Suhu Tembus 40 Derajat Celsius, Jepang Catat Kokushobi Pertama

Kategori baru diperkenalkan di tengah tren kenaikan suhu musim panas Jepang dalam beberapa tahun terakhir.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Jepang pada Selasa (21/7/2026) untuk pertama kalinya mencatat kokushobi atau "hari dengan panas menyiksa", sejak istilah untuk suhu di atas 40 derajat Celsius itu diperkenalkan pada April.

The Guardian melaporkan Badan Meteorologi Jepang (JMA) menciptakan istilah tersebut untuk memperingatkan masyarakat akan bahaya cuaca panas ekstrem. Suhu di atas 40 derajat Celsius yang dahulu tergolong peristiwa langka kini semakin sering terjadi.

Suhu di Gujo dan Tajimi, Prefektur Gifu, serta Toyota, Prefektur Aichi, di Jepang tengah, mencapai sedikitnya 40 derajat Celsius. Gujo mencatat suhu 40 derajat Celsius, sedangkan Toyota mencapai 40,1 derajat Celsius. Keduanya menjadi rekor tertinggi di masing-masing stasiun pengamatan cuaca.

Dari 914 stasiun pengamatan cuaca di seluruh Jepang, sebanyak 278 mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius. Kondisi itu disebut moshobi atau "hari sangat panas", yang sebelumnya menjadi kategori panas tertinggi sebelum istilah baru diperkenalkan.

Hari dengan suhu di atas 25 derajat Celsius disebut natsubi atau "hari musim panas", sedangkan suhu di atas 30 derajat Celsius disebut manatsubi atau "hari musim panas terik".

Pada Senin, seorang pria berusia 40-an ditemukan meninggal di sebuah jalan di Sanjo, Prefektur Niigata. Seorang pria lain berusia 70-an juga meninggal di Kanagawa, barat daya Tokyo. Keduanya diduga meninggal akibat cuaca panas.

Jumlah kematian akibat sengatan panas untuk pertama kalinya melampaui 2.000 kasus pada 2024. Menurut Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang, lebih dari 100.000 orang dilarikan ke rumah sakit sejak awal Mei hingga akhir September tahun lalu.

 

Panas Ekstrem Pengaruhi Pertanian hingga Olahraga

Peningkatan suhu kini memengaruhi berbagai aspek kehidupan di Jepang, termasuk hasil panen dan kualitas beras yang menjadi makanan pokok masyarakat. Untuk mengatasinya, para petani mulai menanam varietas yang lebih tahan panas. Sebagian lainnya beralih ke komoditas seperti alpukat, yang selama ini belum dibudidayakan dalam skala besar di Jepang.

Dampak cuaca panas mulai terasa di bidang olahraga. Salah satu perubahan paling mencolok terjadi pada Koshien, turnamen bisbol nasional antarsekolah menengah atas yang sangat populer di Jepang.

Turnamen yang berlangsung di tengah teriknya Agustus itu sejak 2024 dibagi menjadi sesi pagi dan malam. Perubahan jadwal tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko sengatan panas bagi pemain maupun penonton.

Penelitian Institut Nasional Studi Lingkungan Jepang (NIES) dan Universitas Waseda di Tokyo pada 2025 menemukan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca secara drastis, kegiatan olahraga sekolah tidak lagi dapat dilakukan di luar ruangan pada dekade 2060-an.

Menurut JMA, suhu rata-rata musim panas di Jepang telah meningkat sekitar 1,3 derajat Celsius dalam 100 tahun terakhir. Musim panas 2023 dan 2024 sama-sama tercatat sebagai yang terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1898, sebelum rekor tersebut kembali terlampaui pada 2025.

Suhu musim panas 2025 tercatat 2,4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata selama tiga dekade sebelumnya. Sebanyak 132 stasiun pengamatan cuaca membukukan suhu rata-rata tertinggi sepanjang sejarah.

Jepang mencatat rekor suhu tertinggi baru sebesar 41,8 derajat Celsius di Isesaki, Prefektur Gunma, sebelah utara Tokyo, pada 5 Agustus 2025.   Â