Sukses

Tata Cara Shalat Gerhana Matahari Sesuai Ajaran Nabi, Tidak seperti Shalat Fardhu

Liputan6.com, Jakarta Gerhana matahari adalah salah satu fenomena alam, di mana bulan berada di tengah-tengah matahari dan bumi, sehingga menyebabkan sinar matahari ke bumi menjadi terhalang. Fenomena ini tentu saja merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Dalam ajaran agama Islam, jika terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan, disunnahkan untuk melakukan shalat gerhana. Shalat gerhana ini disebut juga dengan istilah shalat khusuf. Hukum shalat gerhana matahari sendiri adalah sunnah muakkad, sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadis berikut,

"Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian,"(HR Bukhari-Muslim).

Shalat khusuf atau shalat gerhana matahari biasanya dilakukan ketika gerhana matahari berlangsung. Sama halnya seperti bentuk ibadah lainnya dalam agama Islam, shalat gerhana matahari harus dilakukan dengan tata cara shalat gerhana matahari sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Namun sebelum membahas mengenai tata cara shalat gerhana matahari, penting juga bagi kita untuk mengetahui hukum dan bacaannya. Berikut adalah hukum dan bacaan shalat khusuf seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (25/10/2022).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Hukum Shalat Gerhana Matahari

Shalat sunah gerhana matahari pertama kali disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, sedangkan shalat gerhana bulan pada tahun kelima hijriyah dan menurut pendapat yang kuat (rajih) pada bulan Jumadal Akhirah.

Sementara itu, menurut kesepakatan para ulama hukum shalat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah sunnah muakkadah. Akan tetapi menurut Imam Malik dan Abu Hanifah shalat gerhana bulan dilakukan sendiri-sendiri dua rakaat seperti shalat sunah lainnya.

Kesepakatan para ulama tersebut berlandaskan pada firman Allah dalam Al-quran Surat Fushilat ayat 37 yang artinya:

"Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya."

Perintah untuk menunaikan shalat gerhana bulan juga didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yang artinya,

"Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Taala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian."

3 dari 4 halaman

Tata Cara Shalat Gerhana Matahari

Para ulama bersepakat bahwa tidak disyariatkan adzan dan iqamah dalam rangkaian pelaksanaan shalat gerhana. Namun, disunahkan untuk menyeru jemaah untuk melakukan shalat dengan seruan “ash-shalatu jaami’ah”. Adapun tata cara shalat gerhana matahari sebagai berikut:

1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu.

2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.

3. Sebelum shalat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, ”As-Shalâtu jâmi’ah.”

4. Membaca niat shalat gerhana. Adapun bacaan niat shalat gerhana antara lain adalah sebagai berikut:

Ushalli sunnatan-likhusuufi-syamsi imaaman/makmuman lillahi ta’aalaa.

Artinya:"Saya niat sunah gerhana matahari sebagai imam/makmum karena Allah semata."

5. Takbiratul Ihram

6. Membaca doa Iftitah

7. Membaca surat Al-Fatihah

8. Membaca surat lain dengan ayat yang panjang dan suara keras

9. Rukuk sembari memanjangkan bacaannya dianjurkan dengan membaca tasbih 100 kali

10. Bangkit dari ruku (itidal)

11. Tidak langsung sujud namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat dengan ayat yang lebih pendek

12. Kembali ruku dengan membaca tasbih selama 80 kali

13. Itidal

14. Sujud dengan membaca tasbih 100 kali seperti waktu ruku' pertama

15. Duduk di antara dua sujud

16. Sujud kedua dengan membaca tasbih 80 kali selama ruku' kedua

17. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua

18. Bangkit dan mengerjakan rakaat kedua dengan bacaan dan gerakan seperti sebelumnya

19. Setelah membaca surat Al-Fatihah dianjurkan membaca surat An-Nisa pada rakaat pertama dan surat Al-Maidah pada rakaat kedua

20. Salam

21. Setelah shalat disunahkan untuk berkhutbah.

4 dari 4 halaman

Doa ketika Terjadi Gerhana

Ketika terjadi gerhana matahari, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berzikir dan berdoa. Berikut bacaan doa yang bisa dibaca saat terjadi gerhana:

Alhamdulillah hamdan daaiman toohiron thoyyiban mubarokan fiih. Mil Samawati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa baina huma, wa mil’u maa syi’ta min syai’in ba’du. Ahaqqo maa qoolal abdu, wa kunna laka abdun

Artinya:

"Segala puji bagi Allah, pujian murni, baik dan diberkati-Nya. Yang memenuhi langit dan memenuhi bumi dan memenuhi apa yang ada di antara mereka dan mengisi apa pun yang Anda inginkan. (Dia) yang paling berhak memanggil hamba dan kami semua adalah hamba."

Demikianlah ulasan mengenai tata cara shalat gerhana matahari, lengkap dengan pembahasan sumber hukum dan bacaan doanya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap fenomena alam yang terjadi untuk meningkatkan iman dan takwa, karena setiap fenomena alam termasuk gerhana adalah bukti kebesaran Allah SWT.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS