[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Tuberkulosis dan Perempuan

Pada peringatan Hari Tuberkulosis di Jakarta Selatan, Prof Tjandra memaparkan lima aspek terkait TB.

Diterbitkan 01 Mei 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jakarta Selatan menyelenggarakan kegiatan hari tuberkulosis (TB) sedunia pada 30 April 2026. Acara dibuka oleh Wakil Walikota Administratif Jakarta Selatan, Ali Murthadho yang saya apresiasi karena sangat mendukung program pengendalian TB.

Pak Wakil Walikota menjelaskan tentang perlunya menghilangkan stigma (dengan berbagai ilustrasi lapangan yang disampaikannya) dan juga menganjurkan pendekatan Cegah, Obati dan Dampingi dalam pengendalian tuberkulosis.

Dalam acara meriah yang penyelenggaranya adalah Puskesmas Kecamatan Cilandak ini maka saya ditugaskan untuk bicara berbagai aspek TB. Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan lima hal. Pertama, penjelasan tentang penemuan bakteri penyebab TB, kedua adalah situasi epidemiologi TB di Indonesia dan dunia, ketiga tentang bagaimana diagnosis TB, keempat pengobatannya dan ke lima tentang pencegahan tuberkulosis.

Peserta acara adalah para kader TB se Jakarta Selatan yang praktis semua adalah kaum perempuan. Ada lima hal tentang perempuan dan tuberkulosis & gender yang disampaikan pada data terbaru WHO Global TB Report 2025.

Pertama, 35% pasien TB dunia adalah perempuan dan 11% adalah anak dan remaja, dan kaum laki-laki 54%. Data WHO ini menunjukkan bahwa di negara kita pasien TB laki-laki adalah 2,3 kali lebih banyak dari perempuan.

Kedua, keberhasilan pengobatan TB pada 31 negara dengan beban TB terbesar adalah sedikit lebih tinggi ada perempuan dan remaja putri (90%) dibandingkan laki-laki dan remaja pria (87%).

 

 

Angka Kematian TB pada Perempuan

Ketiga, di dunia sekitar 50% kematian TB di dunia (pada yang HIV negatif) adalah kaum laki-laki, sementara angkanya untuk perempuan adalah 34% dan anak serta remaja sebesar 16%. Untuk mereka yang HIV (+) maka proporsi kematian tertinggi juga pada kaum laki-laki (51%) disusul kaum perempuan 47%.

Keempat, disparitas gender pada TB dipengaruhi oleh tiga faktor, biologis, perilaku sosial dan norma serta peran gender. Dalam hal ini, di banyak negara maka perempuan dapat mengalami masalah dalam akses pelayanan kesehatan, baik karena aspek kultural maupun juga finansial.

Kelima, WHO menegaskan bahwa pendekatan gender-responsive dalam pencegahan dan penanganan TB adalah kunci amat penting untuk mencapai target dunia mengakhiri TB, dan juga tentunya di negara kita.

 

**Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dewan Penasehat, Stop TB Partnetrship Indonesia (STPI), Badan Pengawas, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)