Liputan6.com, Jakarta - Fenomena bediding kembali menjadi perhatian di Indonesia, menandai siklus tahunan musim kemarau yang perlu diwaspadai dampaknya. Kondisi ini ditandai dengan udara dingin menusuk tulang yang terasa kuat pada malam hingga dini hari. Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu minimum di beberapa daerah bahkan telah mencapai di bawah 10 derajat Celsius.
Istilah "bediding" sendiri, yang berasal dari bahasa Jawa, merujuk pada sensasi udara yang terasa sangat dingin atau menusuk. Fenomena ini merupakan penurunan suhu udara yang signifikan, lebih dingin dari kondisi normal saat kemarau.Â
Meskipun bukan kategori bencana alam atau fenomena cuaca ekstrem, bediding tetap memerlukan kewaspadaan. Pemahaman mengenai apa itu bediding, penyebabnya, serta tips hadapi bediding menjadi krusial untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan masyarakat selama periode ini.
Advertisement
Mengenal Apa itu Fenomena Bediding
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288206/original/026179200_1752898538-Screenshot_2025-07-19_111430.jpg)
Seperti yang telah disinggung di awal, melansir situs resmi pemerintah Kota Blitar (BPBD Blitar), Istilah bediding mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat di Pulau Jawa, terutama saat musim kemarau. Bediding adalah fenomena cuaca berupa penurunan suhu udara secara signifikan pada malam hingga pagi hari, sehingga terasa lebih dingin dari biasanya.
Fenomena ini umumnya terjadi selama musim kemarau, khususnya antara bulan Juni hingga September, dengan puncaknya seringkali pada bulan Agustus. Bediding merupakan fenomena alam yang normal dan bagian dari siklus iklim tahunan, sehingga tidak perlu dianggap sebagai kejadian cuaca ekstrem. Namun, penurunan suhu ini tetap perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kesehatan dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
Advertisement
Faktor-faktor Penyebab Bediding
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8965710/original/018381500_1782978700-egor-ivlev-0seRAP1mXgY-unsplash.jpg)
Bediding terjadi karena kombinasi beberapa kondisi atmosfer yang khas saat musim kemarau. Ini bukanlah fenomena cuaca ekstrem, melainkan kejadian alamiah yang rutin terjadi setiap musim kemarau.
Salah satu penyebab utamanya adalah Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan relatif dingin menuju wilayah Indonesia. Angin ini bertiup dari Benua Australia yang sedang mengalami musim dingin, melintasi Indonesia bagian selatan menuju Benua Asia.
Selain itu, langit yang cenderung cerah dan minimnya tutupan awan selama musim kemarau berperan besar. Kondisi ini menyebabkan panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari melalui proses radiasi atau radiative cooling. Akibatnya, suhu udara dapat turun drastis.
Kelembapan udara yang rendah juga berkontribusi pada fenomena ini, membuat udara lebih mudah kehilangan panas dan terasa semakin dingin. Perbedaan tekanan udara yang tinggi di Australia mendorong pergerakan massa udara dingin ini. Wilayah dataran tinggi seperti Malang, Batu, Dieng, dan Bromo bahkan merasakan hawa dingin yang lebih ekstrem karena elevasi geografisnya.
Dampak Bediding, dari Kesehatan hingga Sektor Pertanian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5151593/original/006435900_1741167964-flu_keto.jpg)
Penurunan suhu yang signifikan akibat bediding dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama jika berlangsung dalam beberapa hari. Dampak bediding tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian dan peternakan.
Dari sisi kesehatan, udara kering meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk, pilek, hingga sesak napas. Suhu dingin juga dapat memicu penyebaran virus dan bakteri penyebab penyakit pernapasan seperti flu dan asma. Kelembapan udara yang rendah juga menyebabkan kulit cepat kering dan pecah-pecah, serta meningkatkan risiko dehidrasi karena penguapan cairan tubuh yang lebih cepat.
Kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit saluran pernapasan, serta mereka yang beraktivitas di kawasan pegunungan atau luar ruangan pada malam hari, berisiko mengalami penurunan suhu tubuh atau hipotermia. Perubahan suhu drastis juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi.
