Liputan6.com, Jakarta - Harga obat di Indonesia cenderung lebih mahal dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk Malaysia. Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong penerapan transparansi harga obat agar dapat dibandingkan secara terbuka dengan negara lain.
"Ini sekarang kita ingin buka dengan bentuk transparansi harga. Jadi, nanti bisa dibandingin harganya berapa di Indonesia kemudian juga yang di luar negeri," ujar Budi di Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026.
Menkes Budi menilai bahwa sebetulnya harga obat di Indonesia bisa turun banyak sekitar 30 hingga 40 persen. "Aku lihat sebenarnya bisa turun cukup banyak, bisa 30-40 persen," katanya.
Advertisement
Isu mahalnya harga obat sebenarnya sudah lama menjadi perhatian di Indonesia. Lonjakan harga ini menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan, terutama di kalangan pasien yang membutuhkan pengobatan rutin.
Budi menjelaskan bahwa tingginya harga obat tidak semata-mata disebabkan oleh faktor produksi. Menurutnya, sistem pemasaran dan distribusi yang belum transparan turut berperan besar dalam membentuk harga akhir obat di pasaran.
Dia, mencontohkan, harga obat yang dibeli melalui BPJS Kesehatan umumnya lebih terjangkau karena telah melalui proses negosiasi.
Sebaliknya, obat branded generic yang tidak masuk dalam skema negosiasi BPJS kerap dijual dengan harga jauh lebih mahal.
"Misalnya, harga obat yang dibeli oleh BPJS sangat baik karena sudah dinegosiasikan. Namun, obat yang branded generic, yang tidak melalui sistem negosiasi BPJS, bisa dijual dengan harga yang jauh lebih mahal, bahkan bisa tiga sampai empat kali lipat lebih mahal dari harga luar negeri," katanya.
Perlu Transparansi Sistem Harga Obat
Menurut Budi, untuk mengatasi masalah ini, transparansi dalam sistem harga obat harus segera dilakukan. "Harus ada transparansi sistem, sehingga orang bisa tahu kenapa harga obat bisa mahal. Misalnya, harga obat yang sama bisa sangat berbeda antara rumah sakit A dan rumah sakit B," tambah Budi.
Hal ini terjadi, lanjutnya, karena tidak adanya pemahaman yang jelas mengenai harga obat di pasar, serta adanya markup atau penambahan harga yang sangat besar di distribusi dan pemasaran.
Misalnya, harga obat yang diimpor bisa sangat murah, tapi ketika sampai ke apotek atau rumah sakit, harga bisa melonjak tajam.
"Kenapa harga import-nya hanya 100, tapi bisa dijual dengan harga 500? Itu kan yang harus dibenahi," kata Menkes.
Â
Advertisement
Pentingnya Keterbukaan Informasi Obat
Menkes Budi menekankan pentingnya keterbukaan informasi terkait harga obat agar masyarakat bisa memahami penyebab perbedaan harga tersebut.
"Dengan transparansi, kita bisa mengetahui masalah yang ada dan mencari solusi untuk menurunkan biaya distribusi dan marketing yang berlebihan," ujarnya.
Selain itu, Budi juga menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada pengawasan terhadap harga obat di rumah sakit dan apotek agar tidak ada penyalahgunaan yang merugikan pasien.
Sebagai contoh, Menkes mengatakan bahwa terkadang ada perbedaan harga yang sangat signifikan antara rumah sakit satu dengan yang lain, yang tentunya merugikan pasien yang membutuhkan pengobatan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5485940/original/071080200_1769570598-bgs_harga_obat.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409553/original/011733700_1479455222-Malaysia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7592122/original/028029900_1780374636-budi_gunadi__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4550729/original/081808000_1692879444-IMG_0136.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5479339/original/009842300_1768974917-Menteri_Kesehatan_Republik_Indonesia__Budi_Gunadi_Sadikin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7600637/original/087878800_1780384423-budi__6_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309581/original/028568100_1785231660-Menteri_Kesehatan__Menkes__Budi_Gunadi_Sadikin-28_Juli_2026.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309058/original/045325500_1785217690-Menteri_Kesehatan_Budi_Gunadi_Sadikin_oleh_Aldo_Putra_Meizahni__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308403/original/6414700_1785140114-Menteri_Kesehatan_Republik_Indonesia_Budi_Gunadi_Sadikin_bersama_Gubernur_DKI_Jakarta_Pramono_Anung_oleh_Biro_Komunikasi_dan_Informasi_Publik_Kemenkes_RI_Aldi_Rahmanda_Putra__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308370/original/019173100_1785139255-Menteri_Kesehatan_RI__Budi_Gunadi_Sadikin__BGS__by_Aditya_Eka_Prawira__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5364265/original/038853300_1759053125-WhatsApp_Image_2025-09-28_at_16.48.31.jpeg)