Sukses

Diameter Adalah Konsep Matematika, Kenali Cara Menghitung, Perbedaan dan Contoh Soalnya

Liputan6.com, Jakarta Diameter adalah sebuah garis lurus yang melewati titik pusat sebuah lingkaran, dan menghubungkan dua titik pada lingkaran tersebut. Secara sederhana, diameter dapat diartikan sebagai jarak terpanjang antara dua titik pada lingkaran. Diameter juga merupakan ukuran penting pada lingkaran, karena dapat digunakan untuk menghitung berbagai parameter lainnya, seperti jari-jari, keliling, dan luas lingkaran.

Secara matematis, diameter adalah garis lurus yang dapat dihitung dengan mengalikan jari-jari lingkaran dengan dua, atau dengan menggunakan rumus: D = 2r, di mana D adalah diameter dan r adalah jari-jari lingkaran. Diameter juga sering digunakan dalam konteks geometri dan trigonometri, serta dalam berbagai bidang seperti ilmu fisika, teknik, dan industri.

Diameter adalah konsep matematika yang sangat penting dalam geometri dan trigonometri. Diameter adalah garis lurus yang menghubungkan dua titik pada lingkaran, dan melewati titik pusat lingkaran. Diameter juga merupakan jarak terpanjang antara dua titik pada lingkaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, diameter sering digunakan dalam berbagai konteks. Misalnya, dalam industri manufaktur, diameter digunakan untuk mengukur ukuran benda-benda yang dibuat, seperti tabung, roda, dan lain sebagainya. Diameter juga digunakan dalam pembuatan barang-barang yang berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran, seperti meja, kursi, dan lain sebagainya.

Berikut ini cara menghitung diameter yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (28/3/2023). 

2 dari 4 halaman

Cara Menghitung Diameter

Diameter adalah ukuran penting pada lingkaran, di mana dapat dihitung dengan menggunakan rumus sederhana, yaitu:

Diameter = 2 x Jari-jari (D = 2r)

Di mana r adalah jari-jari lingkaran.

Untuk menghitung diameter, Anda perlu mengetahui nilai jari-jari terlebih dahulu. Jari-jari adalah jarak dari titik pusat lingkaran ke titik-titik pada lingkaran itu sendiri. Jika Anda tidak mengetahui nilai jari-jari, maka Anda bisa menghitungnya terlebih dahulu dengan menggunakan rumus berikut:

Jari-jari = Diameter ÷ 2 (r = D ÷ 2)

Sebagai contoh, jika Anda memiliki sebuah lingkaran dengan diameter 10 cm, maka untuk menghitung jari-jarinya, Anda bisa menggunakan rumus r = 10 cm ÷ 2 = 5 cm. Setelah mengetahui nilai jari-jari, Anda dapat menghitung diameter dengan mengalikannya dengan 2, sehingga D = 2 x 5 cm = 10 cm.

Anda juga dapat menghitung diameter dengan menggunakan panjang lingkaran atau luas lingkaran. Namun, rumus-rumus tersebut melibatkan konstanta pi (π) dan nilai yang lebih kompleks, sehingga memerlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep lingkaran.

Dalam aplikasi dunia nyata, perhitungan diameter seringkali digunakan dalam berbagai bidang, seperti industri, konstruksi, dan teknologi. Misalnya, dalam industri manufaktur, diameter digunakan untuk mengukur ukuran benda-benda berbentuk lingkaran, seperti roda atau baut.

Dalam bidang konstruksi, diameter sering digunakan untuk menghitung dimensi benda-benda seperti pipa atau saluran pembuangan. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang bagaimana menghitung diameter sangat penting dalam konteks aplikasi dunia nyata. 

Selain rumus yang sudah dijelaskan sebelumnya, terdapat juga cara lain untuk menghitung diameter pada lingkaran. Salah satu cara tersebut adalah dengan menggunakan kaliper atau penggaris lingkaran. Penggaris lingkaran atau kaliper ini merupakan alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur jari-jari atau diameter lingkaran secara akurat.

Anda hanya perlu meletakkan penggaris atau kaliper pada titik pusat lingkaran, kemudian membuka alat tersebut hingga mencapai titik-titik pada lingkaran. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan nilai diameter dengan lebih akurat.

 

3 dari 4 halaman

Perbedaan Diameter dan Jari-jari

Diameter dan jari-jari adalah dua ukuran yang seringkali digunakan dalam konteks lingkaran. Keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar, meskipun keduanya berhubungan erat satu sama lain.

Diameter adalah jarak terpanjang yang bisa ditarik melintasi lingkaran dan selalu melewati titik pusat lingkaran. Artinya, jika sebuah lingkaran memiliki diameter sebesar 10 cm, maka jarak terpanjang yang bisa ditarik melintasi lingkaran tersebut adalah 10 cm dan akan melewati titik pusat lingkaran.

Sementara itu, jari-jari adalah jarak dari titik pusat lingkaran ke titik-titik pada lingkaran itu sendiri. Jari-jari sering digunakan sebagai ukuran referensi untuk menghitung ukuran-ukuran lain pada lingkaran, seperti diameter, keliling, atau luas lingkaran. Rumus untuk menghitung jari-jari adalah sebagai berikut:

r = D ÷ 2

Di mana r adalah jari-jari dan D adalah diameter.

Jadi, perbedaan utama antara diameter dan jari-jari adalah bahwa diameter selalu melewati titik pusat lingkaran dan memiliki ukuran yang sama dengan dua kali jari-jari, sementara jari-jari adalah jarak dari titik pusat lingkaran ke titik-titik pada lingkaran tersebut.