Di sektor pertanian dan peternakan, suhu dingin dapat mengganggu produktivitas tanaman dan bahkan menyebabkan kematian pada ternak. Di dataran tinggi seperti Dieng, suhu rendah berpotensi memunculkan embun es atau frost yang dapat merusak tanaman sensitif seperti sayuran. Oleh karena itu, petani diimbau untuk melakukan pengamanan tanaman guna meminimalkan kerugian.
Advertisement
Tips Hadapi Bediding agar Tetap Sehat dan Nyaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8965713/original/053476200_1782978700-12362023859045111370.jpeg)
Untuk meminimalkan dampak bediding dan menjaga kesehatan, masyarakat diimbau untuk menerapkan beberapa langkah antisipasi. Tips hadapi bediding ini bertujuan agar tetap nyaman selama periode suhu dingin ekstrem.Melansir laman BPBD Kota Blitar, berikut tips hadapi bediding:
1. Gunakan Pakaian Hangat saat Malam dan Pagi Hari
Salah satu langkah penting adalah mengenakan pakaian yang lebih hangat, terutama saat malam dan pagi hari, termasuk penggunaan selimut, jaket, syal, dan kaus kaki.
2. Konsumsi Air Putih dan Makanan Bergizi
Selain itu, perbanyak konsumsi air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi akibat udara kering, serta konsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.
4. Gunakan Pelembap Kulit dan Lip Balm
Penggunaan pelembap kulit dan lip balm sangat dianjurkan untuk mengatasi kulit dan bibir pecah-pecah.
5. Jaga Ventilasi Rumah Tetap Baik
Penting juga untuk menjaga ventilasi rumah tetap baik, namun pastikan udara dingin tidak masuk secara berlebihan.
6. Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan pada Malam Hari Kecuali Sangat Diperlukan
Masyarakat juga disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada malam dan dini hari kecuali jika sangat diperlukan.
7. Siapkan Pemanas Ruangan
Jika memungkinkan, siapkan pemanas ruangan sederhana untuk menjaga suhu dalam rumah tetap nyaman. Bagi pemilik hewan peliharaan, pastikan mereka mendapatkan kehangatan ekstra. Petani juga perlu melakukan pengamanan tanaman, seperti instalasi paranet atau penyiraman teratur di pagi hari.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Penjelasan dan Tips Hadapi Bediding
1. Apa itu bediding?
Bediding adalah fenomena cuaca di mana suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
2. Kapan fenomena bediding umumnya terjadi?
Fenomena bediding umumnya terjadi saat musim kemarau, khususnya pada periode Juni hingga September, dengan puncaknya seringkali pada bulan Agustus.
3. Apa penyebab utama bediding?
Penyebab utama bediding adalah kombinasi Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin, serta langit cerah dan minimnya tutupan awan yang menyebabkan pelepasan panas bumi secara cepat (radiative cooling).
4. Apa saja dampak bediding bagi kesehatan?
Dampak bediding bagi kesehatan meliputi gangguan pernapasan (ISPA, batuk, pilek), kulit kering, dehidrasi, risiko hipotermia, dan melemahnya sistem kekebalan tubuh.
5. Bagaimana tips hadapi bediding agar tetap sehat?
Tips hadapi bediding antara lain menggunakan pakaian hangat, memperbanyak konsumsi air putih dan makanan bergizi, menggunakan pelembap kulit, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada malam dan dini hari.
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8965709/original/018208600_1782978698-17646437465375076649.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8769101/original/055174700_1782831715-Gempa_BMKG.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711960/original/022070600_1782793259-BMKG_Ungkap_Strategi_Antisipasi_Kekeringan_di_Jawa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3453943/original/049969200_1620650232-Jakarta_Cerah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8585232/original/070297800_1782548214-Gempa_Pacitan.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/732754/original/044682900_1409879838-Jakarta_Cerah_berawan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459914/original/018350300_1782359142-BMKG_Gempa_Jepang.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/717234/original/Jakarta_Cerah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261934/original/008152300_1781763177-Dampak_gempa_di_Sulteng.jpeg)