Ikan Louhan Invasi Danau di Filipina, Ancam Ekosistem

Ikan Flowerhorn lepas ke danau dan mengancam ekosistem.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Manila - Seekor ikan hias akuarium telah bercampur dengan ekosistem lokal di Filipina. Para ilmuwan berpendapat bahwa mereka berbahaya dan dapat mengancam biodiversitas asli danau tersebut.

Dikutip dari The Guardian, Rabu (22/7/2026), ikan tersebut berjenis cichlids Flowerhorn atau ikan Louhan. Mereka adalah ikan yang dikembangbiakkan oleh manusia secara hibrida karena warnanya yang cantik dan ciri khas benjolan di kepala. 

Ikan ini menjadi ancaman pasalnya ia dipercaya kabur dari penangkaran menuju Danau Sampaloc, yang terletak di kawah gunung berapi saat terjadi topan.

Di dalam danau tersebut, ikan budidaya utama adalah nila, yang mendukung produksi dan perdagangan pangan lokal. Penelitian yang dilakukan oleh Hannah Nicole G Gasmen dan Dr. Janice A Ragaza dari Universitas Ateneo de Manila menemukan bahwa ikan flowerhorn dimasukkan ke dalam sistem budidaya perikanan yang ada karena mereka bisa bertahan hidup dalam kondisi sulit.

Kemudian, ikan louhan yang telah membentuk populasi liar dan masuk ke keramba ikan nila terkadang akan dipelihara dan dijual ke pedagang ikan hias, sementara beberapa penduduk sekitar sengaja membiakannya.

Namun, dalam penelitian itu tertulis bahwa sengaja mengembangbiakkan mereka dan menjualnya bisa memperluas populasi spesies invasif yang sudah ada.

Di sisi lain, Danau Sampaloc yang memiliki luas sekitar 104 hektar sudah mengalami tekanan akibat limbah domestik, limpasan air rumah tangga, nutrisi dari budidaya perikanan, dan sampah plastik. Hal ini menyebabkan sangat rentan terhadap spesies invasif.

Ikan tersebut dapat berkembang biak dengan subur di perairan eutrofik dan tercemar seperti itu, serta dapat bersaing untuk mendapatkan makanan, tempat berlindung dan tempat reproduksi.

Ikan ayungin asli, atau yang biasa disebut kakap perak, dulunya sering ditangkap tapi sekarang semakin langka dan telah diklasifikasikan sebagai spesies terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature.

“Habitat yang rusak akibat aktivitas manusia umumnya paling rentan terhadap invasi, dan biasanya diinvasi oleh spesies generalis,” kata kurator senior bidang ikan di Natural History Museum, Rupert Collins. “Ikan cichlid sangat berhasil dalam beradaptasi. Mereka adalah contoh klasik bagaimana fenotipe baru dapat muncul dengan sangat cepat.”

 

Kemungkinan Kemunculan Parasit

Selain itu, kekhawatiran lain yang muncul adalah kemungkinan adanya parasit. Banyak ikan flowerhorn di penangkaran diketahui memiliki Paracapillaria philippinensis, sebuah cacing yang mampu menyerang manusia.

Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa beberapa orang yang memancing ikan cantik tersebut sebagai hobi dan diolah menjadi makanan. Walaupun parasit tersebut belum ditemukan pada ikan flowerhorn di Danau Sampaloc, para peneliti menyarankan agar ikan tersebut tidak dikonsumsi oleh manusia.

Menurut Collins, penelitian ini juga menyoroti masalah yang lebih luas. “Ini hanyalah satu danau di Filipina, tapi pelepasan spesies di luar wilayah alaminya merupakan salah satu penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati di seluruh dunia,” ucap Collins.

Seorang dosen ilmu lingkungan perairan di Universitas Stirling, Dr Noël Juvigny-Khenafou yang tak terlibat dalam penelitian ini mencatat bahwa perubahan iklim juga dapat memperkeruh masalah tersebut. “Perubahan iklim dapat mengubah lokasi budidaya perikanan dan spesies apa yang dapat dibudidayakan,” ucapnya. “Hal itu bisa berarti pergeseran produksi antar wilayah dan lebih banyak spesies yang tidak asli diperkenalkan ke tempat-tempat baru.”

Ia juga berpendapat bahwa penelitian ini memunculkan beberapa pertanyaan seperti, “Apakah spesies yang diperkenalkan itu mengarah pada keruntuhan ekosistem, atau justru menjadi bagian dari komunitas ekologi yang baru?”

Para peneliti mengusulkan solusi jangka panjang, seperti kandang yang lebih kokoh, jaring dengan lubang lebih halus, penghalang luapan, inspeksi rutin, dan pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat. 

Mereka juga menyarankan agar ikan invasif dapat ditangkap untuk dijadikan pakan ikan, tentunya dengan syarat telah menjalani pemeriksaan terhadap patogen, logam berat, dan mikroplastik.

“Menjaga dan melestarikan ekosistem perairan kita memerlukan pendekatan kolaboratif antara masyarakat, lembaga penelitian, dan pembuat kebijakan,” tutur Gasmen.