Lapar Berkepanjangan Bukan Sekadar Kurang Makan, Ini Faktanya

Lapar berkepanjangan bisa jadi tanda masalah kesehatan. Bukan sekadar kurang makan, ini fakta yang perlu diwaspadai.

Diterbitkan 01 Februari 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mudah marah saat lapar ternyata bukan sekadar perasaan, melainkan kondisi yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar memang dapat memengaruhi emosi dan perilaku seseorang.

Menurut Noah Kass, seorang psikoterapis di New York, ketika perut kosong dan rasa lapar muncul, manusia cenderung lebih sulit mengelola emosi dan mengambil keputusan secara rasional.

Saat lapar, tubuh dan otak mengalami serangkaian perubahan yang berdampak langsung pada suasana hati. Otak membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama agar dapat berfungsi dengan optimal.

Jika seseorang tidak makan dalam waktu lama, kadar gula darah akan menurun. Akibatnya, otak kekurangan energi dan hal ini dapat memicu perubahan suasana hati.

Sebaliknya, saat tubuh dalam kondisi kenyang, keseimbangan glukosa, hormon, dan aktivitas otak lebih terjaga. Kondisi ini membantu seseorang merasa lebih tenang, stabil, dan mampu mengendalikan emosi dengan lebih baik.

Ketika kadar gula darah turun, otak tidak mendapatkan energi yang cukup untuk bekerja secara optimal. Kekurangan 'bahan bakar' ini dapat menyebabkan seseorang menjadi mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, dan lebih impulsif.

Pada dasarnya, otak memasuki mode bertahan hidup dan memprioritaskan kebutuhan untuk mencari makanan.

Pakar saraf Camilla Nord, Direktur Laboratorium di University of Cambridge, menjelaskan, otak terus-menerus memantau kondisi internal tubuh melalui proses yang disebut interosepsi. Mekanisme ini membantu manusia bertahan hidup dengan mendeteksi perubahan seperti rasa lapar.

Selain itu, rasa lapar juga dapat memicu perubahan fisiologis, termasuk gangguan keseimbangan tubuh (homeostasis), perubahan emosional, dan kondisi stres akibat tubuh keluar dari titik keseimbangannya.

Respons Hormonal terhadap Rasa Lapar

Saat kadar gula darah menurun, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin untuk memobilisasi energi cadangan. Lonjakan hormon ini dapat membuat seseorang merasa gelisah dan mudah marah.

Dalam kondisi lapar, otak juga memproduksi zat kimia bernama neuropeptida Y, yang diketahui berkaitan dengan peningkatan agresivitas dan kecemasan. Hal ini turut memperkuat reaksi emosional negatif saat seseorang belum makan.

Efek Psikologis dan Perilaku saat Lapar

Karena energi otak sangat bergantung pada glukosa, penurunan kadar gula darah dapat mengganggu fungsi mental. Beberapa efek yang umum dirasakan saat lapar antara lain:

1. Mudah tersinggung

Berkurangnya glukosa membuat pusat pengendalian emosi di otak bekerja kurang efektif, sehingga emosi lebih sulit dikendalikan.

2. Tidak sabaran

Orang yang lapar cenderung kurang toleran terhadap hambatan atau penundaan, bahkan bisa mudah membentak orang lain.

3. Sulit berkonsentrasi

Rasa lapar membuat fokus terganggu karena otak lebih memprioritaskan sinyal kebutuhan makan.

Cara Mengatasi Emosi saat Lapar

Menurut Dr. Brukner dari University of Colorado, ada beberapa cara sederhana untuk mengelola emosi saat lapar:

1. Pertahankan waktu makan yang teratur

Jika sering lupa makan, pasang alarm pada jam yang sama setiap hari sebagai pengingat.

2. Konsumsi makanan seimbang

Pilih kombinasi lemak sehat, protein, dan karbohidrat agar kenyang lebih lama dan kadar gula darah stabil.

3. Bawa camilan sehat

Camilan seperti kacang-kacangan, telur rebus, yogurt, buah, atau sepotong keju dengan sayuran bisa membantu mencegah rasa lapar berlebihan.