IDAI: Daycare Seharusnya Punya Area yang Pisahkan Anak Sehat dan Sakit

Daycare perlu memiliki area khusus yang memisahkan anak sehat dengan anak sakit sebagai upaya mencegah penularan.

Diterbitkan 30 April 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Unit Kerja Koordinator Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Fitri Hartanto mengatakan bahwa sebuah daycare atau taman penitipan anak (TPA) seharusnya punya area khusus untuk anak yang sedang kurang sehat.

“Daycare itu mestinya ada area anak yang sehat dan anak sakit. Namun, di daycare kita (Indonesia) enggak ada yang membedakan anak sehat dan sakit, sehingga sering kali menulari anak lain,” kata Fitri dalam diskusi daring, Rabu (29/4/2026).

Setelah tertular, anak jatuh sakit, seminggu kemudian sembuh, tapi tertular lagi oleh temannya di daycare. Jika hal ini terus terjadi, maka tumbuh kembangnya akan terganggu.

Dia menambahkan, para pengasuh perlu mengerti soal penularan penyakit dan tidak sembarangan kontak dengan anak sehat jika sudah mengasuh anak sakit.

“Di dalam layanan daycare, itu sebetulnya tidak mudah untuk membuat layanan, harus profesional. Petugas, guru, atau pengasuh daycare itu harus tahu tentang pendidikan, kesehatan, psikologi,” ujar Fitri.”

“Sekarang bicara kesehatan, pengasuh daycare harus tahu, anak ini berpotensi menularkan nggak, bagaimana cara untuk mencegah penularan itu,” tambahnya.

Fitri menegaskan, area anak sakit bukan semata-mata ruangannya dipisahkan, tapi pengasuhnya juga perlu memiliki pemahaman soal potensi penularan penyakit. Jika pengasuh tidak memproteksi diri saat mengurus anak yang sakit kemudian langsung kontak dengan anak sehat, maka pemahamannya tentang kesehatan masih belum baik.

“Jadi usahakan pengasuh daycare itu memahami soal penyebaran kuman, tentang pengobatan sementara, tentang tindakan darurat, jadi harus kompeten,” katanya.

Kasus Daycare Little Aresha

Dalam kesempatan yang sama, Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso memberi tanggapan soal kasus kekerasan pada anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta.

“Tentu ini sangat tidak bisa diterima. Ada anak diikat, ditelanjangi, itu kayak binatang perilakunya tidak mengenal perikemanusiaan apalagi pada anak. Kami sangat menyesalkan, kejadian ini jangan terulang lagi tapi malah terulang lagi di Aceh,” kata Piprim.

Seperti diketahui, usai kasus di Yogyakarta, kekerasan pada anak juga kembali terjadi di salah satu taman penitipan anak (TPA) di Aceh.

“Dengan berbagai fenomena tersebut kita tidak bisa berdiam diri saja, kita harus mencegah bagaiamana agar setiap daycare itu diawasi oleh pakar, CCTV sangat penting, jangan sampai tergiur oleh promosi yang tidak benar atau tergiur harga murah, intinya ini tidak boleh terulang lagi,” ujar Piprim.

Dia juga berpesan kepada orang tua agar lebih memiliki kesadaran soal tanda kekerasan yang terjadi pada anak, baik tanda fisik maupun psikis.

“Buat orang tua, memang perlu lebih aware soal tanda kekerasan pada anak, baik tanda fisik mau psikis, misalnya kalau anak menolak dan ketakutan saat diajak ke daycare,” katanya.

“Paling utama adalah pencegahan karena traumanya bisa mandalam dan membekas. Mudah-mudahan semua pihak ikut terus mengawal,” harapnya.