Israel Batasi Akses Muslim ke Masjid Al-Aqsa pada Peringatan Hari Yerusalem

Pada 15 Mei 2026, warga Palestina berkabung atas Nakba, sedangkan Yahudi berpesta merayakan pencaplokan Yerusalem.

Diterbitkan 14 Mei 2026, 19:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yerusalem - Aparat keamanan Israel menutup sebagian besar akses warga muslim Palestina ke Masjid Al-Aqsa pada Kamis (14/5/2026). Pembatasan ketat ini diberlakukan saat ribuan warga Israel ultranasionalis memasuki kawasan Kota Tua Yerusalem untuk menggelar "Pawai Bendera" dalam rangka memperingati "Hari Yerusalem" yang jatuh pada 15 Mei.

Selama rangkaian kegiatan berlangsung, kawasan Kota Tua di Yerusalem Timur yang diduduki nyaris lumpuh total. Otoritas keamanan memaksa toko-toko milik warga Palestina tutup dan memerintahkan penduduk setempat untuk tetap berada di dalam rumah.

"Barikade keamanan dan pembatasan sekarang jauh lebih ketat daripada sebelumnya," ujar seorang pegawai Wakaf Islam Yerusalem—lembaga yang mengelola Masjid Al-Aqsa—kepada Middle East Eye (MEE).

Pembatasan Ketat Sejak Subuh

Penjagaan ketat di seluruh pintu masuk Masjid Al-Aqsa sudah dimulai sejak usai salat Subuh. Polisi memeriksa jemaah yang hendak masuk, menyita kartu identitas, serta melarang laki-laki berusia di bawah 60 tahun dan perempuan di bawah 50 tahun untuk memasuki kompleks.

Sumber lokal melaporkan adanya tindakan kekerasan oleh aparat terhadap sejumlah jemaah berupa dorongan dan pemukulan. Setelah salat Subuh selesai, sebagian besar warga Palestina dipaksa keluar dari area masjid, menyisakan hanya sebagian kecil staf Wakaf Islam di dalam kompleks.

Setelah kawasan steril dari jemaah Palestina, kelompok-kelompok warga Israel ultranasionalis memasuki kompleks Al-Aqsa dengan pengawalan ketat polisi. Sedikitnya 800 warga Israel dilaporkan memasuki area tersebut pada pagi hari, dan gelombang massa terus berdatangan sepanjang hari.

Selama berada di sana, para peserta melakukan ritual ibadah dan mengibarkan bendera Israel.

 

Pengikisan Status Quo

Masjid Al-Aqsa merupakan situs paling suci ketiga dalam Islam. Lokasinya berada di atas dataran tinggi yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai Temple Mount, tempat berdirinya Kuil Pertama dan Kuil Kedua di masa lalu.

Berdasarkan pengaturan khusus (status quo) yang diakui internasional, kompleks Al-Aqsa ditetapkan sebagai tempat ibadah khusus umat Islam. Kewenangan penuh atas akses masuk, pelaksanaan ibadah, dan pemeliharaan kawasan berada di bawah kendali Wakaf Islam. Namun, Israel dinilai terus mengikis aturan tersebut dengan membuka akses masuk harian bagi kelompok pemukim dan mengizinkan ibadah umat Yahudi dilakukan secara terbuka di sana.

Sejumlah pejabat tinggi Israel juga ikut memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Kamis. Di antaranya adalah anggota parlemen dari Partai Likud, Ariel Kallner, serta Menteri Pengembangan Wilayah Pinggiran, Negev, dan Galilea, Yitzhak Wasserlauf, dari partai radikal Otzma Yehudit.

"Orang Yahudi tidak lagi berjalan di Temple Mount seperti pencuri dan tidak lagi perlu bersembunyi," tegas Wasserlauf pada Kamis.  

Hari Nakba dan Izin Salat Jumat

Hari Yerusalem diperingati untuk menandai pendudukan Yerusalem Timur oleh Israel dalam Perang Enam Hari 1967. Setelah itu, Israel menyatakan penyatuan Yerusalem Timur dengan Yerusalem Barat, yang direbut milisi Zionis pada peristiwa Nakba 1948—peristiwa pengusiran lebih dari 750.000 warga Palestina dari tanah mereka.

Salah satu agenda utama dalam peringatan tersebut adalah "Pawai Bendera", yakni pawai tahunan yang melintasi Kota Tua Yerusalem, termasuk kawasan yang mayoritas dihuni warga Palestina. Pawai ini kerap memicu ketegangan karena sering diwarnai slogan bernada rasis dan Islamofobia, penyerangan terhadap warga Palestina, serta aksi perusakan properti.

Rangkaian peringatan tahun ini berlangsung dari Kamis malam hingga Jumat (15/5) malam dan bertepatan dengan Hari Nakba.

Puncak acara yang jatuh pada hari Jumat menimbulkan kekhawatiran baru. Biasanya, penyerbuan kelompok Yahudi ke Al-Aqsa dihentikan pada hari Jumat untuk memberikan kesempatan umat Islam melaksanakan salat Jumat. Namun, sejumlah menteri kabinet senior—termasuk Menteri Kehakiman Yariv Levin, Menteri Pertahanan Israel Katz, dan Menteri Energi Eli Cohen—telah menyurati komisaris polisi agar kelompok Israel tetap diizinkan masuk pada hari Jumat.

"Tidak dapat diterima jika pada hari pembebasan Yerusalem dan Temple Mount, orang Yahudi sepenuhnya dilarang mengakses situs paling suci kami," tulis para menteri dalam surat tersebut.

Seorang warga Yerusalem yang meminta identitasnya dirahasiakan menyatakan adanya kekhawatiran besar bahwa pemaksaan masuk pada hari Jumat ini akan memperkuat kendali penuh Israel atas Al-Aqsa secara permanen.

Sementara itu, Ir Amim, kelompok hak asasi manusia Israel yang berfokus pada isu Yerusalem, mengecam keras dukungan pemerintah terhadap gerakan Temple di kalangan penyelenggara pawai. Gerakan ini merupakan aliansi kelompok yang rutin mengorganisasi serbuan ke Al-Aqsa dan secara terbuka menyerukan penghancuran masjid untuk membangun Kuil Ketiga.

"Dengan dukungan besar dari pemerintah saat ini, para aktivis Temple berpotensi mencoba memasuki kompleks secara paksa, merusak situs suci Muslim, atau menyerang warga Palestina," tulis Ir Amim dalam pernyataannya. "Ketika polisi yang seharusnya menjaga ketertiban justru mendukung gerakan ini, tidak ada lagi instansi yang dapat mencegah aksi sepihak mereka."