Sukses

Selain Usia, Ini Syarat Lain agar Bisa Donor Darah

Liputan6.com, Bandung Menurut dokter patologi klinik Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Nadjwa Zamalek Dalimoenthe batas usia minimum orang yang melakukan donor darah adalah 17 hingga 60 tahun. Semakin muda, tentunya dengan kondisi kesehatan dan pola hidup yang baik, kualitas darahnya akan semakin baik.

“Orang tua sudah mendapat rangsangan yang banyak dari luar, hal ini bisa mengakibatkan sedikit penurunan kualitas pada darahnya, sehingga sebaiknya sejak muda sudah mulai dibiasakan mendonor. Tubuh lebih sehat sekaligus sangat bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan,” ujar Nadjwa dalam keterangan resminya ditulis Bandung, Senin, 29 Juni 2020.

Nadjwa mengatakan agar dapat berperan aktif dalam donor darah, anak muda dihimbau untuk selalu membiasakan pola hidup sehat, seperti tidak merokok, tidak minum alkohol dan hindari seks bebas. Hal ini untuk menjaga kualitas darah.

Sebelum digunakan darah hasil dari seluruh pendonor di Bank Darah RSHS maupun PMI sudah diperiksa dengan baik. Skrining donor darah dilakukan beberapa tahap. 

“Sebelum donor, pendonor akan melalui beberapa pemeriksaan seperti identitas, berat badan, riwayat penyakit, riwayat minum obat dan kualitas istirahat. Setelah itu pendonor akan diperiksa tekanan darah dan kadar hemoglobin dalam darah, batas minimal Hb adalah 12.5 g/dL,” terang Nadjwa. 

Setelah diambil dari pendonor lanjut Nadjwa, darah akan kembali diperiksa apakah terbebas dari HIV, virus Sifilis, Hepatitis B dan Hepatitis C hingga darah terjamin baik dan siap digunakan oleh pasien yang membutuhkan.

Tak hanya itu, syarat lainnya adalah berat badan minimal pendonor adalah 45 kilogram. Untuk berat dibawah 60 kilogram, darah dapat diambil sekitar 300 – 350 cc. 

“Sedangkan untuk pendonor yang memiliki berat badan diatas 60 Kilogram dapat diambil 400 – 450 cc dengan frekuensi maksimal lima kali dalam satu tahun,” ungkap Nadjwa.

2 dari 2 halaman

Paling Banyak Golongan Darah O

Nadjwa menerangkan terdapat lima hal unik tentang golongan darah di Indonesia. Nadjwa mengatakan golongan darah paling banyak adalah O sekitar 40 persen, paling sedikit AB lima persen, sisanya A dan B.

Pada golongan darah AB, rhesus negatif yang paling sedikit. Nadjwa menyebutkan orang dengan golongan darah O lebih mudah berdarah, menstruasi cenderung lebih banyak dibanding yang bukan O, karena orang darah O, gen proses pembekuan darahnya kurang.

“Untuk golongan darah AB lebih mudah untuk terkena stroke dan Infark Miokard karena sel-nya lebih besar dari pada yang lain, sehingga sangat mungkin terjadi sumbatan pembuluh darah,” tutur Nadjwa.

Seluruh golongan darah itu memiliki masa kedaluwarsa darah tersimpan di PMI yaitu tiga bulan. Setelah tiga bulan tidak digunakan darah akan dibuang.