Intip Cambridge Central, Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Inggris

Apa saja keunikan yang dimiliki oleh masjid ini?

Diterbitkan 22 Juli 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Raja Inggris, Charles III, mengunjungi Cambridge Central Mosque pada Senin (20/7/2026), masjid ramah lingkungan pertama di Inggris. Dalam kunjungannya tersebut, Sang Raja mengikuti tur yang dipimpin oleh direktur dari Marks Barfield, firma arsitektur yang membangun masjid tersebut, Julia Barfield dan Dr Timothy Winter, kepala yayasan.

Masjid yang diresmikan pada 24 April 2019 ini memiliki desain yang terinspirasi dari tradisi arsitektur Islam dan Inggris. Para pembangun menginginkan sebuah masjid yang tetap memiliki rasa dan elemen Inggris di abad ke-21 ini.

Dikutip dari Cambridge Central Mosque.org, Rabu (22/7), Kepala Yayasan Masjid, Abdal Hakim Murad berkata, “membangun tempat ibadah baru adalah sebuah tantangan utama, untuk menggabungkan sesuatu yang sangat kuno dan tidak termakan waktu dengan teknologi terbaru.”

Lebih dari 10 tahun waktu untuk membangun mahakarya pionir masjid ramah lingkungan ini, seakan-akan tumbuh secara alami dari wilayah sekitarnya dan merayakan rasa cinta kami terhadap keindahan.

Beberapa tahun sebelumnya pada 2009, Marks Barfield Architects memenangkan kompetisi untuk membuat desain bangunan dengan konsep oasis yang tenang di tengah pepohonan rindang. Mereka pun berkolaborasi dengan para desainer lain hingga menciptakan bangunan yang memiliki sintesis unik.

Di sisi lain, ciri khas utama dari Masjid ini adalah struktur kayunya. Terdapat pilar-pilar atau ‘pohon’ yang menjulang tinggi untuk menopang atap dalam struktur kubah kisi segi delapan yang saling menyambung, seperti kubah kipas Gotik Inggris yang digunakan di Kapel King’s College dekat situ. Kayu yang digunakan adalah kayu cemara yang diperoleh secara berkelanjutan, dibentuk melengkung dan dilaminasi. 

Jendela atap terletak di atas ‘pohon-pohon’ tersebut, menciptakan ruang salat yang penuh cahaya. Kemudian, geometri segi delapan memiliki arti simbolis yang kuat dalam seni islam, melambangkan siklus menghirup dan menghembuskan napas, atau ‘Nafas Ilahi.’

Para jamaah atau pengunjung memasuki area masjid melalui taman islami sebelum melewati serambi atap dan kemudian atrium. Secara bertahap hal ini mempersiapkan mereka untuk merenungkan ruang salat yang menghadap Mekkah.

Kombinasi antara taman dan air mancur dan ruang ibadah berkubah ini sudah digunakan dalam sejarah Islam, salah satunya di Alhambra. Hal ini mengingatkan kita akan hubungan antara manusia dan alam.

 

Lingkungan Masjid

Masalah lingkungan sudah menjadi pertimbangan untuk desain dari masjid baru di Cambridge ini. Para Muslim memiliki rasa untuk melindungi alam yang kuat, sebab alam adalah pemberian Sang Pencipta.

Bangunan ini disinari terus menerus secara alami oleh cahaya melalui atap yang berukuran besar, dilengkapi dengan lampu LED yang hemat energi. Kemudian sel surya di atap membantu menghasilkan energi terbarukan dari sinar matahari.

Selain memiliki isolasi termal yang baik dan ventilasi alami, masjid ini dipanaskan dan didinginkan menggunakan energi yang dihasilkan mandiri, menggunakan pompa panas berdaya tinggi di ruang bawah tanah.

Lalu, air limbah domestik dan air hujan ditampung dan dipakai untuk menyiram toilet adn mengairi lahan. Jejak karbon masjid yang sudah rendah akan semakin berkurang seiring waktu dan tersedianya listrik dari sumber energi terbarukan.

Ada juga ruangan luas untuk sepeda dan aksesnya mudah untuk pejalan kaki. Tempat parkir bawah tanah juga membebaskan ruang di lokasi untuk masjid dan tanaman. Sementara taman dan kafe di dalamnya menciptakan ruang yang ramah bagi seluruh anggota masyarakat. Penekanan keberlanjutan dan ketergantungan tinggi pada energi hijau menjadikan masjid ini sebagai masjid ramah lingkungan pertama di Eropa dan bangunan ikonik untuk kota Cambridge dan penduduknya yang beragam.

 

Taman Masjid

Taman di masjid ini terletak di bagian depan masjid dan terbuka untuk umum. Ini menjadi tempat transisi antara kota dan tempat ibadah tersebut, seperti Taman Surga yang ditulis di Qur’an.

Ciri utamanya adalah air mancur yang berbentuk segi delapan, bekerja sama dengan seorang pakar air, Andrew Ewing karena air yang mengalir adalah elemen penting di Paradise Garden.

Terdapat pula bangku-bangku kayu ek yang berlekuk, tempat para pengunjung dapat duduk sambil menikmati gemericik dan aliran air, warna dan aroma bunga, serta keteduhan pepohonan.

Di kedua sisi area air mancur terdapat taman chahar-bagh (taman empat bagian) kecil yang dihiasi pohon apel liar dan dipenuhi tanaman musiman yang beragam.

Kemudian ada pagar tanaman yew yang mengelilingi hamparan tanaman tahunan bergaya naturalistik dan mawar damask yang lebat, menciptakan kesan berupa pola, warna, aroma, dan tekstur yang santai dan menyerupai karpet dalam geometri yang kuat. Dengan begitu, tercapai keseimbangan harmonis antara struktur Islami dan penanaman ala Inggris yang santai.

Terdapat pula Kebun Komunitas di luar wilayah masjid di Mill Road yang buka untuk publik kapanpun, sudah ditanami oleh pohon birch serta semak-semak dan bunga-bunga.