Sukses

Upaya Pengendalian COVID-19 di Korea Utara yang Terus Bertambah

Liputan6.com, Jakarta Situasi COVID-19 di Korea Utara terus terjadi penambahan. Dalam sehari kasus yang mereka sebut demam bisa bertambah sekitar 250 ribuan kasus. Kantor Berita Pusat Korea mengatakan lebih dari 1,98 juta orang di sana menderita demam yang diyakini sebagai COVID-19.

Angka nyaris dua juta itu hanya seminggu setelah negara itu mengakui adanya kasus Omicron pertama dan bergegas untuk memperlambat infeksi pada populasi yang tidak divaksinasi.

Negara yang juga akrab disebut Korut berusaha mencegah ekonominya yang rapuh agar tidak semakin memburuk, tetapi wabah itu bisa lebih buruk daripada yang dilaporkan secara resmi.

“Pasalnya, negara itu tidak memiliki tes virus dan sumber daya perawatan kesehatan lainnya dan mungkin tidak melaporkan kematian untuk melunakkan dampak politik pada pemimpin otoriter Kim Jong Un,” mengutip Seattletimes, Jumat (20/5/2022).

Markas besar anti-virus Korea Utara melaporkan satu kematian tambahan, meningkatkan jumlah korban menjadi 63. Angka ini menurut para ahli sangat kecil dibandingkan dengan jumlah dugaan infeksi virus Corona.

Mengenai nyaris dua juta orang menderita demam sejak akhir April. Sebagian besar diyakini sakit COVID-19, meskipun hanya beberapa infeksi varian Omicron yang telah dikonfirmasi. Setidaknya 740.160 orang dikarantina.

Wabah Korea Utara terjadi di tengah serangkaian demonstrasi senjata yang provokatif, termasuk uji coba pertama rudal balistik antarbenua dalam hampir lima tahun pada bulan Maret.

Para ahli tidak percaya wabah COVID-19 akan memperlambat sikap Kim yang bertujuan menekan Amerika Serikat untuk menerima gagasan Korea Utara sebagai negara dengan kekuatan nuklir dan merundingkan konsesi ekonomi dan keamanan dari posisi yang kuat.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Disebut Pergolakan Besar

Korea Utara akhirnya mengakui infeksi COVID-19 pertamanya pada 12 Mei 2022. Negara itu juga telah mengatakan bahwa penyebaran yang cepat sejak itu.

Kim menyebut wabah itu sebagai "pergolakan besar," mencaci para pejabat karena membiarkan virus menyebar dan membatasi pergerakan orang dan pasokan antar kota dan wilayah.

Para pekerja dikerahkan untuk menemukan orang-orang yang diduga memiliki gejala COVID-19 yang kemudian dikirim ke karantina – metode utama untuk menahan wabah karena Korea Utara kekurangan pasokan medis dan unit perawatan intensif yang menurunkan rawat inap dan kematian COVID-19 di negara lain.

3 dari 4 halaman

Berbagai Masalah Lain

Gambar-gambar media pemerintah menunjukkan petugas kesehatan dengan pakaian hazmat menjaga jalan-jalan tertutup Pyongyang, Ibu Kota Korea Utara. Mereka mendisinfeksi bangunan dan jalan-jalan dan mengirimkan makanan dan persediaan lainnya ke blok-blok apartemen.

Terlepas dari banyaknya orang sakit dan upaya untuk mengendalikan wabah, media pemerintah menggambarkan sekelompok besar pekerja terus berkumpul di pertanian, fasilitas pertambangan, pembangkit listrik, dan lokasi konstruksi.

Para ahli mengatakan Korea Utara tidak dapat melakukan penguncian yang akan menghambat produksi dalam ekonomi yang sudah rusak akibat salah urus.

Korea Utara juga harus segera bekerja untuk melindungi tanamannya dari kekeringan yang melanda selama musim tanam padi yang penting - perkembangan yang mengkhawatirkan di negara yang telah lama menderita kerawanan pangan.

Media pemerintah juga mengatakan bahwa proyek konstruksi Kim, termasuk pembangunan 10.000 rumah baru di kota Hwasong, sedang "didorong sesuai jadwal."

“Semua sektor ekonomi nasional meningkatkan produksi secara maksimal dengan tetap memperhatikan langkah-langkah anti-epidemi yang diambil oleh partai dan negara,” lapor Korean Central News Agency (KCNA).

4 dari 4 halaman

Pengendalian Wabah

KCNA menjelaskan bahwa langkah pengendalian wabah di Korea Utara telah dilakukan. Salah satunya pengendalian virus di tempat kerja dengan memisahkan pekerja berdasarkan klasifikasi pekerjaan mereka.

Pemerintah juga mengkarantina unit pekerja di lokasi konstruksi dan di industri utama logam, kimia, listrik dan batu bara, kata KCNA.

Kee Park, spesialis kesehatan global di Harvard Medical School yang telah bekerja pada proyek perawatan kesehatan di Korea Utara, mengatakan jumlah kasus baru di negara itu akan mulai melambat karena langkah-langkah pencegahan yang diperkuat.

Tetapi akan menjadi tantangan bagi Korea Utara untuk memberikan perawatan bagi sejumlah besar orang dengan COVID-19. Kematian mungkin mendekati puluhan ribu, mengingat ukuran beban kasusnya, dan bantuan internasional akan sangat penting, kata Park.

“Cara terbaik untuk mencegah kematian ini adalah dengan mengobati dengan antivirus seperti Paxlovid,” yang secara signifikan akan menurunkan risiko penyakit parah atau kematian, kata Park.

“Ini jauh lebih cepat dan lebih mudah diterapkan daripada mengirim ventilator untuk membangun kapasitas ICU.”