Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah: Bacaan Niat dan Pendapat Ulama

Hukum melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah adalah sunnah, yang berarti sangat dianjurkan namun tidak wajib.

Diperbarui 06 Juni 2025, 11:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keistimewaan puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi perhatian banyak umat Islam menjelang Hari Raya Idul Adha. Dua hari ini bukan sekadar momentum berpuasa sunnah, tetapi juga ladang pahala yang luas. Dilaksanakan pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, puasa ini dianjurkan sebagai bentuk kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam sepuluh hari terbaik dalam setahun.

Banyak dalil yang menguatkan keutamaan puasa ini. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa satu tahun, sedangkan puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun.” (HR Abus Syaikh dan Ibnun Najar). Meskipun sebagian ulama menilai hadis tersebut lemah, banyak yang tetap menganjurkannya karena termasuk dalam rangkaian amalan terbaik bulan Dzulhijjah. Terlebih, keistimewaan puasa Arafah diriwayatkan secara sahih oleh Imam Muslim.

Hukum melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah adalah sunnah, yang berarti sangat dianjurkan namun tidak wajib. Imam Syafi'i menjelaskan kesunahannya secara khusus, menekankan betapa berharganya puasa ini dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, puasa ini menjadi alternatif untuk meraih keutamaan spiritual.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah menjadi sangat istimewa karena menggabungkan berbagai jenis ibadah utama seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji. Maka itu, puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi momentum terbaik untuk memperkuat spiritualitas dan meraih ampunan Allah SWT.

Berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam tentang puasa Tarwiyah dan Arafah, Jumat (6/6/2025).

Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

Menjelang Idul Adha, umat Islam disunnahkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk dengan melaksanakan puasa. Dua ibadah puasa yang sangat dianjurkan adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah, yang masing-masing dilaksanakan pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Kedua hari ini termasuk dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang sangat dimuliakan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (HR Bukhari). Maka tidak heran jika para ulama dan umat Muslim berlomba-lomba menjalankan amalan-amalan sunnah, termasuk puasa pada dua hari tersebut.

Dijelaskan dalam buku "Langsung Hafal dan Paham Qiyamul Lail" karya Ustadz Rusdianto, orang yang melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah akan diampuni dosa-dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Puasa Tarwiyah memiliki keutamaan tersendiri yang meski tidak sepopuler Arafah, namun sangat besar nilainya. Diriwayatkan dalam hadis, “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa satu tahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun.” (HR Abus Syaikh Al-Ishfahani dan Ibnun Najar). Artinya, puasa ini adalah kesempatan besar bagi umat Islam untuk meraih ampunan dan membersihkan diri dari dosa-dosa yang lalu. Terlebih, puasa ini bisa dilakukan dengan mudah oleh siapa saja yang tidak sedang berhaji, dengan niat yang jelas serta semangat menjalankan sunnah Nabi SAW.

Puasa Arafah bahkan lebih utama lagi. Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Inilah sebabnya banyak ulama sepakat bahwa puasa ini adalah salah satu ibadah sunnah paling utama setelah Ramadan.

Sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar, "Keistimewaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebabkan terkumpulnya semua bentuk ibadah besar: shalat, puasa, sedekah, dan haji, yang tidak ditemukan pada waktu lain." (Fathul Bari, Juz 2, hlm. 459). Maka itu, puasa Tarwiyah dan Arafah bukan hanya simbol spiritualitas, tetapi juga bentuk kesungguhan meraih rida Allah SWT.

10 Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

  1. Menghapus dosa setahun (Tarwiyah) dan dua tahun (Arafah). (HR Abus Syaikh Al-Ishfahani dan Ibnun Najar)
  2. Menjadi bagian dari amal saleh terbaik di 10 hari Dzulhijjah. (HR Bukhari)
  3. Meraih pahala besar meski dikerjakan hanya satu hari.
  4. Bentuk penyucian diri menjelang Idul Adha.
  5. Kesempatan bagi yang tidak berhaji untuk mendapat keutamaan hari Arafah.
  6. Meningkatkan kepekaan rohani dan kedekatan kepada Allah.
  7. Membentuk kebiasaan ibadah sebelum puncak hari raya.
  8. Diliputi keberkahan waktu-waktu mustajab doa.
  9. Dapat menjadi wasilah ampunan dan rahmat Allah.
  10. Menjadi syiar sunnah yang dihidupkan di tengah masyarakat.

 

Pendapat Ulama tentang Puasa Tarwiyah dan Arafah

Ulama sepakat bahwa puasa Tarwiyah dan Arafah adalah dua ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa puasa Arafah termasuk ibadah agung karena dilakukan pada waktu yang mulia dan berpotensi besar menghapus dosa.

Khusus Puasa Arafah

Bahkan, Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menyebut bahwa puasa Arafah adalah puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan. Hal ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah ini dalam pandangan para fuqaha dan ulama salaf.

Imam An-Nawawi juga menegaskan dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, bahwa puasa Arafah tidak hanya dianjurkan, melainkan sangat ditekankan bagi orang yang tidak sedang berada di Padang Arafah.

Beliau menulis: "Puasa Arafah termasuk puasa yang sangat dianjurkan. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa keutamaannya setara dengan ibadah qiyamul lail selama setahun penuh." (Al-Majmu’, Juz 6). Sedangkan bagi jamaah haji, para ulama seperti Imam Malik dan sebagian madzhab Hanbali menyatakan makruh jika puasa tersebut mengganggu kekhusyukan ibadah wukuf.

Dalam kitab Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq membahas bahwa puasa Arafah dan Tarwiyah adalah kesempatan emas bagi kaum Muslimin untuk mendapatkan pahala besar. Ia menukil hadis tentang penghapusan dosa oleh puasa Arafah dan menyebut bahwa ini adalah bentuk rahmat Allah yang luas terhadap hamba-Nya.

Maka itu, ulama kontemporer seperti Dr. Wahbah Zuhaili dalam Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menyatakan bahwa puasa Arafah tergolong sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), sedangkan Tarwiyah termasuk amalan yang dipilih oleh para salaf karena keutamaannya tercantum dalam beberapa riwayat.

Khusus Puasa Tarwiyah

Pendapat ulama tentang puasa Tarwiyah sedikit lebih beragam. Beberapa ulama menganggap hadits tentang puasa ini lemah, seperti Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma’ad. Namun, mereka tetap menganjurkannya karena dilakukan di hari mulia dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Bahkan, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam Majmu’ al-Fatawa menjelaskan bahwa meski haditsnya lemah, selama tidak bertentangan dengan kaidah syar’i dan memiliki keutamaan umum, maka puasa Tarwiyah tetap dianjurkan dengan niat menghidupkan amalan saleh.

Menariknya, ulama-ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i secara umum menyatakan bahwa puasa Tarwiyah merupakan bentuk ihtiyat (kehati-hatian) dalam menjalankan amal terbaik di waktu-waktu terbaik.

Mereka mengambil dasar dari sabda Nabi SAW dalam hadis sahih: "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah selain hari-hari ini (10 hari Dzulhijjah)." (HR Bukhari). Sehingga meskipun tidak ada hadis shahih tentang puasa Tarwiyah secara spesifik, ia tetap dianggap bernilai tinggi.

Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai niat puasa Tarwiyah dan Arafah, termasuk makna membaca niat tersebut mengutip dari buku Dahsyatnya Puasa Sunnah oleh Amirulloh Syarbini dkk:

Niat Puasa Tarwiyah di Malam Hari

Bacaan Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ لِلهِ تَعَالَى

Bacaan Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sunnati yaumit tarwiyati lillaahi ta’ala.

Terjemahan: "Saya niat berpuasa sunnah Tarwiyah esok hari semata karena Allah SWT."

Penjelasan: Membaca niat puasa di malam hari sebelum melaksanakan puasa Tarwiyah esoknya membantu mempersiapkan diri secara spiritual dan mental. Niat ini menguatkan tekad untuk berpuasa dengan ikhlas dan tulus hanya untuk Allah SWT.

Niat Puasa Tarwiyah Sebelum Adzan Subuh

Bacaan Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Bacaan Latin: Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta’ala.

Terjemahan: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah semata karena Allah SWT."

Penjelasan: Membaca niat puasa sebelum adzan Subuh memastikan bahwa niat tersebut telah ditetapkan sebelum memulai puasa. Ini penting untuk menegaskan komitmen spiritual dan memastikan bahwa puasa dilakukan dengan niat yang murni.

Niat Puasa Arafah di Malam Hari

Bacaan Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Bacaan Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sunnati yaumi ‘arafata lillaahi ta’ala.

Terjemahan: "Saya niat berpuasa sunnah Arafah esok hari semata hanya karena Allah SWT."

Penjelasan: Niat puasa Arafah di malam hari membantu mempersiapkan hati dan pikiran untuk puasa pada hari Arafah. Ini memperkuat niat untuk mencari ridha Allah dan meraih keutamaan puasa Arafah yang sangat dianjurkan.

Niat Puasa Arafah Sebelum Adzan Subuh

Bacaan Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Bacaan Latin: Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala.

Terjemahan: "Saya niat puasa sunah Arafah semata hanya karena Allah SWT."

Penjelasan: Membaca niat puasa sebelum adzan Subuh memastikan bahwa niat tersebut telah ditetapkan sebelum memulai puasa. Ini adalah langkah penting untuk menegaskan komitmen spiritual dan memastikan puasa dilakukan dengan niat yang benar.

 

Q&A Puasa Tarwiyah dan Arafah

1. Apa itu puasa Tarwiyah dan Arafah?

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sedangkan puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Keduanya merupakan puasa sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, terutama yang tidak sedang menunaikan haji.

2. Apa keistimewaan puasa Tarwiyah menurut para ulama?

Puasa Tarwiyah dipercaya dapat menghapus dosa selama satu tahun yang lalu, sebagaimana terdapat dalam beberapa riwayat meski derajat hadisnya diperselisihkan. Namun, banyak ulama tetap menganjurkannya karena termasuk amalan di 10 hari pertama Dzulhijjah yang penuh keutamaan.

3. Apa keutamaan puasa Arafah bagi yang tidak berhaji?

Puasa Arafah memiliki keutamaan besar, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hal ini berdasarkan hadis sahih dari HR. Muslim, sehingga banyak ulama menilainya sebagai salah satu puasa sunah paling utama.

4. Bolehkah jamaah haji melakukan puasa Arafah?

Mayoritas ulama menganjurkan jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah tidak berpuasa agar tetap kuat menjalani ibadah, mengikuti praktik Nabi Muhammad SAW yang tidak berpuasa saat wukuf di Arafah.

5. Apakah puasa Tarwiyah dan Arafah harus dilakukan berurutan?

Tidak harus berurutan, tetapi sangat dianjurkan untuk berpuasa pada kedua hari tersebut secara berturut-turut karena keutamaannya yang besar, terutama sebagai bagian dari amalan di 10 hari pertama Dzulhijjah.

6. Apa dalil yang mendasari keutamaan puasa Arafah?

Keutamaan puasa Arafah disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

7. Siapa saja yang disarankan untuk melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah?

Puasa ini disarankan bagi seluruh Muslim yang tidak sedang berhaji, terutama yang mampu secara fisik. Amalan ini termasuk bentuk pendekatan diri kepada Allah di hari-hari yang sangat dicintai-Nya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6