Harga Balon Gas untuk Perlengkapan Pesta di Singapura Alami Kenaikan Imbas Perang Timur Tengah

Pengusaha balon gas di Singapura mengaku mulai merasakan dampak akibat perang di Timur Tengah.

Diterbitkan 20 April 2026, 16:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Singapura - Harga balon gas di Singapura mengalami lonjakan signifikan hingga 40 persen dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan helium global akibat konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Helium merupakan sumber daya terbatas yang umumnya dihasilkan sebagai produk sampingan dari produksi gas alam. Negara produsen utama seperti Amerika Serikat dan Qatar memegang peranan penting dalam pasokan dunia, dengan Qatar menyumbang sekitar sepertiga kebutuhan global. Namun, serangan terhadap fasilitas gas di negara tersebut dilaporkan mengganggu produksi dan ekspor, sehingga memperketat distribusi helium.

Pelaku usaha di sektor perlengkapan pesta mengaku mulai merasakan dampaknya. Salah satu perusahaan, Misty Daydream, mencatat harga tangki helium meningkat hingga 40 persen dibandingkan sebelum konflik. Pendiri sekaligus direktur pelaksana, Tan Jia Jun, mengatakan pasokan yang sebelumnya bergantung pada Qatar kini harus dialihkan ke sumber lain.

Kondisi serupa dialami SGballoons. Salah satu pendirinya, Ng Wei Sheng, menyebut harga pembelian terakhir naik sekitar 27 persen per tangki. Selain itu, pemasok juga menaikkan jumlah minimum pemesanan dari satu menjadi empat tangki, dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (20/4/2026).

“Kami harus membayar lebih mahal setiap kali mengisi ulang stok dan menyediakan ruang penyimpanan tambahan untuk jumlah tangki yang lebih besar,” ujarnya.

Selain gangguan pasokan, kenaikan harga bahan bakar turut menambah beban biaya operasional. Misty Daydream melaporkan biaya operasional meningkat hingga 60 persen sejak Februari, seiring melonjaknya harga solar dan meningkatnya permintaan layanan pengiriman. Saat ini, sekitar 80 persen pesanan pelanggan menggunakan layanan antar, meningkat dari sebelumnya sekitar 20 persen.

Meski menghadapi tekanan biaya, pelaku usaha masih menahan kenaikan harga kepada konsumen dengan menyerap sebagian beban tersebut.

Untuk mengantisipasi kondisi ini, sejumlah perusahaan mulai mencari alternatif dengan mengurangi ketergantungan pada helium. Misty Daydream, misalnya, memperluas produk non-helium yang kini mencapai sekitar 20 persen dari total penawaran. Produk tersebut memanfaatkan udara biasa dengan desain tertentu untuk meniru tampilan balon mengambang.

 

Persedian Helium dari Pemasak di Jepang hingga China

Sementara itu, SGballoons menyebut porsi produk berbasis helium kini turun menjadi sekitar 40 persen, dari hampir 100 persen lima tahun lalu. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan pemasok di Jepang, Tiongkok, dan Amerika Serikat guna mengembangkan material balon yang lebih efisien dalam penggunaan helium.

Kenaikan harga helium sendiri telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk akibat dampak Perang Rusia-Ukraina yang turut mengganggu pasokan global.

Pelaku industri menyatakan masih akan memantau perkembangan sebelum menaikkan harga jual. Namun, jika tekanan biaya terus berlanjut, konsumen diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga untuk kebutuhan pesta dan perayaan.