Indonesia Rawan DBD dari Sabang sampai Merauke, Wamenkes Dante Ungkap Cara Menuju Nol Kematian Dengue 2030

Wamenkes Dante mengungkap strategi Indonesia menuju nol kematian akibat demam berdarah dengue pada tahun 2030.

Diterbitkan 06 November 2025, 12:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia berada di wilayah yang sangat rawan terhadap penularan demam berdarah dengue (DBD). Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D mengingatkan bahwa secara geografis, Indonesia termasuk dalam zona ideal berkembangnya virus dengue yang menjadi penyebab DBD. 

"Indonesia terletak di antara 6 derajat lintang utara dan 11 derajat lintang selatan. Penelitian menunjukkan virus dengue hidup di wilayah 35 derajat lintang utara dan selatan. Artinya, dari Sabang sampai Merauke, seluruh wilayah Indonesia berpotensi terdampak dengue," ujar Dante. 

Menurutnya, satu gigitan nyamuk Aedes aegypti saja sudah cukup untuk membuat seseorang harus dirawat di rumah sakit. "Setiap dua menit, ada satu pasien DBD yang dirawat di rumah sakit," katanya dalam diskusi media Policy Dialogue on Dengue: Membangun Sistem Pelaporan dan Peringatan Dini yang Terintegrasi Menuju Indonesia Zero Dengue Death 2030 pada Rabu, 5 November 2025.

 

Ribuan Kasus dan Ratusan Kematian Setiap Tahun

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hingga tahun 2024 terdapat 257 ribu penderita DBD di seluruh Indonesia. Data dari BPJS Kesehatan bahkan menunjukkan jumlah pasien yang dirawat mencapai sekitar satu juta orang.

"Masih ada 1.450 angka kematian akibat dengue hingga tahun 2024, dan di tahun 2025 ini tercatat sekitar 500 kematian," kata Dante. Padahal, pemerintah bersama masyarakat telah berkomitmen untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.

Kerugian Ekonomi Akibat DBD Capai Rp15 Triliun

Selain ancaman kesehatan, DBD juga membawa dampak ekonomi besar. Biaya perawatan pasien DBD diperkirakan mencapai Rp3 triliun per tahun, belum termasuk hilangnya produktivitas akibat sakit.

"Kalau dihitung dengan hilangnya produktivitas kerja, total kerugian akibat dengue bisa mencapai Rp15 triliun per tahun," ujar Dante. 

Kerugian ini, lanjutnya, menyumbang sekitar 0,71 persen dari total Disability Adjusted Life Years (DALY) di Indonesia. Indikator yang menunjukkan hilangnya tahun kehidupan produktif akibat penyakit.

Wamenkes Dante menegaskan bahwa DBD bukan semata persoalan medis, melainkan juga masalah sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan. "Kalau dengue hanya dikupas dari sisi medis, masalahnya tidak akan selesai. Kita perlu melihat dari aspek sosial, ekonomi, dan budaya," katanya. 

Dante menilai bahwa upaya pemberantasan DBD membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, lembaga swasta, akademisi, media, dan masyarakat harus terlibat aktif menciptakan lingkungan bebas dengue.

Kolaborasi Menuju Nol Kematian DBD 2030

Dante mengapresiasi langkah Forum Denpasar 12 dan Koalisi Kobar yang berupaya menggerakkan masyarakat melawan dengue. "Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor agar kebijakan yang diambil lebih ilmiah, aplikatif, dan berkeadilan sosial," ujarnya.

Dante optimistis Indonesia bisa mencapai nol kematian akibat DBD pada 2030 bila ada komitmen kuat dan sosialisasi berkelanjutan.

"Dengan data yang terintegrasi, kolaborasi yang berkesinambungan, dan kesadaran masyarakat, kita bisa mewujudkan masa depan di mana dengue hanya menjadi penyakit biasa, tanpa kematian," pungkas Dante.Â