Sukses

Bikin Mati Rasa, Bercak Kusta Itu seperti Apa?

Liputan6.com, Palu Kusta adalah penyakit yang sering terlambat diobati. Ini karena, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae (M. leprae) tersebut muncul tanpa disertai rasa sakit.

"Gejala awal dari kusta itu biasanya adalah bercak," ujar perwakilan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) ketika berbicara dengan Health-Liputan6.com, di Palu, Sulawesi Tengah, ditulis Minggu (25/1/2018).

Baca Juga: Jangan Takut Kusta, Kemungkinan Besar Kamu Kebal

"Kusta itu ada dua, pausi basiler dan multi basiler. Pausi basiler (PB) itu yang tipe kering, yang multi basiler (MB) itu tipe basah artinya kumannya sangat banyak. Kelainan tubuhnya juga banyak." Pasien kusta di Indonesia kebanyakan adalah multi basiler.

Apakah seseorang akan terkena kusta PB atau MB tergantung pada kekebalan tubuhnya. Kalau kekebalan tubuhnya rendah sekali, akan terkena MB. Kalau di bawah normal, tapi belum terlalu rendah, bisa kena PB.

Bercak kusta tipe kering, biasanya berwarna putih. Orang sering mengiranya sakit kulit biasa, misalnya panu. Namun, yang membedakan bercak kusta dengan penyakit kulit adalah: area yang muncul bercak akan kehilangan indra perasa.

Salah satu cara mengecek bercak kusta adalah, menyentuhnya menggunakan kapas.

Saat pengecekan, pasien akan diminta memalingkan muka, lalu area bercak akan disentuh menggunakan kapas. Seandainya bercak tersebut adalah bercak kusta, pasien biasanya tidak akan merasakan sentuhan tadi.

Sedangkan bercak akibat kusta MB, warnanya kemerahan dan berair. Dan area bercak ini juga akan mati rasa.

Bercak bisa muncul di mana saja. Tangan, kaki, punggung, telinga, di mana saja. Karenanya, seandainya kamu tinggal di area yang endemis kusta, penting untuk melakukan pengecekan bercak secara rutin.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Deteksi dini bisa sembuh total

"Pasien kusta sering terlambat berobat. Kebanyakan mereka datang sudah cacat," ujar Yohei Sasakawa, Duta WHO untuk Eliminasi Kusta.

Sasakawa juga mengatakan, seandainya kusta bisa terdeteksi secara dini, pasien bisa diobati dan akan sembuh total tanpa bekas sedikit pun.

Itulah kenapa, dalam kunjungan ke Makassar dan Palu, Sasakawa selalu menekankan pada para petugas kesehatan, untuk memberikan penyuluhan dan edukasi yang benar pada masyarakat sekitar.

Pendeteksian dini bisa menyelematkan hidup seorang penderita kusta.

"Beberapa waktu lalu, saya menemui seorang gadis yang kena kusta. Usianya baru 22 tahun," ujar Sasakawa. Beruntung bagi gadis asal Kabupaten Gowa itu, bercak kustanya berhasil terdeteksi secara dini. Gadis itu kini sudah diobati.

"Berkat usaha petugas kesehatan, gadis itu kini bisa melanjutkan hidupnya secara baik-baik saja. Masa depannya masih terbentang luas dan cerah," puji Sasakawa dalam walwancara eksklusif dengan Health-Liputan6.com.

Loading
Artikel Selanjutnya
WHO Puji Program Eliminasi Kusta di Sigi
Artikel Selanjutnya
Jangan Takut Kusta, Kemungkinan Besar Kamu Kebal