10 Oktober 1957: Eisenhower Minta Maaf ke Diplomat Ghana Akibat Kasus Rasisme

Presiden Eisenhower mengundangnya untuk sarapan bersama sebagai permintaan maaf pada 10 Oktober 1957.

Diterbitkan 10 Oktober 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Salah satu insiden yang sangat memalukan dalam sejarah terjadi saat Presiden Dwight D. Eisenhower meminta maaf kepada diplomat Afrika pada 10 Oktober 1957. Hal ini lantaran sebuah restoran di Dover, Delaware, menolak melayani Menteri Keuangan Ghana Komla Agbeli Gbedemah. Peristiwa ini adalah salah satu insiden awal dari banyaknya kejadian serupa di mana para diplomat Afrika menghadapi segregasi rasial di Amerika Serikat (AS)

Dikutip dari History.com, Sabtu (10/10/2026), walaupun masalah ini terlihat relatif kecil jika dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain saat Perang Dingin, perlakuan rasial yang terus menerus terhadap para diplomat Afrika (dan Asia) selama tahun 1950-an dan 1960-an menjadi perhatian utama para pejabat AS. Selama dekade-dekade tersebut, AS dan Uni Soviet saling bersaing untuk mengambil “hati dan pikiran” ratusan juta orang kulit berwarna di Asia dan Afrika.

Menurut Smithsonian Magazine, beberapa bulan sebelumnya, Menteri Keuangan tersebut menyambut Wakil Presiden Richard Nixon di rumahnya, ketika negara tersebut merayakan kemerdekaannya dari Inggris.

"Jika wakil presiden AS bisa makan di rumah saya saat berkunjung ke Ghana, saya tidak mengerti kenapa saya diperlakukan seperti ini oleh restoran pinggir jalan di Amerika," tutur Gbedemah saat itu.

Para pejabat Departemen Luar Negeri langsung meminta maaf secara terbuka atas insiden tersebut. Menurut Time magazine, di tanggal 10 Oktober, Presiden Dwight D. Eisenhower mengundang Gbedemah untuk sarapan di Gedung Putih sebagai bentuk permintaan maaf.

Gbedemah mengungkapkan harapannya secara terbuka bahwa "rakyat Ghana memahami bahwa hanya sedikit orang di AS yang bertindak seperti itu."

Diskriminasi ras di Amerika, terutama jika ditujukan kepada perwakilan dari wilayah-wilayah tersebut, disebut oleh seorang pejabat AS sebagai "titik lemah" negara tersebut.

Situasinya kian memburuk di awal 1960-an, ketika puluhan diplomat dari negara-negara baru di Afrika dan Asia menghadapi diskriminasi perumahan di Washington D.C, dan serangkaian insiden konfrontasi di restoran, tempat potong rambut, dan tempat-tempat usaha lainnya di dalam dan sekitar area tersebut. Jelas bahwa hak-hak sipil di AS menjadi isu internasional.