya, seperti keluarga, sahabat, atau bahkan profesional seperti psikolog. Mendapatkan dukungan emosional adalah salah satu cara paling efektif untuk keluar dari post-holiday blues.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481724/original/069742900_1769143528-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-23T110013.385.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7503211/original/044195200_1780275516-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-01T075745.914.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1378922/original/036971200_1476876853-9stres-berat.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258680/original/053706900_1781401116-Folarin_Balogun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8317670/original/089667300_1782185621-AP26174019661970.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260107/original/053673600_1781571207-Preskon_Prancis-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455280/original/047575700_1766643618-000_88YV4YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315631/original/085066700_1782183105-AP26173665939735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312895/original/060240200_1782180154-000_B7XU3W8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8303531/original/058987900_1782168483-AP26173793551298-Mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7562358/original/065768500_1780339879-norwegia_swedia_uj_coba.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8306243/original/097675000_1782171964-000_B7XN2AD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4403008/original/008750000_1681991372-20230420-Pemantauan-Hilal-Iqbal-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4794498/original/094041800_1712230691-20240404-Harga_Bahan_Pangan_Naik-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5454884/original/058290100_1766579884-Menhub_Dudy_Purwagandhi-24_Desember_2025.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1736918/original/048236900_1507776245-planning-hero-720x240.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5551639/original/014519400_1775732129-Pedagang_di_Pasar_Senen-9_April_2026c.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5551053/original/097487400_1775716833-Arus.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4392354/original/038664200_1681288233-mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5550174/original/051288700_1775639953-Operasi_Ketupat_Lantas.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4731495/original/035974000_1706712915-fotor-ai-20240131214746.jpg)