5 Prinsip Kunci dalam Gentle Parenting agar Anak Tumbuh Mandiri dan Percaya Diri

Dalam menjalankan pola asuh gentle parenting lima aspek ini perlu seimbang. Tak boleh hanya lembut saja.

Diterbitkan 01 Mei 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pakar psikologi Universitas Airlangga Nur Ainy Fardana mengungkapkan dalam menjalankan gentle parentingPola pengasuhan ini tidak hanya mengandalkan kelembutan tapi empati hingga batasan yang jelas.

"Pendekatan ini berfokus pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, serta konsistensi dengan batasan yang jelas,” ungkapnya.

Lewat pendekatan pola asuh ini diharapkan yang terjadi adalah hubungan hangat dan penuh empati antara orang tua dan anak, tanpa mengandalkan pendekatan hukuman keras. Tujuannya bukan hanya membuat anak patuh, tetapi membantu mereka berkembang secara emosional, sosial, dan moral dengan kesadaran diri.

Dalam pendekatan gentle parenting, anak dipandang sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi dan perilaku. Oleh karena itu, fokusnya terletak pada pembentukan kesadaran, empati, dan regulasi diri jangka panjang melalui komunikasi, validasi emosi, serta batasan yang konsisten. Mengakui emosi anak, namun tetap mengarahkan perilakunya.

Hal ini berbeda dengan pola asuh yang disiplin dan keras di mana anak dituntut patuh terhadap aturan orangtua. Pada pola asuh disiplin dan keras perilaku yang dianggap salah dipandang sebagai ketidaktaatan yang harus dikoreksi secara tegas melalui bentakan, ancaman, maupun hukuman fisik atau verbal. Emosi anak pun kerap dianggap sebagai gangguan yang harus segera dihentikan.

Sementara itu pendekatan gentle parenting menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri, empati, serta regulasi emosi anak karena sejalan dengan pola asuh authoritative. “Pengasuhan ini menekankan aspek afeksi untuk membangun komunikasi dan empati dengan anak,” kata Nur mengutip laman Unair, Jumat, 1 Mei 2026.

Gentle Parenting Itu Bukan Permisif

Empati dan komunikasi bukan sekadar pelengkap dalam gentle parenting. Tanpa keduanya, pendekatan ini berisiko berubah menjadi permisif atau kembali pada pola otoriter.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak berkaitan erat dengan tahap emosi dan kognitifnya. Empati membantu orang tua memahami apa yang terjadi di balik perilaku anak, sementara komunikasi menjadi sarana untuk membimbing dan mengarahkan.

“Keduanya harus berjalan beriringan agar memberikan dampak jangka panjang, seperti kemampuan anak dalam mengendalikan diri, terbentuknya internalisasi nilai, serta hubungan yang terbuka antara orang tua dan anak,” jelasnya.