Sukses

Pramugari Lebih Rentan Kena Kanker, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta Pramugari dan pramugara lebih berisiko terkena beberapa jenis kanker dibanding populasi umum. Para awak pesawat ini lebih berisiko terkena kanker payudara, serviks, kulit, tiroid serta usus dibandingkan masyarakat umum.

Salah satu kemungkinan pramugari di Amerika Serikat berisiko lebih besar terkena kanker karena paparan agen yang bersifat karsiongen selama bekerja. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu penulis studi utama dari Harvard University's T.H. Chan School of Public Health, Irina Mordukhovich.

Salah satu paparan karsinogen, kata Mordukhovich adalah radiasi kosmik ion (cosmic ionizing radiation). Radiasi tipe ini bisa merusak DNA yang kemudian meningkatkan risiko terkena kanker payudara atau kanker kulit seperti disampaikan peneliti ini ke laman Live Science dilansir Selasa (26/6/2018).

"Pramugari/pramugara paling tinggi mendapat paparan radiasi ion selama bekerja dibandingkan pekerja AS lainnya," kata Mordukhovich.

 

*Pantau hasil hitung cepat atau Quick Count Pilkada 2018 untuk wilayah Jabar, Jateng, Jatim, Sumut, Bali dan Sulsel. Ikuti juga Live Streaming Pilkada Serentak 9 Jam Nonstop hanya di Liputan6.com.

Saksikan juga video menarik berikut:

2 dari 3 halaman

Studi libatkan ribuan pramugari/pramugara

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health pada 25 Juni 2018 ini meneliti kondisi kesehatan 5.300 pramugari/pramugara dari berbagai maskapai penerbangan. Kondisi kesehatan mereka dibandingkan dengan 2.700 orang lain dengan pendapatan status pendidikan yang sama dengan pekerjaan lain.

Hasil studi menemukan, pramugari berrisiko 50 persen lebih tinggi terkena kanker payudara dibanding populasi secara umum. Lalu, berisiko dua kali lipat terkena kanker kulit jenis melanoma dan empat kali terkena kanker kulit nonmelanoma dibanding wanita lainnya.\

Pada pramugara, risiko terkena kanker melanoma 50 persen lebih tinggi. Sementara, risiko terkena kanker nonmelanoma 10 persen lebih tinggi dibanding populasi umum.

 

3 dari 3 halaman

Risiko jam terbang terlalu tinggi

Pramugari/pramugara yang berisiko terkena kanker tidak hanya karena sering terpapar cosmic ionic radiotion. Awak pesawat yang sering terpapar radiasi UV juga rentan terkena kanker kulit seperti disampaikan Mordukhovich.

"Beberapa penelitian lain telah menemukan juga bahwa gangguan irama sirkadian seperti jet lag, terkait dengan peningkatan risiko," katanya lagi.

Gangguan irama sirkadian bisa membuat perubahan fungsi kekebalan tubuh dan metabolisme sel tubuh. Selain itu, kontaminasi senyawa kimia lain termasuk kebocoran mesin, pestisida, dan api bisa membuat hormon terganggu serta meningkatkan risiko kanker.

Sayangnya, pramugari di Amerika Serikat tidak memiliki perlindungan kerja seperti di Eropa. Pramugari di Eripa dipantau jadwal kerja sehingga tidak bekerja melebih pedoman tertentu terkait paparan karsinogen seperti disampaikan Mordukhovich.

Lalu, bagaiman risiko pilot terkena kanker?

Rupanya, risiko seseorang terkena kanker bukan hanya pramugari/pramugara tapi juga pilot serta penumpang yang sering terbang seperti disampaikan Mordukhovich.

"Risiko orang yang sering pergi dengan pesawat terbang memang belum ada studinya, tapi tidak ada alasan untuk tidak menduga orang-orang ini memiliki risiko yang hampir sama seperti pramugari/pramugara," katanya.