Israel Ancam Balas Kekuatan Penuh jika Iran Tembakkan Rudal ke Wilayahnya

Ancaman Israel muncul ketika serangan balasan Iran menargetkan sejumlah negara sekutu AS.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 08:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel memperingatkan akan membalas Iran dengan "kekuatan penuh" jika rudal Teheran menghantam wilayahnya. 

Pada Minggu (19/7/2026), Iran dilaporkan meluncurkan rentetan rudal balistik ke sejumlah negara Arab sekutu Amerika Serikat (AS). Serangan itu untuk kedua kalinya dalam dua hari menyasar pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Kuwait, serta sejumlah lokasi di Yordania dan Bahrain.

Sirene serangan udara meraung di Amman ketika Yordania menyatakan telah menembak jatuh tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayahnya. Israel memperingatkan bahwa serangan tersebut dapat merembet ke wilayahnya dan kembali memicu konflik langsung di kawasan. Konflik semacam itu sebelumnya masih dapat dibendung, meski ketegangan antara pemerintahan Trump dan Iran kembali melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

"Jika Iran menembakkan rudal ke Israel, kami akan menyerang mereka dengan kekuatan penuh," kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Minggu seperti dilaporkan The Guardian.

Ia menambahkan, Israel siap mengambil langkah baik defensif maupun ofensif. Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa AS diperkirakan akan mengirim puluhan pesawat pengisi bahan bakar tambahan ke Israel sebagai bagian dari penguatan postur militernya di kawasan.

Sejak April, serangan langsung antara Iran dan Israel semakin jarang. Pada periode yang sama, Trump berupaya mempertahankan gencatan senjata agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan aliran minyak melalui jalur perairan strategis tersebut kembali berjalan.

Namun, Trump kini beralih menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran.

"Gerbang NERAKA kini telah DIBUKA dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan atau saksikan sebelumnya," tulis presiden AS itu dalam unggahan di media sosial pada Minggu.

Eskalasi terbaru terjadi setelah dua tentara AS tewas dalam serangan Iran terhadap sebuah pangkalan udara di Yordania pada Jumat (17/7). Peristiwa itu menjadi salah satu hari paling mematikan bagi pasukan AS sejak perang dimulai.

Komando Pusat AS atau CENTCOM mengatakan seorang tentara lainnya masih dinyatakan hilang setelah Iran melancarkan serangan drone dan rudal. Serangan Iran itu terjadi menyusul operasi militer AS selama beberapa hari terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang bertujuan menekan Teheran agar mengalah dalam perundingan mengenai program nuklirnya.

CENTCOM pada Minggu mengumumkan AS telah menuntaskan serangan hari kedelapan. Operasi itu menargetkan fasilitas pengawasan pesisir dan pertahanan udara Iran, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran.

Serangan tersebut juga dimaksudkan untuk "menghukum" Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) atas tewasnya personel militer AS.

Sejak awal perang, Trump telah mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Banyak pengamat menilai tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

AS membantah telah menyasar infrastruktur sipil. Namun, foto dan video yang beredar memperlihatkan kerusakan besar di sejumlah lokasi sipil dalam beberapa hari terakhir.

Teheran pada Minggu menyatakan lebih dari 40 orang tewas akibat berbagai serangan sepanjang bulan ini. Iran menuduh AS menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir yang tengah dibangun di Darkhovin, sebuah kota di wilayah barat daya negara tersebut.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan lokasi itu tidak menyimpan material nuklir. Meski demikian, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyerukan agar semua pihak menahan diri dari tindakan militer di sekitar lokasi-lokasi yang berkaitan dengan kegiatan nuklir.

Â