Tentara Tuhan Masih Bergerilya di Myanmar

Konflik bersenjata antara pemerintah Myanmar dengan gerilyawan suku Karen masih berlanjut. Perjuangan merebut daerah otonomi di Myanmar itu sudah melewati setengah abad.

Diterbitkan 20 Maret 2001, 13:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Yangoon: Konflik bersenjata antara junta militer Myanmar dan pejuang suku Karen di perbatasan Thailand-Myanmar terus berlanjut. Pertikaian bersenjata itu masih berlangsung terutama di daerah pedalaman. Dilaporkan, pejuang suku Karen memakai taktik gerilya hit and run dalam menyerang pasukan Myanmar.

Gerilyawan suku Karen telah berjuang merebut hak otonomi dari pemerintah Myanmar sejak 53 tahun silam. Suku Karen atau dikenal juga dengan sebutan Tentara Tuhan muncul sejak Myanmar merdeka dari Inggris pada tahun 1948. Sekitar dua ribu pasukan Karen melakukan perlawanan terhadap pemerintah Myanmar dengan cara gerilya. Sebab, peralatan tempur pasukan pemerintah jauh lebih unggul dari mereka.

Sesuai dengan sebutan mereka, pejuang Karen selalu melakukan doa bersama sebelum berpatroli. Selanjutnya, mereka akan berkeliling mengitari seluruh hutan dan gunung di kawasan yang mereka perjuangkan. Pejuang Karen akan menggempur basis atau sepasukan tentara pemerintah Myanmar dari jarak beberapa ratus meter. Selanjutnya, setelah menyerang, mereka kemudian kembali ke dalam belukar hutan.

Taktik perang gerilya tersebut dianggap sebagai cara efektif suku Karen menekan pemerintah agar memberikan hak otonomi. Apalagi, ditopang oleh kemampuan tembak jarak jauh para gerilyawan yang sangat baik. Selain senapan, mereka bahkan juga piawai menggunakan peluncur roket. Kendati begitu, sampai sejauh ini, belum ada tanda-tanda pemerintah akan memberikan hak mereka.(ANS/Ipd)