Dalam aplikasi dunia nyata, perbedaan antara diameter dan jari-jari memiliki implikasi yang berbeda tergantung pada konteks penggunaannya. Misalnya, jika Anda ingin menghitung ukuran benda berbentuk lingkaran, maka diameter akan menjadi ukuran yang lebih relevan, karena diameter dapat memberikan informasi tentang jarak terpanjang yang bisa ditarik melintasi lingkaran.

Sementara itu, jika Anda ingin menghitung luas atau keliling lingkaran, maka jari-jari akan menjadi ukuran yang lebih relevan, karena jari-jari adalah jarak dari titik pusat lingkaran ke titik-titik pada lingkaran itu sendiri dan merupakan salah satu unsur yang digunakan dalam rumus perhitungan luas dan keliling lingkaran.

Dalam bidang geometri, perbedaan antara diameter dan jari-jari juga dapat memengaruhi cara penghitungan beberapa ukuran lingkaran. Misalnya, jika Anda ingin menghitung keliling lingkaran, maka rumusnya adalah sebagai berikut:

K = 2πr

Di mana K adalah keliling lingkaran, r adalah jari-jari, dan π (pi) adalah konstanta yang bernilai sekitar 3,14.

Namun, jika Anda ingin menghitung luas lingkaran, maka rumusnya adalah sebagai berikut:

A = πr^2

Di mana A adalah luas lingkaran, r adalah jari-jari, dan π (pi) adalah konstanta yang sama seperti pada rumus keliling lingkaran.

Dalam kedua rumus tersebut, jari-jari menjadi unsur yang sangat penting dalam menghitung ukuran lingkaran. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang jari-jari dan diameter sangatlah penting dalam bidang matematika dan geometri.

 

4 dari 4 halaman

Contoh Soal dan Penyelesaian

Contoh Soal 1:

Sebuah lingkaran memiliki diameter 28 cm. Berapa luas lingkaran tersebut?

Penyelesaian:

Untuk menyelesaikan soal ini, kita perlu menemukan jari-jari lingkaran terlebih dahulu menggunakan diameter. r = 1/2 × d r = 1/2 × 28 cm r = 14 cm

Kemudian, kita dapat menghitung luas lingkaran menggunakan rumus

L = πr^2. L = πr^2 L = 3,14 × 14^2 cm^2 L = 615,44 cm^2

Jadi, luas lingkaran tersebut adalah 615,44 cm^2.

Contoh Soal 2:

Sebuah bola berdiameter 10 cm ditembakkan dengan kecepatan 30 m/s pada sudut 60 derajat dari horizontal. Berapa jarak bola jatuh dari tempat awalnya?

Penyelesaian:

Untuk menyelesaikan soal ini, kita perlu menemukan waktu yang diperlukan bola untuk jatuh menggunakan hukum gerak parabola. Namun, untuk menghitung waktu tersebut, kita perlu mengetahui ketinggian awal bola terlebih dahulu. h = d sin θ h = 10/2 sin 60 derajat h = 4,33 m

Kemudian, kita dapat menghitung waktu yang diperlukan bola untuk jatuh menggunakan rumus sebagai berikut:

h = 1/2 gt^2 t = √(2h/g) t = √(2 × 4,33 m/9,8 m/s^2) t = 0,94 s

Jarak bola jatuh dari tempat awalnya dapat dihitung menggunakan rumus jarak yang ditempuh benda jatuh, yaitu s = 1/2 gt^2. s = 1/2 gt^2 s = 1/2 × 9,8 m/s^2 × (0,94 s)^2 s = 4,2 m

Jadi, jarak bola jatuh dari tempat awalnya adalah sekitar 4,2 meter.

Contoh Soal 3:

Sebuah roda berputar dengan kecepatan 800 putaran per menit dan memiliki diameter 30 cm. Berapa kecepatan linier ujung roda tersebut?

Penyelesaian:

Untuk menyelesaikan soal ini, kita perlu mengubah kecepatan putaran roda dari RPM menjadi rad/s terlebih dahulu. ω = RPM × 2π/60 ω = 800 × 2π/60 rad/s ω = 83,78 rad/s

Kemudian, kita dapat menghitung kecepatan linier ujung roda menggunakan rumus sebagai berikut:

v = ωr v = 83,78 rad/s × 0,15 m v = 12,57 m/s

Jadi, kecepatan linier ujung roda tersebut adalah sekitar 12,57 m/s. 

Contoh Soal 4:

Sebuah tangki silinder dengan diameter 1,5 m dan tinggi 2 m diisi dengan bahan bakar dengan tinggi 1,5 m. Berapa volume bahan bakar yang ada di dalam tangki?

Penyelesaian:

Untuk menyelesaikan soal ini, kita perlu menggunakan rumus volume silinder dan menghitung tinggi bahan bakar dalam satuan meter terlebih dahulu. h = 1,5 m

Kemudian, kita dapat menghitung jari-jari tangki menggunakan diameter

. r = d/2 r = 1,5 m/2 r = 0,75 m

Kemudian, kita dapat menghitung volume tangki menggunakan rumus sebagai berikut:

V = πr^2h V = 3,14 × (0,75 m)^2 × 2 m V = 3,53 m^3

Volume bahan bakar dalam tangki dapat dihitung menggunakan rumus volume silinder dengan tinggi bahan bakar sebagai tinggi silinder. V_bahan_bakar = πr^2h_bahan_bakar V_bahan_bakar = 3,14 × (0,75 m)^2 × 1,5 m V_bahan_bakar = 2,64 m^3

Jadi, volume bahan bakar yang ada di dalam tangki adalah sekitar 2,64 m^3.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.