Bukan Sekadar Manis, Ini Alasan Donat Artisan Harus Dimakan Selagi Fresh

Donat artisan tak sekadar manis. Simak alasan donat handcrafted sebaiknya dimakan selagi fresh demi rasa dan tekstur terbaik.

Diterbitkan 14 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menikmati donat dalam kondisi paling segar menjadi kunci untuk mendapatkan pengalaman rasa yang maksimal. Namun, tak banyak penikmat camilan yang menyadari bahwa donat jenis artisan memiliki masa kualitas terbaik yang relatif singkat.

Founder dan CEO Dough Darlings, Ivan Mario Halim, mengungkapkan bahwa manajemen stok menjadi tantangan utama agar konsumen selalu mendapatkan produk dengan kualitas optimal. Hal ini tak lepas dari karakteristik donat artisanal yang dibuat secara khusus dan tidak sepenuhnya mengandalkan mesin.

"Karena ini donat artisanal, secara konsumsi memang jauh lebih baik jika dikonsumsi kurang dari enam jam," ujar Ivan pada Selasa, 13 Januari 2026.

Donat yang masih segar berada pada fase keemasan, ketika tekstur dan rasa mencapai titik terbaik sebelum kualitasnya perlahan menurun. Untuk menjaga standar tersebut, pengelola harus cermat mengatur produksi harian agar pelanggan tidak menerima donat yang sudah melewati waktu ideal konsumsi.

Langkah ini dilakukan demi memastikan setiap pembeli merasakan kesegaran autentik, bukan donat yang terlalu lama terpajang di etalase.

Selain faktor waktu, kualitas premium donat juga lahir dari teknik handcrafted atau pembuatan manual menggunakan tangan. Berbeda dengan donat komersial yang diproduksi massal oleh mesin, setiap adonan diproses dengan ketelitian tinggi untuk menjaga kelembutannya.

 

Sentuhan Tangan di Balik Kelezatan Adonan

Proses manual, mulai dari memilin hingga mencetak adonan, memberikan karakter unik yang sulit ditiru. Oleh sebab itu, edukasi terkait teknik ini terus ditekankan kepada tim produksi. Perbedaan tekanan tangan saat mengolah adonan saja dapat memengaruhi tekstur akhir donat.

Komitmen terhadap kualitas tersebut dibarengi dengan pelatihan ketat untuk menjaga konsistensi rasa di setiap lokasi, meskipun proses pembuatan manual memiliki tantangan teknis yang lebih besar.

"Kita mengandalkan handcrafted dan bahan-bahan yang kami percaya, supaya orang yang makan benar-benar merasa ada ciri khas rasa yang berbeda," tambah Ivan.

Untuk menjawab lonjakan permintaan, terutama saat ramai pengunjung, tim menerapkan strategi produksi yang dinamis. Produksi ulang akan segera dilakukan agar donat yang dijual tetap segar.

"Tantangan yang selalu kami kelola adalah memastikan customer mendapatkan donat yang fresh, bukan yang sudah di atas enam jam," pungkasnya.