Niat Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha dan Catat Tanggalnya di 2025

Ketahui kapan niat puasa sunnah sebelum Idul Adha dilakukan dan catat tanggalnya di 2025 agar tidak terlewat amalan penting ini.

Diperbarui 20 Mei 2025, 17:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia disunnahkan menjalankan berbagai amalan saleh, salah satunya puasa sunnah. Ibadah puasa ini menjadi bagian dari persiapan spiritual menyambut hari raya kurban dengan hati bersih dan penuh keberkahan.

Memahami niat puasa sunnah sebelum Idul Adha beserta keutamaannya sangat penting bagi setiap Muslim yang ingin meraih pahala berlipat ganda di bulan Dzulhijjah.

Puasa sebelum Idul Adha terdiri dari beberapa jenis puasa sunnah yang sangat dianjurkan, di antaranya puasa Dzulhijjah, puasa Tarwiyah, dan puasa Arafah. Masing-masing puasa ini memiliki keutamaan tersendiri dan dilaksanakan pada waktu berbeda. Memahami perbedaan dan keutamaan masing-masing puasa ini akan membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan lebih optimal.

Puasa sebelum Idul Adha tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga menjadi momentum meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lantas, apa saja jenis puasa sunnah sebelum Idul Adha dan bagaimana niatnya? Penting juga untuk mengetahui kapan puasa ini dilaksanakan agar tidak terlewat.

Berikut ini keutamaan puasa Idul Adha yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (12/6/2024). 

Mengenal Apa Itu Puasa Idul Adha

Seperti yang dicatat oleh Ibnu Abbas, 10 hari sebelum Idul Adha memiliki makna bersejarah dalam ajaran Islam. Pada hari pertama bulan Dzulhijjah, terjadi peristiwa di mana Nabi Adam dimaafkan oleh Allah SWT atas kesalahannya memakan buah khuldi.

Hari kedua Dzulhijjah dikenal sebagai hari penyelamatan Nabi Yunus oleh ikan Nun. Hari ketiga bulan Dzulhijjah adalah waktu di mana doa Nabi Zakaria untuk memiliki keturunan, yaitu Yahya dikabulkan oleh Allah. Hari keempat menandai kelahiran Nabi Isa, sementara hari kelima adalah hari kelahiran Nabi Musa. Pada hari keenam, terjadi kemenangan para Nabi dalam perjuangan mereka untuk menegakkan Islam. Akhirnya, pada hari ketujuh bulan Dzulhijjah pintu neraka ditutup.

Puasa pada hari-hari menjelang Idul Adha hukumnya sunnah muakkad yang artinya sangat dianjurkan untuk dilakukan. Bagi jamaah haji, puasa ini menjadi wajib karena merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji. Sementara itu, bagi yang sedang sakit atau dalam perjalanan (musafir), mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa, namun diwajibkan untuk menggantinya di lain waktu. Hal yang sama berlaku bagi wanita hamil dan menyusui.

Puasa Idul Adha pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah juga sangat dianjurkan dalam Islam. Niat puasa Idul Adha merupakan awal bagi kita, meluruskan tujuan untuk beribadah. Amalan di bulan Dzulhijjah, salah satunya adalah puasa sunnah pada sepuluh hari pertama, sangat dicintai Allah dan membawa banyak keberkahan bagi yang menjalankannya.

Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda, “‘Tidak ada hari yang amal sholeh, lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).’

Sesungguhnya berpuasa satu hari di dalamnya membandingi berpuasa satu tahun. Melakukan Sholat malam di dalamnya membandingi sholat malam pada malam Lailatul Qadar.

Salah seorang sahabat bertanya ‘Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah?’

Beliau bersabda, ‘Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid)’”. Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

Niat Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha Dzulhijjah

Puasa Dzulhijjah adalah puasa sunnah yang dilakukan di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, tepatnya pada tanggal 1-7 Dzulhijjah. Melansir dari buku Cinta Shaum, Zakat, dan Haji yang disusun oleh Miftahul Achyar Kertamuda, puasa ini dilakukan sebanyak 7 hari pertama.

Sementara pada hari kedelapan, umat muslim bisa mengerjakan puasa Tarwiyyah dan hari kesembilan bisa mengerjakan puasa sunnah Arafah.

Puasa Dzulhijjah memiliki keutamaan sangat besar karena setiap amal ibadah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dicintai Allah SWT. Hal ini disebutkan dalam hadis yang berasal dari Ibnu Umar Ra tentang keutamaan puasa Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya dari pada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah)." (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

Niat puasa Dzulhijjah:

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta’âlâ

Artinya: “Saya niat puasa sunah bulan Zulhijah hari ini karena Allah ta’ala.”

Niat Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha Tarwiyah

Puasa Tarwiyah adalah puasa sunnah yang dilakukan di hari kedelapan bulan Zulhijjah. Menyadur buku Fikih Puasa oleh Ali Musthafa Siregar, puasa sunnah Tarwiyah termasuk puasa yang dilaksanakan setahun sekali. Alasan disebut Tarwiyyah karena jamaah haji pada hari tersebut dapat minum air dengan puas.

