Korea Utara Tuduh Jepang Lakukan Provokasi Serius, Ini Sebabnya

Korea Utara dan Jepang adalah dua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.

Diterbitkan 15 April 2026, 11:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara pada Rabu (15/4/2026) menuduh Jepang melakukan "provokasi serius" setelah Tokyo kembali menegaskan penolakannya terhadap program nuklir Pyongyang dalam Buku Biru Diplomatik 2026.

Melansir laporan CNA, Kementerian Luar Negeri Jepang merilis Buku Biru Diplomatik 2026 pada pekan lalu. Dokumen tersebut memuat pandangan resmi kebijakan luar negeri Jepang, termasuk penegasan kembali penolakan terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Korea Utara.

Menanggapi hal itu, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa posisi Jepang merupakan "provokasi serius yang melanggar hak kedaulatan, kepentingan keamanan, dan hak pembangunan negara kami." Pernyataan ini disampaikan melalui kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA).

Dalam pernyataannya, Korea Utara menegaskan bahwa langkah-langkah untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara "merupakan hak untuk membela diri." Pyongyang juga menyebut isi buku biru Jepang sebagai sesuatu yang "dipenuhi logika ala gangster dan absurditas."

Korea Utara berulang kali menegaskan tidak akan melepaskan arsenal nuklirnya. Negara tersebut bahkan menyebut jalur pengembangan nuklirnya "tidak dapat diubah" dan berjanji akan terus memperkuat kemampuannya.

Jepang dalam dokumen yang sama menyatakan pula kekhawatirannya atas dugaan pengiriman pasukan dan amunisi dari Korea Utara ke Rusia untuk membantu perang melawan Ukraina.

Di sisi lain, Jepang juga menurunkan penilaiannya terhadap China untuk pertama kalinya dalam satu dekade, dengan menyebut Beijing sebagai "tetangga penting" alih-alih "salah satu mitra terpenting Jepang."

Perubahan ini mencerminkan memburuknya hubungan antara Tokyo dan Beijing, terutama setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu mengindikasikan bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.

China sendiri memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan untuk merebutnya dengan kekuatan militer.