Jangan Remehkan Manfaat Liburan buat Anak, Psikolog: Untuk Jaga Keseimbangan Fisik dan Mental

Liburan Natal dan Tahun Baru, waktunya anak bebas dari rutinitas harian dan mencoba hal-hal baru.

Diterbitkan 04 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Psikolog Nur Ainy Fardana mengatakan, liburan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan fisik dan mental anak.

Pasalnya, anak-anak telah menghabiskan banyak waktu dengan rutinitas kegiatan yang menguras kemampuan kognitif, fisik, dan emosional mereka. Maka dari itu, masa libur menjadi momen yang tepat untuk mengembalikan energi anak, sekaligus memberi ruang untuk mengeksplorasi pengalaman baru di luar rutinitas akademik.

“Yang sebenarnya dipulihkan ketika anak memasuki masa liburan itu adalah pengalamannya dan kondisi mentalnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman baru, lalu dari pengalaman itu mereka merasa lebih nyaman dan memiliki cara pandang yang berbeda tentang potensi dirinya dan tentang apa yang ada di sekitarnya,” kata Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR) mengutip keterangan resmi ditulis Minggu (4/1/2026).

Psikolog yang akrab disapa Neny menambahkan, pengalaman baru tersebut tidak selalu harus hadir melalui kegiatan liburan yang membutuhkan biaya besar. Menurutnya, orang tua dapat merancang berbagai aktivitas sederhana di rumah yang memberi ruang bagi anak untuk keluar dari rutinitas akademik. Pada momen inilah, liburan juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan antara anak dan keluarga.

“Aktivitasnya bisa apa saja, sesederhana apa pun. Misalnya di rumah anak-anak bisa diajak membuat proyek tertentu atau kalau orang tuanya punya aktivitas usaha, anak-anak bisa terlibat di sana. Ajak anak-anak melakukan aktivitas yang selama ini tidak bisa mereka lakukan karena jadwal sekolah yang padat. Itu bisa jadi pengalaman baru untuk mereka,” ujarnya.

 

Bebas dari Target dan Tuntutan

Neny menegaskan bahwa aktivitas selama masa liburan sebaiknya tidak dibingkai dalam target atau tuntutan tertentu.

Menurutnya, tekanan semacam itu justru dapat mengurangi manfaat liburan bagi anak. Ia menilai, masa libur harus menjadi ruang bermain dan berekspresi. Agar anak memiliki kesempatan untuk mengenali kepribadiannya serta mengeksplorasi potensi di luar rutinitas sekolah yang ketat.

Neny menambahkan, peran orangtua menjadi aspek penting dalam memastikan pengalaman liburan anak benar-benar bermakna. Sebab, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga orang tua perlu peka dalam mendampingi dan memfasilitasi aktivitas selama masa libur.

“Orangtua bisa bertanya apa yang ingin anak lakukan selama libur. Kalau memang tidak bisa bepergian, anak tetap bisa memilih aktivitas yang mereka sukai di rumah,” tambahnya.

 

Pastikan Anak Tak Terpapar Aktivitas Negatif Selama Libur

Masa liburan kerap dipandang sebagai masa ‘bebas’ bagi anak tapi pendampingan orang tua tetap perlu.

Ia mengingatkan agar waktu luang yang lebih panjang tidak membuat anak terpapar aktivitas atau informasi yang berisiko terhadap perkembangan dan keselamatan mereka.

“Orang tua perlu memfasilitasi aktivitas yang menggugah kreativitas anak, memberi kebebasan anak mengeksplorasi potensi-potensi positif yang mereka miliki. Sekaligus tetap memantau aktivitas anak selama libur dan menjaga kesehatannya. Baik fisik maupun mental,” pungkasnya.

  • liputan6
    Perayaan Natal adalah momen penting yang merangkum sejarah panjang, makna spiritual mendalam, dan beragam tradisi unik di seluruh dunia, berpusat pada kelahiran Yesus Kristus.
    Natal
  • liputan6
    Perayaan Tahun Baru adalah momen global yang ditandai dengan berbagai tradisi dan kebiasaan unik di seluruh dunia, seringkali melibatkan refleksi, harapan baru, dan kebersamaan.
    Tahun Baru
  • libur
  • lliburan
  • Anak
  • health
  • Psikolog
  • Nataru