Selain itu, puasa ini disunnnahkan dari dua segi yakni kehati-hatian untuk hari arafah dan sebagai rangkaian puasa sunnah 10 hari pertama bulan Zulhijjah. Puasa Tarwiyah memiliki banyak keutamaan, dan dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang merenung (tarwiyah) sebelum melaksanakan perintah Allah SWT.

Niat puasa Tarwiyah:

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i tarwiyata sunnatan lillâhi ta’âlâ

Artinya: “Saya niat puasa sunah Tarwiyah hari ini karena Allah ta’ala.”

Niat Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha Arafah

Puasa Arafah adalah amalan puasa yang dilakukan di hari kesembilan bulan Zulhijjah. Umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji sangat dianjurkan berpuasa pada hari tersebut. Sementara orang yang berhaji dan sedang melaksanakan wukuf dianjurkan untuk berbuka atau tidak berpuasa.

Hikmahnya agar umat muslim yang sedang melakukan wukuf semakin kuat dalam berdoa dan mengikuti sunnah Nabawiyah secara sempurna.

Mengutip dari buku Pedoman Fikih Lengkap untuk Pesoalan Modern karya Aminol Rosid Abdullah dan Thoriq Aziz Jayana, anjuran puasa sunnah Arafah didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Qutadah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa tahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

Puasa Arafah memiliki keutamaan sangat besar, yaitu dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Niat puasa Arafah:

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ

Artinya: “Saya niat puasa sunah Arafah hari ini karena Allah ta’âlâ.”

Tanggal Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha 2025

Menjelang Idul Adha 2025, umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah sebagai bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa sebelum Idul Adha mencakup puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah, yang masing-masing memiliki keutamaan tersendiri. Pemerintah, melalui SKB 3 Menteri, dan Muhammadiyah telah menetapkan tanggal Idul Adha jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025.

Bulan Dzulhijjah 1446 H diperkirakan dimulai pada tanggal 28 Mei 2025. Dengan demikian, puasa Dzulhijjah dimulai dari tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, diikuti oleh puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah, dan puncaknya adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Perlu diingat, jadwal ini masih berupa perkiraan dan dapat berubah sesuai dengan penetapan awal bulan Dzulhijjah oleh pemerintah Indonesia.

Berikut rincian jadwal puasa sebelum Idul Adha 2025:

  1. Puasa Dzulhijjah (1–7 Dzulhijjah): Rabu, 28 Mei – Selasa, 3 Juni 2025.
  2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Rabu, 4 Juni 2025.
  3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Kamis, 5 Juni 2025.
  4. Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah): Jumat, 6 Juni 2025.

 

Keutamaan Puasa Sunnah Idul Adha

1. Menghapus Dosa 2 Tahun

Keutamaan pertama dari puasa sunnah Idul Adha adalah kemampuannya untuk menghapus dosa selama dua tahun. Dosa yang dihapuskan mencakup satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudah dilaksanakannya puasa Arafah. Dalam menjalankan puasa Arafah, seorang Muslim mendapatkan kesempatan luar biasa untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan selama setahun yang lalu serta dosa-dosa yang akan datang selama setahun berikutnya.

Ini adalah anugerah besar dari Allah SWT yang menunjukkan betapa rahmat dan pengampunan-Nya sangat luas bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Puasa Arafah memberikan kita peluang untuk meraih kebersihan spiritual dan pembaruan diri dengan menghapus dosa-dosa kita.

Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:

 صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ

Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

2. Pahala Dilipatgandakan

Keutamaan kedua dari puasa sunnah di bulan Dzulhijjah adalah pelipatgandaan pahala bagi mereka yang melaksanakan puasa sunnah dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Allah SWT memberikan ganjaran yang berlipatganda untuk setiap amalan baik yang dilakukan selama hari-hari tersebut.

Ini termasuk pahala dari puasa serta pahala dari setiap kegiatan yang bernilai ibadah seperti dzikir, doa, sedekah, dan amal-amal lainnya. Bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang penuh dengan berkah di mana setiap perbuatan baik akan mendapatkan ganjaran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan hari-hari biasa. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan memaksimalkan ibadah mereka selama hari-hari istimewa ini untuk meraih pahala yang melimpah dari Allah.

Berikut hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut:

 مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْ الْقَدْرِ

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar.” (HR At-Tirmidzi).

3. Bebas dari Api Neraka

Keutamaan ketiga dari puasa Arafah adalah dibebaskannya dari api neraka. Salah satu keistimewaan dari puasa Arafah yang sangat penting adalah jaminan dari Allah untuk menjauhkan pelaksananya dari siksa neraka. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan besar yang dapat membebaskan seorang Muslim dari api neraka, menjadikannya sebagai salah satu amalan yang sangat dianjurkan.

Bagi mereka yang tidak memiliki halangan, sangat disarankan untuk melaksanakan puasa sunnah ini di bulan Dzulhijjah. Melalui puasa Arafah, umat Islam mendapatkan perlindungan dari Allah dan jaminan keselamatan dari azab yang pedih.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

 مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

Artinya: “Tidak ada hari dimana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada Hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para Malaikat dan berkata: ‘Apa yang mereka inginkan?” (HR Muslim).

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6