Sukses

9 Jenis Pasangan yang Akan Bubar

Liputan6.com, New York - Ada pasangan yang begitu cocoknya satu sama lain. Kita melihat mereka seakan tidak akan pernah terpisahkan. Sebaliknya, tentu saja ada pasangan yang tidak berpadan satu sama lain. Kita bahkan heran kenapa mereka dulunya harus pernah bertemu.

Dikutip dari Huffington Post pada Kamis (10/3/2016), sejumlah psikolog dan pakar hubungan mencoba berbagi tentang sembilan jenis pasangan yang akan cerai di masa depan. Seperti apa? Simak di sini:

1. Pasangan dengan kekuasaan tidak seimbang

Tidak ada seorang pun yang lebih sedikit menaruh perasaan, demikian menurut Kristin Davis, psikolog di Kota New York. Dan ketidakseimbangan mengganggu hubungan dalam jangka panjang.

Katanya kepada Huffington Post, “Kalau kamu berulang kali menjadi seseorang yang menanggung beban emosional lebih berat, hal itu akan mengubah dinamika hubungan.”

“Orang jadi muak. Mereka mengalami ketidaksetaraan dalam hubungan dan orang yang menanggung lebih berat merasa hubungan itu jadi lebih merepotkan daripada yang seharusnya.”

Hubungan memerlukan upaya, perhatian, dan niat. Namun pada akhirnya kedekatan ini harus memperkaya kehidupan, bukan sekadar pergulatan harian.

2. Pasangan dengan daftar syarat

Tentu hal yang cerdas untuk memiliki daftar sejumlah mutu yang pastinya kita inginkan dalam diri pasangan masa depan. Namun jangan abaikan chemistry dan nilai kebersamaan ketika sedang mencari pasangan, kata Virginia Gilbert, seorang ahli terapi pernikahan dan keluarga dari Los Angeles.

“Bukan sesuatu yang salah menikahi seorang yang bekerja sebagai pengusaha, tinggi, tampan, hidup sehat, lulusan sekolah terkemuka dan ternyata menulis puisi di waktu senggang.”

“Tapi kalau kamu tidak berbagi nilai mendasar (misalnya kita pendukung monogami dan si dia tidak demikian), maka kita perlu mengganti daftar keinginan dan menuliskan daftar baru dengan hal yang memang penting.”

3. Pasangan yang mengabaikan daftar syarat

Di lain pihak, pasangan yang menerima satu sama lain dan mengabaikan hal-hal yang merenggangkan mereka sepertinya tidak akan langgeng juga, kata Marcia Naomi Berger, ahli terapi kejiwaan dan penulis buku Marriage Meetings for Lasting Love.

Katanya kepada Huffington Post, “Hal-hal ini pada hakekatnya adalah perbedaan yang tidak bisa ditawar. Itulah sebabnya mengapa penting untuk membicarakan berbagai kebutuhan dalam hubungan sebelum mengikatkan diri.”

“Misalnya, seseorang ingin mempunyai anak dan pasangannya tidak mau—dan tidak ada yang mau mengubah posisinya—mereka sebaiknya tidak usah menikah.”

4. Pasangan yang menyabotase diri sendiri

Sang wanita berselingkuh, maka sang pria “membalas” dengan tidur bersama rekan kerja. Atau yang lelaki menolak pergi ke acara makan malam keluarga sang wanita, lalu keduanya malah sepakat untuk tidak saling mendatangi kumpulan keluarga sama sekali.

Dalam suatu hubungan, permainan saling membalas merupakan tindakan nyata sabotase, kata Marina Sbrochi, penulis buku Stop Looking for a Husband: Find the Love of Your Life.

5. Pasangan yang hanya terikat birahi menggebu semata

Kehidupan seks yang sehat dan mantap adalah suatu keniscayaan bagi kebanyakan orang. Namun hubungan seks tidak boleh menjadi satu-satunya yang sama-sama disukai bersama pasangan, kata Berger. Perlu lebih dari sekadar seks untuk membuat hubungan langgeng dalam jangka panjang.

6. Pasangan dengan beda usia yang terlalu jauh

Bagi kebanyakan di antara kita, usia tidak lebih dari sekadar angka ketika berkaitan dengan hubungan sebagai pasangan, kata Sbrochi.

“Kebanyakan orang selayaknya tidak mengencani seseorang 30 tahun lebih tua atau lebih muda, karena tahap perkembangan mereka terlalu berbeda. Kecuali kalau memang mandeg di usia 20-an, cobalah mengencani seseorang dalam tahap kehidupan yang sama.”

Lanjutnya, “Menjadi orang muda memang mengasyikkan, tapi ketika seseorang kemudian menjadi cukup matang secara emosional, kamu tidak perlu mati-matian menghidupkan lagi tahapan kehidupan itu melalui orang lain (pasangan yang jauh lebih muda).”

7. Pasangan yang narsisistik

Tidak semua orang yang mementingkan diri menunjukkan gangguan kepribadian narsisistik (narcissistic personality disorder, NPD). Tapi orang yang benar-benar memenuhi syarat sebagai jenis NPD adalah orang paling susah berada dalam hubungan.

Kata Berger, “Kalau seseorang terlalu larut dalam diri sendiri, mereka tidak akan bisa merasakan dan menunjukkan empati kepada pasangan. Empati merupakan bahan hakiki untuk pernikahan yang langgeng dan memuaskan. Pada akhirnya pasangan yang secara emosional diabaikan akan ingin mengakhiri pernikahan.”

8. Pasangan yang enggan bicara soal keuangan

Jangan menganggap masalah keuangan, baik sebagai perseorangan ataupun pasangan, akan selesai ketika menikah, kata Berger. Obrolan tentang keuangan memang bukan yang paling menarik, tapi amat baik kalau dilakukan sejak dini dan sering.

Faktanya, para peneliti di Kansas State University baru-baru ini mendapati pertikaian terkait keuangan merupakan peramal kuat terjadinya perceraian.

Kata Berger, “Jangan terlalu memberikan perhatian kepada rencana pesta pernikahan daripada pernikahan itu sendiri. Yang begitulah resep kegagalan perkawinan.”

“Bahaslah siapa yang akan bekerja, bagaimana pembagian uang di dalam pernikahan dan bagaimana jadinya kalau salah satu pasangan memutuskan untuk mengurus rumah tangga saja.”

9. Pasangan yang benci tapi tidak mau pisah

Ada sejumlah jenis pernikahan yang terseret dalam drama. Namun pertengkaran dan putus-sambung yang terus menerus tidak boleh menjadi kebiasaan dalam hubungan apa pun, kata Glibert. Pernikahan demikian tidak berkelanjutan.

“Hubungan tersebut dipenuhi dengan drama—pertengkaran besar, perselingkuhan, lalu penyatuan kembali yang berlumuran seks. Biasanya, dua orang yang begitu adalah orang-orang pencari perhatian dan memilih untuk menganggap remeh ketidakpadanan mendasar karena mereka ketagihan pada kehebohannya.”

Ketika hubungan akhirnya usai, biasanya karena seorang di antara pasangan itu lelah dengan kondisi itu dan memutuskan untuk keluar, “dan melegakan teman-teman serta kerabat!” tutup Gilbert.