Viral Politikus Kanada Blunder Baca Teks Chatbot AI saat Pidato di Parlemen

Peristiwa viral ini terjadi pada 9 Juni di parlemen New Brunswick.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 08:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Ottawa - Seorang politikus Kanada viral dan menuai kritik di media sosial setelah tanpa sengaja turut membacakan kalimat balasan dari chatbot AI yang seharusnya dihapus dari naskah pidatonya.

Bill Oliver, anggota parlemen dari Partai Konservatif Progresif New Brunswick, melakukan kesalahan itu ketika berpidato di majelis legislatif. Potongan videonya kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial.

Dalam video tersebut, Oliver awalnya berbicara tentang pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga advokat publik.

"Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga advokat publik sangat penting," katanya.

Namun, setelah itu, Oliver justru membacakan kalimat balasan dari chatbot AI yang seharusnya tidak masuk ke dalam naskah pidato.

"Berikut versi yang lebih alami dan mengalir dari bagian tersebut, agar terdengar seperti pidato di parlemen, bukan sekadar kumpulan poin-poin pendek," ujar Oliver.

Peristiwa itu menggambarkan bahwa Oliver atau timnya kemungkinan memasukkan sebuah narasi ke chatbot, lalu meminta AI menyusunnya menjadi pidato. Namun, ia tidak membaca ulang naskah tersebut sebelum tampil.Kelalaian Oliver ternyata tidak berhenti di situ.

Saat melanjutkan pidatonya ke bagian evaluasi anggaran, ia membaca serangkaian pertanyaan mengenai alokasi dana masyarakat. Sialnya, tepat di bawah kalimat tersebut, masih ada teks sisa dari AI yang lupa dihapus oleh timnya.

Akibatnya, Oliver spontan ikut membacakan kalimat perkiraan panjang naskah dari AI yang berbunyi, "Bagian ini menambahkan kira-kira...". Namun, berbeda dari kesalahan pertama di mana ia terus membaca tanpa sadar, kali ini Oliver langsung menyadari kekeliruannya. Ia mendadak berhenti, mengucapkan kata "Maaf" dengan canggung di podium, lalu segera melanjutkan sisa pidatonya.

Sejumlah kritik warganet menilai penggunaan AI bukanlah masalah utamanya.

Menurut mereka, persoalan yang lebih serius adalah Oliver tidak membaca ulang pidatonya sebelum berdiri di depan parlemen. Kesalahan itu dinilai menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar memahami materi yang disampaikannya.

"Separuh politikus ini sepertinya sudah bekerja dengan mode otomatis. Sekalian saja biarkan AI yang menjalankan pemerintahan," tulis seorang warganet.

Warganet lain berkomentar, "Jadi, dia meminta seseorang menyiapkan pidatonya. Orang itu tidak menghapus teks otomatis dari AI, sementara politikusnya sendiri juga tidak membaca ulang 'pidatonya'. Dan orang seperti ini membuat undang-undang untuk kalian. Luar biasa."

"Masalah sebenarnya bukan karena dia menggunakan AI. Masalahnya, dia bahkan tidak membaca pidatonya sendiri sebelum berdiri di parlemen dan membacakan catatan penyuntingan dengan suara lantang. Ini bukan kegagalan teknologi. Ini kesalahan orang yang sudah seharusnya pensiun, sementara warga di daerah pemilihannya yang dirugikan," tulis seorang warganet.

Profil Bill Oliver

William George Oliver, atau yang lebih akrab disapa Bill Oliver, memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan Provinsi New Brunswick. Sebelum terjun sepenuhnya ke dunia politik, ia memiliki latar belakang profesional yang cukup kuat di sektor swasta, termasuk mengelola bisnis ritel dan bekerja di industri asuransi selama hampir 30 tahun.

Dalam peta politik Kanada, ia berkarier di bawah naungan Partai Konservatif Progresif New Brunswick, sebuah partai politik yang berhaluan tengah-kanan.

Karier politiknya sebagai wakil rakyat dimulai ketika ia pertama kali terpilih sebagai anggota parlemen daerah (setingkat DPRD Provinsi) untuk wilayah Kings Centre pada Pemilu legislatif tahun 2014. Berkat basis massa yang kuat di daerah pemilihannya, ia berhasil mempertahankan kursinya secara berturut-turut pada Pemilu legislatif berikutnya, yaitu pada tahun 2018 dan 2020. Selama menjabat, ia dikenal vokal memperjuangkan berbagai program kerakyatan, terutama dalam mendesak perbaikan infrastruktur jalan raya serta peningkatan fasilitas layanan kesehatan masyarakat di wilayahnya.

Seiring dengan jam terbangnya yang semakin matang, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi menteri dan struktural yang strategis. Ia pernah diangkat menjadi Menteri Transportasi dan Infrastruktur Provinsi New Brunswick periode 2018 hingga 2020. Puncak karier legislatifnya terjadi ketika ia terpilih sebagai Ketua Parlemen (Speaker) Majelis Legislatif New Brunswick. Jabatan tinggi ini ia pegang dari Oktober 2020 hingga November 2024 dengan tugas utama memimpin sidang dewan.

Saat ini, ia bertugas di barisan oposisi pemerintah dan memegang posisi sebagai Ketua Fraksi (Official Opposition Whip) yang bertanggung jawab mengatur kedisiplinan anggotanya di parlemen.